Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 17. Aku Istrinya!


__ADS_3

Linda mendengar suara berisik dari ruang makan. Itu pasti Erik baru bangun tidur. Linda langsung melihat jam dinding seperti biasanya, jam sepuluh dan Erik baru bangun.


Erik tidak berteriak memanggil Linda karena Linda sudah menyiapkan semuanya. Sarapan sudah dia siapkan dan pakaian juga sudah dia setrika.


Linda menghentikan mesin jahitnya. Dia menunggu Erik mengetuk pintu ruangannya dan berharap dia mau meminta maaf atas perbuatannya. Tetapi setelah beberapa saat menunggu Erik tidak juga mendekat ke ruangannya.


Linda sudah tidak ada harapan. Dia lanjut menjahit agar tidak semakin tersiksa karena mengharapkan permintaan maaf dari suaminya.


Waktu yang ditunggu pun tiba. Linda melihat mobil Erik pergi meninggalkan rumah melalui jendela di ruangannya. Sepertinya Erik benar-benar tidak merasa bersalah kepadanya. Untuk yang kesekian kalinya Linda kembali meneteskan air matanya. Jangankan meminta maaf, Erik bahkan tidak menanyakan keberadaannya.


Linda bergegas keluar dari ruangannya. Dia melakukan apa yang sudah dia rencanakan. Memindahkan semua pakaiannya ke lemari yang ada di kamar menjahit miliknya. Tidak lupa dia juga membawa kasur lantai yang nantinya akan dia gunakan untuk tidur.


Malam harinya...


Erik baru saja pulang. Dia bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Erik langsung menghampiri Linda yang tengah menemani Aruna belajar.


"Lin, siapkan air panas dong, aku mau mandi!" titah Erik. Tanpa banyak bicara Linda langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Erik. Meskipun hatinya kesal dan marah dia tetap melakukannya.


Erik tidak membahas pertengkaran mereka sama sekali. Dia tetap bersikap acuh seperti biasanya.


"Nih ... Uang belanja kamu!" Erik melemparkan uang dua ratus ribu kepada Linda. "Senang kan uang belanjamu aku tambah?" tanya Erik dengan nada menghina.


"Ini baru permulaan, nanti Diana bisa memberikan aku lebih banyak lagi." Erik bangga sekali bisa mendapatkan uang dari Diana.


Linda merasa seperti tidak ada harganya di mata Erik. Sebenarnya dia tidak ingin mengambil uang itu tetapi dia sadar dia membutuhkannya untuk membayar tagihan listrik. Linda terpaksa memungut dua lembar uang yang kini tergeletak di lantai.


"Siapakah makan, aku mau makan setelah mandi!" perintah Erik lagi. Linda hanya mengangguk sambil berjalan menjauh dari Erik.


Linda melamun sambil memanaskan makanan. Erik bersikap semakin seenaknya kepadanya dan itu membuat Linda berpikir mau sampai kapan Erik akan bersikap seperti ini kepadanya? Apakah mungkin dia harus berpisah dengan Erik?


*


*


Seperti biasa, Linda sudah menenggelamkan dirinya di ruangan menjahit yang sekarang sekaligus menjadi kamar tidurnya. Pagi-pagi sekali Linda sudah memasak dan membersihkan rumah. Setelah Aruna berangkat sekolah barulah dia mengunci diri di dalam ruangannya.

__ADS_1


Pukul sepuluh Erik menggedor pintu kamar Linda.


"Linda ... Buka pintu!"


Mendengar teriakkan, Linda pun segera membuka pintu ruangannya. Di depan pintu Erik berdiri dengan pakaian yang sudah rapi sepertinya dia sudah akan pergi.


"Ada apa Mas?" Wajah Linda berseri. Dia pikir Erik datang untuk meminta maaf.


"Kamu tidak tidur di kamar semalam? Aku juga lihat lemari mu kosong tidak ada pakaian. Kamu mau pindah?"


Linda terdiam. Dia kembali menelan kekecewaan.


"Kenapa? Marah?!" lanjut Erik.


"Aku melakukan ini juga buat kamu dan Aruna. Aku tidak mencintai Diana." Erik berusaha meyakinkan Linda. Tetapi sepertinya hati Linda mulai membeku.


