Suamiku Kekasih Sahabatku

Suamiku Kekasih Sahabatku
Bab 36


__ADS_3

"Mirna?" seru Revan kaget, saat melihat dengan siapa dia bertabrakan.


"Kamu Revan?" ucap Mirna juga tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya.


"Maaf, aku terburu-buru. Jadi tidak fokus pada jalan, " ucap Revan memberi alasan. Lalu Revan memungut berkas yang jatuh dari tangan, Mirna.


"Tidak apa-apa. Dunia ini ternyata terlalu sempit, sehingga kita dipertemukan kembali," ucap Mirna terseyum kecut.


"Eh, iya. Lama tak jumpa, apa kabar," sapa Revan dengan suasana kaku. Revan merasa serba salah, untuk sekedar berbasa-basi. Apalagi karena situasinya yang terburu- buru.


"Sampai jumpa, sepertinya kita akan lebih sering bertemu kedepannya," ungkap Mirna tersenyum penuh misteri, dan berlalu dari hadapan Revan.


Revan yang lebih fokus pada ponselnya karena terus berdering sedari tadi, mengabaikan saja ucapan Mirna. Bergegas dia pergi ke tempat parkir, putranya Kevin sudah tak sabar dengan kehadiran papanya. Karena hari ini adalah ulang tahunnya yang keenam.


Sesampai di rumah, belum lagi Revan mematikan mesin mobil. Kevin telah berlari menerobos pintu gerbang menyambut kedatangan papanya.


"Papa kenapa pulangnya, lama. Kevin udah tungguin sedari tadi." Rengek Kevin seraya mengikuti langkah papanya, hingga ke garasi.


"Maafkan Papa ya, sayang. Tadi Papa sibuk kerja," ucap Revan seraya mengelus kepala putranya. Kevin membawakan tas papanya masuk, ke rumah. Meletakkannya di atas meja di ruang tamu.


"Ma....Mama....!" teriak Kevin lantang. "Papa dah, pulang, Ma," seru Kevin menyusul Dara ke dapur. Dara yang tengah menyiapkan makan malam dan kue ultah Kevin di meja, bergegas menuju ke ruang tengah. Untuk menyambut kedatangan suaminya.


Dara mencium punggung tangan suaminya. Lalu mengambil tas kerjanya yang di letakkan Kevin di atasa meja.


"Papa kenapa lama, tadi papa udah janji mau cepat pulang," protes Kevin lagi, duduk merengut di sofa. Revan menghampiri putranya, lalu membawanya dalam gendongan.


"Maafin Papa, ya, Nak. Tadi Papa juga terjebak macet dinjalan," Revan mencium pipi putranya yang merajuk. "Ayo, kita rayakan ulang tahunmu. Pasti, Mama, udah masak enak 'kan? Aromanya udah mengoda, Papa dah laper, nih," Revan membawa Kevin ke ruang makan.


Kevin sangat bersuka cita dengan perayaan ulang tahunnya, meskipun dirayakan sederhana. Hanya mereka bertiga yang merayakan, di rumah pula.


"Ayo, Kevin, berdoa dulu sebelum tiup lilinnya," ucap Revan dan Dara bersamaan. Kevin menutup mata, mulutnya komat- komat merapalkan doa. Melihat gaya Kevin yang rada lucu, Revan dan Dara hanya tersenyum.


"Duh, Kevin doanya apa aja sih, lama banget?" tanya Revan. Setelah Kevin selesai berdoa dan meniup lilin.


"Ada, deh. Rahasia!" serunya mengembangkan senyum.


"Anak, Papa, udah pinter ya, main rahasia," decak Revan. Kevin tertawa lucu. "Betul gak mau bocorin rahasianya, sama Papa," goda Revan.

__ADS_1


Kevin lansung mendekat ke Papanya, lalu membisiki sesuatu pada Revan.


Revan membulatkan matanya, begitu Kevin berbisik ke telinganya. Detik berikutnya Revan, terbahak. Dara yang tidak tahu apa-apa, jadi penasaran melihat tingkah suami dan anaknya.


"Apaan sih, ketawa berdua saja," ucap Dara pura- pura kesal.


"Rahasia kami berdua, Ma. Gak boleh dibagi-bagi. Iya, 'kan, Vin," ujar Revan, seraya mengangkat tanganya toas sama Kevin.


"Rahasia para lelaki, Ma," teriak Kevin membuat Dara terpingkal.


"Hem, mentang- mentang cuma Mama perempuan, gak dianggap ya," Dara menirukan gaya orang menangis.


