Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 21. Kejutan Yang Gagal


__ADS_3

"Bu ... Ibu ... Apa ibu sudah pulang?" teriak Aruna begitu memasuki rumah. Linda segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari memeluk Aruna.


"Maafkan ibu ya, Ibu tadi tidak bisa menjemput Runa dari rumah kak Sella."


Aruna melepaskan pelukan ibunya dan terus memandangi wajahnya.


"Ibu ... " Aruna tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca sambil terus menatap sang ibu. Dan itu membuat mata Linda juga ikut berkaca-kaca. Akhirnya mereka tidak saling bicara dan hanya menatap satu sama lain dengan air mata yang menetes di pipi masing-masing.


Linda tidak kuasa menahan dirinya. Dia lalu kembali memeluk Aruna dengan erat.


"Maafkan ibu sayang ... Maafkan ibu ... "


"Kenapa ibu minta maaf?" tanya Runa di sela isaknya. "Ibu tidak salah apa-apa. Kalau cuma karena ibu tidak menjemput Runa itu bukan masalah Bu, Runa bisa pulang sendiri."


"Maafkan ibu karena tidak menjadi ibu yang baik untukmu. Ibu tidak bisa memberikan kebahagiaan kepadamu. Maafkan ibu karena kamu harus menyaksikan hal seperti ini di masa kanak-kanakmu."


"Ini bukan salah ibu, ini salah ayah. Runa benci ayah!!!"


"Sssttt ... jangan bicara seperti itu. Runa tidak boleh membenci ayah Runa sendiri," ucap Linda sambil membersihkan pipi Aruna dari sisa air mata.


Lalu Linda menggandeng tangan Aruna dan membawanya menuju ruang menjahitnya. "Ibu membelikan sesuatu untuk kamu."


"Apa Bu?"


"Selamat ulang tahun Runa sayang ... " Linda memberikan baju yang tadi dia beli. Air matanya kembali menetes karena dia tidak sempat membeli kue ulang tahun dan juga gagal memberi kejutan untuk Aruna. "Maafkan Ibu ya ... Hanya ini yang bisa ibu berikan," ucap Linda dengan suara yang tidak begitu terdengar karena menahan tangisnya.


Aruna memeluk ibunya. "Runa tidak ingin apa-apa. Runa hanya ingin ibu." Dan lagi-lagi tangis anak dan ibu ini pecah sambil berpelukan.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Siapa yang datang Bu?" Aruna dan Linda mengurai pelukan mereka. "Biar Runa yang buka pintu, ibu di sini saja." Aruna tahu bagaimana menyembunyikan ibunya.


"Kalau itu orang yang ingin mengantar jahitan kamu bilang saja ibu sedang tidak enak badan. Minta dia datang lain kali," bisik Linda. Aruna pun mengangguk mengerti. Lalu dia pergi untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Tak berselang lama Aruna kembali ke kamar Linda.


"Bu ... !!! Ada Bude Sari, Kak Tika juga kakek nenek," teriak Aruna kegirangan. Dia lupa dengan keadaan ibunya dan mengajak mereka semua masuk ke ruangan menjahit ibunya.


Bagaimanapun juga dia tetaplah seorang anak-anak yang sangat senang jika ada yang mengunjunginya apalagi membawakan sesuatu untuknya.


Linda gelagapan. Dia baru ingat jika sudah menghubungi mereka untuk memberikan kejutan untuk ulang tahun Aruna. Dan sekarang mereka semua sudah berkumpul di rumahnya.


Terlambat bagi Linda untuk menghindar.


"Linda?!! Apa yang terjadi dengan wajahmu?!!" tanya Sari. Dia langsung berjalan mendekatinya dan melihat wajah Linda dengan lebih seksama. Bu Yanto yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat pun ikut mendekati Linda.


"Ya ampun Linda ... Siapa yang tega melakukan ini kepadamu?" Bu Yanto tidak kuasa meneteskan air matanya karena tidak tega melihat keadaan Linda.


"Aku tidak apa-apa Bu, tadi aku jatuh waktu naik sepeda ke kota." Linda berusaha menyembunyikan yang sebenarnya.


"Naik sepeda ke kota? Memangnya motormu dimana?" sahut Pak Yanto.


"Kamu harus jujur sama bapak. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"


*


*


Pak Yanto langsung membawa Linda dan Aruna pulang ke rumahnya. Dia tidak terima setelah mengetahui anak perempuannya diperlakukan semena-mena oleh suaminya. Memar di wajah dan beberapa bagian tubuhnya yang lain sudah diobati agar tidak bengkak keesokan harinya.