Biasanya rayuan seperti dari Erik akan membuat Linda langsung luluh. Dia akan langsung memaafkan Erik apapun salahnya. Tetapi kali ini Linda ragu. Apa ada kata-kata Erik yang masih bisa dipercaya?


Linda tidak menunjukkan perubahan ekspresi setelah mendengar rayuan Erik dan membuat Erik yakin kalau Linda benar-benar marah.


*


*


Tepat tengah hari Erik kembali ke rumah tetapi kali ini dia tidak sendirian. Linda bisa melihat dari jendela di kamarnya Erik pulang bersama perempuan itu, Diana. Hati Linda seperti teriris-iris melihatnya. Bisa-bisanya Erik membawa wanita itu pulang ke rumah mereka.


Linda meneteskan air matanya untuk yang kesekian kalinya karena Erik. Dia ingin keluar menghampiri Erik dan perempuan itu tetapi kaki Linda terlalu lemas. Dia tidak berdaya melihat suami yang sangat dicintainya bersama perempuan lain apalagi Erik jelas mengakui jika perempuan itu adalah kekasihnya.


Tak lama kemudian Erik mengetuk pintu ruangan Linda. Sekarang Erik tidak bisa bebas keluar masuk karena Linda selalu mengunci pintunya.


"Lin ...!!!" Suara Erik dari balik pintu.


Linda segera menghapus air matanya lalu dia membuka pintu.


"Buatkan minum, ada Diana di depan!" Entah hati Erik terbuat dari apa, dia tega meminta Linda membuatkan minuman untuk Diana.

__ADS_1


Linda mengangguk lalu menuju dapur, Erik pun mengikutinya.


"Aku sudah cerita semuanya kepada Diana. Sekarang dia tahu aku sudah punya istri dan dia tidak mempermasalahkan itu. Jadi hubungan kami baik-baik saja meskipun tahu siapa aku," cerita Erik sambil menunggu Linda membuatkan minuman.


Linda tetap diam, dia berusaha untuk tidak menunjukkan wajah sedihnya di depan Erik.


"Erik, kenapa kamu meninggalkan aku di ruang tamu sendirian?" suara asing terdengar diantara Linda dan Erik. Rupanya Diana menyusul mereka ke dapur.


"Maaf ya sayang, aku sedang menunggu Linda membuatkan minum untuk kamu," jawab Erik mesra.


"Linda ... ?" Diana mengernyit.


"Bukankah aku sudah menceritakan semuanya kepadamu?"


"Oh ... Iya, aku lupa," jawab Diana manja. Tanpa ragu dia langsung menghampiri Erik dan bergelayut manja di lengannya. "Hai ... aku Diana," sapa Diana.


Diana melihat Linda dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Dari tatapannya terlihat sekali kalau saat ini Diana tengah menertawakan penampilan Linda.


Linda diam dan hanya menatap wanita itu sekilas.


"Kalian ngobrol dulu berdua, aku mau ganti baju ... gerah," ucap Erik sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dia sengaja meninggalkan Linda dan Diana di dapur.


"Jadi kamu istrinya Erik?" tanya Diana.


"Iya, aku istrinya!" jawab Linda tegas. Ditatapnya perempuan yang memakai pakaian mahal dan parfum yang wanginya memenuhi ruangan yang kini menjadi kekasih suaminya itu.


"Kamu sudah tahu Erik punya istri kenapa kamu masih menggodanya?!"


"Jangan salah paham, bukan aku yang menggodanya, tetapi suamimu yang menggodaku," jawab Diana dengan santainya.


"Asal kamu tahu, aku bisa mendapatkan banyak laki-laki seperti Erik, tetapi dia hanya akan mendapatkan satu wanita seperti aku. Buktinya dia mendapatkan istri seperti kamu." Diana terkekeh.


Linda menyembunyikan rasa sakit hatinya dan tetap berusaha bersikap kuat di depan kekasih suaminya itu. "Kalau kamu bisa mendapatkan banyak laki-laki seperti Erik, lalu tinggalkan Erik dan carilah laki-laki lain. Jangan merusak rumah tangga orang!"


"Maaf, tetapi saat ini hanya Erik yang aku inginkan! Aku tidak masalah berbagai Erik denganmu, tetapi kalau kamu tidak mau kamu bisa meninggalkan Erik biar dia bisa menjadi milikku seutuhnya!"

__ADS_1


__ADS_2