
Linda dan Aruna suda kembali ke rumah mereka. Dengan hati-hati Linda menggendong Aruna dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kaki Aruna di jahit di dekat pergelangan kakinya sehingga dia kesulitan untuk berjalan.
"Sakit?" tanya Linda setelah meletakkan tubuh Aruna di tempat tidur. Sampai sekarang Aruna sama sekali tidak menangis, bahkan tadi ketika dokter sedang menangani lukanya dia juga tidak menangis.
"Sedikit," jawab Aruna pendek.
Linda melihat wajah Aruna murung. "Tidak apa-apa, nanti kamu tetap bisa berangkat sekolah. Ibu akan menggendong kamu sampai sekolah kalau kamu tetap ingin berangkat."
"Apa aku menghabiskan uang Ibu?" Rupanya bukan sekolah yang dikhawatirkan Aruna, melainkan uang ibunya.
Linda tertegun mendengar pertanyaan Aruna.
"Kenapa bicara seperti itu Runa?"
"Ibu sedang tidak punya uang tetapi ibu membawaku berobat ke rumah sakit. Maafkan Runa Bu, lain kali Runa akan lebih berhati-hati," ucap Aruna sambil menundukkan wajahnya.
Mata Linda berkaca-kaca. "Tidak sayang ... Kamu tidak menghabiskan uang ibu. Kalau sampai uang ibu habis pun ibu tidak masalah jika itu untuk Runa. Itu cuma uang, ibu bisa cari lagi. Tapi Runa hanya satu-satunya milik ibu. Kalau ibu kehilangan Runa, ibu tidak akan mendapatkan gantinya," balas Linda dengan suara serak. Aruna adalah anak yang lebih mengerti dirinya dibandingkan suaminya.
Tanpa ragu Aruna langsung memeluk Linda. "Terima kasih Ibu."
Malam harinya...
"Baru pulang Mas?" sambut Linda begitu Erik memasuki rumah.
"Tadi kenapa telepon? Aku sedang mengantar penumpang." Sepertinya Erik tidak membaca pesan dari Linda .
"Aruna jatuh, terus kakinya terluka. Tadi aku ingin kamu mengantarkan Runa ke rumah sakit."
"Sekarang dimana?" tanya Erik tanpa menunjukkan rasa khawatir sedikit pun.
"Ada di kamarnya. Kakinya di jahit, mungkin masih sakit untuk berjalan."
Erik berjalan menuju kamar Aruna diikuti Linda di belakangnya
Dia menghampiri Aruna yang sedang duduk di tempat tidur sambil membaca buku pelajarannya lalu melihat perban yang menutupi jahitan di kakinya.
"Tidak parah," gumam Erik. "Tidak sakit kan?". Aruna menggeleng.
"Tuh Lin, nggak sakit kok. Kamu saja yang berlebihan." Erik berdiri dan hendak keluar dari kamar Aruna. "Kamu tidur ya, ayah juga mau tidur."
"Lin, uangnya sudah ada belum?" tanya Erik sebelum keluar dari kamar Aruna. Bisa-bisanya hanya itu yang Erik pikirkan setelah melihat kondisi anaknya.
__ADS_1
"Belum Mas ... "
"Kamu usahakan ya, masih ada satu hari lagi," ucap Erik sambil berlalu.
Erik bahkan tidak menanyakan uang untuk membayar biaya rumah sakit Aruna. Tetap dia justru menanyakan uang untuk membayar cicilan mobilnya.
Setelah Aruna mengalami kecelakaan, Linda tidak bisa fokus menjahit. Waktunya habis untuk mengurus Aruna karena Erik tidak mau membantu. Targetnya untuk menyelesaikan enam potong pakaian pun gagal terlaksana.
Hingga hari yang sudah ditentukan Erik tiba, Linda hanya bisa mengumpulkan tiga ratus ribu ditambah uang sisa berobat Aruna kemarin.
"Mana Lin uangnya?" Erik langsung menanyakan uang begitu tiba di rumah. Dia tidak peduli Linda yang sedang mengoles salep ke luka Aruna.
Linda tidak menjawab. Dia segera menyelesaikan kegiatannya mendengar pertanyaan Erik. Lalu dia ingin menggendong Aruna kembali ke kamarnya karena sekarang mereka sedang berada di ruang tengah. Linda tidak ingin Aruna melihat Erik memarahinya, lagi.
"Runa bisa berjalan sendiri Ma," ucap anak kecil itu.