Linda tertunduk setelah menceritakan semua masalahnya kepada Pak Yanto. Tadinya Linda tidak mau bercerita tetapi setelah terus didesak akhirnya Linda mau jujur.


"Bisa-bisanya kamu diam dan menahan semuanya selama ini?!" Pak Yanto nampak marah meski tetap terlihat tenang. "Untuk sementara kamu akan tinggal di sini. Bapak tidak mau kamu kenapa-kenapa!"


"Tetapi nanti Mas Erik mencari aku Pak, dia akan semakin marah kepadaku. Apalagi sekarang aku pergi dari rumah tanpa pamit." Linda bersikeras.


"Linda ...!!! Dia saja tidak peduli, kenapa kamu masih takut dia akan marah?!!" Sari terlihat lebih kesal daripada Sang Bapak. "Lihat apa yang sudah dia lakukan padamu!!! Dan kamu masih ingin membelanya?!!"

__ADS_1


Linda semakin sedih mendengar kata-kata Sari.


"Bapak tidak mengijinkan kamu bertemu Erik sampai dia menemui bapak. Dia harus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya! Kalau dia tidak ada itikad baik maka sebaiknya kalian berpisah!" Pak Yanto pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Linda hanya bisa menangis mendengar kata-kata bapaknya.


"Mbak, tolong bujuk bapak. Jangan minta aku berpisah dari Mas Erik, aku tidak bisa. Aku sangat mencintainya."


Lama-lama Sari kesal juga dengan sikap Linda yang masih saja ingin bertahan bersama Erik.


"Kapan sih kamu akan membuka matamu? Erik tidak mencintai kamu!!! Kalau dia mencintaimu dia tidak akan berbuat seperti ini kepadamu!!!" Sari pun pergi karena sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menyadarkan adiknya itu. Sementara Linda terus menangis memikirkan nasib pernikahannya dengan Erik.


Linda membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ini kamarnya dan Sari ketika masih lajang dulu. Satu kamar untuk berdua dengan Sari karena rumah orang tuanya tidak begitu luas. Sementara Aruna memilih tidur bersama kakek dan neneknya. Sekaligus untuk melepaskan rasa kangennya.


Semalaman Linda terjaga. Dia menunggu Erik datang untuk meminta maaf dan menjemputnya pulang. Tetapi Linda hanya menelan kekecewaan. Erik tidak menghubunginya, bahkan sekedar menayangkan keberadaannya pun tidak sama sekali.


Pagi harinya...


Linda bangun dan langsung berjalan menuju dapur. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk Aruna. Tetapi sampai di dapur dia tertegun karena semuanya sudah siap. Linda lupa jika sekarang dia tinggal bersama orang tuanya. Dia tidak perlu repot-repot karena ibunya sudah menyiapkan semuanya.


"Hari ini Aruna tidak berangkat sekolah dulu ya Lin. Dia kan tidak membawa seragam juga alat-alat sekolahnya?" ujar Bu Yanto.


Linda baru ingat, kemarin mereka pergi terburu-buru hingga tidak membawa apa-apa selain tas dan dompetnya. Linda sendiri bahkan tidak membawa baju ganti.


"Nanti bapakmu akan mengajak orang untuk mengambil semua barang-barangmu dan membawanya kesini. Mulai besok Aruna juga akan berangkat sekolah dari sini. Kalau tidak ya kita pindahkan saja sekolahnya ke sekolah dia daerah sini."


Deg!


Jantung Linda seperti berhenti berdetak. Sepertinya keinginan bapaknya agar dia berpisah dengan Erik sudah bulat.


"Kalau aku tinggal di sini nanti bagaimana dengan pekerjaan ku Bu? Bagaimana dengan pelanggan-pelanggan jahitanku?"


"Nanti bapakmu akan menyewa pick up. Biar bisa membawa mesin jahitmu juga. Kamu bisa menjahit di sini. Kamu tidak usah memikirkan itu," terang Bu Yanto dengan lembut.


Seharusnya Linda senang karena dia bisa bebas dari kekejaman suaminya, tetapi entah kenapa Linda justru sedih mendengar kata-kata ibunya. Linda ingin tetap bersama Erik tidak peduli bagaimana kelakuannya.

__ADS_1


__ADS_2