"Kacian deh, Mama," kekeh Kevin. "Eh, Kevin lupa potong kuenya, Pa." Kevin mengambil pisau dan memotong kuenya. "Ini, Pah." Kevin menyuapi sepotong kue ultahnya ke Papanya.


"Lho, harusnya Kevin yang disuapin. Malah kebalik," sebut Revan, lalu gantian menyuapi Kevin.


"Ini buat, Mama," ucap Kevin menyuapi Dara.


"Makasih, sayang." Dara juga balik menyuapi Kevin, memeluk dan menciumnya penuh kasih.


"Apa itu, Pa? Besar kali kado Papa!" seru Kevin riang sekaligus penasaran.


"Coba tebak, Papa kasih hadiah apa?" ucap Revan.


"Apa itu, Ma?" Kevin meminta tolong sama mamanya.


"Mana Mama tau, yang beli 'kan, Papa," kekeh Dara.


"Iih, Papa dan Mama kompak ngerjain, Kevin." Rungut Kevin, pura-pura ngambek. Mulutnya sampai dimajukan beberapa centi.


"Nanti, aja buka kadonya, ya. Sekarang kita makan dulu. Papa dah lapar, liat masakan enak, Mama," ujar Revan, mengalihkan perhatian Kevin pada kadonya.


Dara menyendokkan nasi serta lauk ke piring Revan dan Kevin, lalu ke piringnya.


"Sebelum makan kita berdoa, dulu," ucap Revan, lalu memimpin doa. Setelah itu, ketiganya menikmati makan malam dengan penuh syukur. Terutama karena bertambahnya umur Kevin satu satu tahun.


***

__ADS_1


"Tadi, Kevin bisikin apa sih, sama Abang, sampai ngakak begitu," tanya Dara, saat menjelang tidur.


"Mama, penasaran ya, dengan doa Kevin?" goda Revan, sambil menahan senyum.


"Iya, abis Abang, ketawa. Pastinya lucu, gitu," tukas Dara.


"Katanya dia, minta adek, dalam doanya," ujar Revan. "Tuh, anak bukan main, ada-ada saja."


"Oh, itu tadi yang dia bisikin sama, Abang?" beliak Dara. "Ya, ampun," seru Dara ngakak.


"Iya, Kevin minta adik. Gimana, Dek, setuju gak," goda Revan. Menatap istrinya dengan senyum mautnya.


"Ih, dasar mesum," Dara melemparkan bantal ke arah suaminya. Revan menangkapnya, lalu balik melempar Dara, seraya menggelitik istrinya. Dara menjerit tak tahan di gelitik.


"Ampun, Bang. Hup...," Dara tak mampu mengelak, saat suaminya menyerangnya dengan ci***an panjang. Suara tawanya berubah jadi des**an nikmat.


***


"Van, kita berhasil menang tender dengan, Mitra Kita," seru Tino begitu, Revan tiba di ruang kerjanya.


"Yang bener, tau dari mana?" tukas Revan kurang percaya.


"Barusan, masuk notif di Wa. Si Bos, yang ngasih tau."


"Oh, ya. Aku belum liat," Revan mengambil ponsel dari kantong jasnya. Membuka aplikasi berlambang telepon hijau. Benar, ada notif masuk. " Iya, ada juga notif masuk. Kita di suruh ke ruangan, Bos. Mana, Rossi?" tanya Revan karena belum melihat Rossi di ruangan.


"Bentar juga datang. Masih di jalan, katanya."


"Ok, kita tunggu saja."


Revan merasa kaget juga, karena mereka lolos saat presentasi kemarin. Apalagi jadwal pengumumannya mundur seminggu. Sebenarnya Revan sudah pesimis, tidak bakalan berhasil.


Mengingat, Ceo perusahaan 'Mitra Kita' adalah Mirna. Wanita yang di kenalnya delapan tahun lalu. Mirna juga adalah mantan istrinya, secara paksa. Karena dia dijebak oleh Mirna.


Lima tahun lalu, Mirna menghilang dan sejak itu, Revan tidak pernah mendengar kabar beritanya lagi. Kini tiba-tiba saja muncul lagi dalam kehidupannya. Mereka nantinya akan bekerja sama dalam menjalankan bisnis.


Entah apa yang terjadi dengan kehidupan Mirna dalam kurun waktu lima tahun ini. Melihat kenyataan dia sekarang menjadi Ceo, dan akan bermitra dengan perusahaan mereka. Mau tak mau menimbulkan tanda tanya besar dibenak, Revan. ***

__ADS_1


__ADS_2