"Nggak sakit?" tanya Linda ragu.
"Runa harus belajar jalan kan Ma?" Sebenarnya Linda ingin tetap menggendong Aruna.
"Jangan terlalu dimanjakan Ris, biarkan dia melakukannya sendiri," tambah Erik.
"Jadi, mana uangnya?" tanya Erik setelah Aruna pergi.
"Aku belum mendapatkan uangnya Mas," jawab Linda takut.
Erik berdecak kesal. "Aku sudah memberimu waktu dua hari, masa belum dapat juga uangnya?!"
"Mas, kemarin kan aku harus mengantar Aruna ke rumah sakit. Uang yang aku kumpulkan juga sudah aku pakai untuk biaya berobat Aruna."
"Halah ...!!! Itu cuma alasanmu saja!!!"
"Aku sungguh-sungguh Mas." Linda sudah ketakutan.
"Kamu carikan sekarang, karena besok uang itu harus aku setorkan!"
"Tapi aku harus cari kemana? Ini sudah malam Mas ... "
"Bukan urusanku. Yang jelas kamu harus membawa pulang uang satu juta!"
Linda diam tidak bisa berkata-kata. Dia memutar otaknya darimana bisa mendapatkan uang satu juta selain dari orang tuanya.
__ADS_1
"Cepat sana berangkat!!! Tunggu apa lagi?!!" bentak Erik.
Erik tidak peduli di luar sedang gerimis, yang jelas dia ingin besok pagi uang itu sudah harus ada di tangannya.
Linda berdiri dan berjalan seperti orang linglung. Tatapannya kosong dan wajahnya yang pucat membuat dia terlihat seperti mayat hidup. Tidak peduli ini sudah hampir jam sepuluh malam, Linda tetap pergi untuk mencari uang yang Erik minta.
Saking takutnya dia kepada Erik Linda sampai lupa mengenakan jas hujan.
Linda mengendarai sepeda motornya dengan pelan karena dia masih belum punya tujuan. Pikirannya menerawang, mencari seseorang yang mungkin bisa menolongnya selain kedua orang tuanya. Hingga akhirnya dia teringat Sari, sang kakak tercinta.
Linda tahu dia masih punya hutang kepada Sari, tetapi Linda yakin Sari akan mau membantunya.
Linda sampai di rumah Sari dalam keadaan basah kuyup. Jarak rumahnya dan rumah Sari yang cukup jauh cukup untuk membuat tubuhnya menggigil.
"Ya ampun .... Linda ?!!" Sari melotot melihat Linda berdiri di depan rumahnya. Sebelumnya dia sudah hampir tertidur lalu mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya.
"Ada apa malam-malam kesini? Ayo masuk!" Sari membawa Linda masuk. Lalu dia mengambil handuk dan baju untuk mengganti baju Linda yang basah.
"Sana ganti baju dulu, aku akan buatkan teh hangat untukmu."
Linda mengikuti kata-kata kakaknya. Dia bergegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah.
Beberapa saat kemudian Linda dan Sari duduk berdua di ruang tamu Sari.
Sari yang sebelumnya terlihat panik dan melemparkan banyak pertanyaan sekarang justru terdiam. Dia kasihan melihat kondisi Linda yang murung sambil terus memegangi cangkir tehnya.
"Lin ... Kamu tidak apa-apa?" tanya Sari dengan pelan. Linda tersentak dan hampir saja cangkir tehnya terlepas dari tangannya.
"Aku tidak apa-apa Mbak. Mas Faisal sudah tidur?" Linda balik bertanya. Sari hanya mengangguk.
"Jadi, apa yang membawamu kemari malam-malam begini?"
Linda kembali diam. Dia ragu untuk mengutarakan tujuannya tetapi dia juga tidak punya pilihan lain.
"Aku ingin meminjam uang Mbak. Satu juta saja," jawab Linda tanpa berani menatap kakaknya.
Sari menghembuskan nafas panjang setelah mendengar jawaban Linda. "Erik yang menyuruhmu?"
"Eh ... Tidak ... Bukan. Ini inisiatifku sendiri. Aku tahu hutangku yang sebelumnya belum aku bayar. Tetapi aku janji nanti kalau aku sudah punya uang aku akan membayar semuanya." Linda berpura-pura tegar.
"Katakan pada Erik, kalau dia ingin pinjam uang seharusnya dia sendiri yang datang!" Sari berdiri. Dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengan Linda karena tahu adiknya itu pasti akan membela suaminya.
__ADS_1