Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 25. Sikap Aneh


__ADS_3

"Kalau kamu tidak memukuli aku juga aku tidak akan pindah ke rumah bapak Mas!"


Erik terdiam mendengar jawaban menohok dari Linda. Seumur-umur menikah dengan Linda baru sekali ini dia berani bicara ketus kepadanya. Erik akui memang setelah kembali dari rumah orang tuanya, Linda sedikit mempunyai keberanian untuk membalas kata-katanya.


"Nanti tolong carikan ya Lin ... " Erik mengalah dan tidak ingin membalas kata-kata Linda.


Erik sadar sekarang sikapnya kepada Linda diawasi oleh mertua dan juga kakak iparnya. Kalau dia bersikap keras kepada Linda mungkin mereka akan segera menyuruh Linda berpisah dengannya. Itu tidak boleh terjadi. Erik sudah kehilangan Diana sebagai sumber uangnya.


Erik tidak mengatakan kepada Linda jika sebenarnya dia berpisah dengan Diana bukan karena Linda. Suami Diana sudah mengetahui hubungan gelap mereka lalu menceraikannya. Sekarang Diana sama miskinnya dengan Erik. Diana sudah tidak bisa memberinya uang karena itu Erik membuangnya.


Kalau sekarang dia harus bercerai dari Linda lalu siapa lagi yang bisa dia manfaatkan?


"Sudah aku bilang aku tidak janji Mas."


"Lin ... tolong ya carikan uangnya ... Aku harus minta tolong sama siapa kalau bukan sama kamu. Aku sudah meninggalkan Diana demi kamu, masa kamu seperti ini kepadaku?" Erik memasang wajah sendunya.


Linda tidak bisa menjawab. Dia hanya menatap Erik dengan rasa bersalah. Pintar sekali Erik mengolah kata-katanya untuk memainkan perasaan Linda.


"Tolong ya sayang ... tolong carikan uangnya. Masih ada waktu satu minggu. Aku tidak rela kalau mobil kita sampai diambil debt kolektor."


Akhirnya Linda mengangguk. "Akan aku usahakan. Tetapi aku tetap tidak bisa berjanji."


"Terimakasih ya Sayang." Erik pun memeluk Linda. Senyum liciknya muncul dibalik punggung Linda.


Satu minggu pun berlalu...


Tidak seperti biasanya, jahitan Linda sepi akhir-akhir ini. Tidak banyak orang yang mengantar jahitan ke rumahnya sehingga dia tidak dapat mengumpulkan uang seperti yang Erik minta.


Pagi-pagi sekali Erik sudah ribut bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membayar cicilan mobil.


"Aku kan sudah minta kamu untuk mencarikan uang itu? Kenapa sampai sekarang belum ada?! Aku sudah memberimu waktu satu minggu!" Erik sudah mulai marah kepada Linda. Kata-katanya lebih mirip seperti orang yang sedang menagih hutang dari pada orang yang sedang minta tolong.

__ADS_1


"Aku kan tidak berjanji pasti dapat uang itu Mas. Jahitanku sedang sepi. Bukan salahku kalau aku tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu. Lagian selama satu minggu itu juga harusnya kamu bisa mengumpulkan uang sendiri. Tidak harus mengandalkan aku."


"Halah ... Memang sejak awal kamu tidak niat membantuku!"


"Bukan begitu Mas ... Tetapi kalau memang tidak ada pelanggan yang datang untuk menjahit baju aku bisa apa?"


"Menyesal aku sudah meninggalkan Diana demi kamu! Kamu tahu kan Diana seperti apa? Dia cantik, kaya dan juga tidak pelit. Berapa pun uang yang aku minta pasti dikasih. Kalau tahu akan seperti ini lebih baik aku memilih Diana daripada kamu!" Erik kembali memanipulasi perasaan Linda.


"Mas ... Jangan bicara seperti itu. Kalau aku ada uang pasti aku kasih semuanya ke kamu. Biasanya juga begitu kan? Aku benar-benar tidak ada uang sekarang."


Erik tidak menjawab. Dia hanya menatap Linda dengan wajah masamnya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Sebentar, aku lihat siapa yang datang. Siapa tahu pelanggan yang mengantarkan jahitan." Linda bergegas meninggalkan Erik untuk membuka pintu. Setiap pelanggan sangat berharga bagi Linda.


Linda mematung begitu pintu dia buka dan melihat siapa yang berdiri di sana.


"Apa kabar?" sapa Bima.


Erik menyusul Linda ke depan rumah.


"Siapa dia Lin?" tanyanya sambil memperlihatkan tatapan tidak sukanya. Erik bisa melihat dari penampilan Bima kalau dia bukanlah pelanggan yang datang untuk mengantarkan jahitan. Erik segera menarik tangan Linda dan membawanya masuk.


"Sebentar ... " pamit Linda. Dia mengikuti tarikan tangan Erik.


"Siapa dia?!" tanya Erik begitu mereka hanya berdua. Sorot mata Erik sudah menunjukkan kemarahan padahal Linda tidak melakukan apa-apa. Erik tidak ingat jika laki-laki ini adalah orang yang waktu itu berbincang dengan Linda di toko pakaian.


"Dia pemilik toko tekstil tempat aku biasa belanja bahan jahitan. Aku mohon kamu jangan berpikiran macam-macam." Erik sedikit melunak setelah mendengar penjelasan Linda. Lalu dia mendampingi Linda menemui pria itu.


"Ada perlu apa kemari?" tanya Linda dengan sopan sementara Erik duduk di sampingnya. Perasaan Linda sudah ketar-ketir takut tiba-tiba Erik marah dan menghajar Bima yang tidak salah apa-apa.

__ADS_1


"Sebelumnya aku mau minta maaf karena sudah lancang datang kemari tanpa diminta. Aku cuma mau mengantarkan sepedamu yang tertinggal di toko waktu itu," terang Bima.


"Oh ... Begitu. Terima kasih sudah repot-repot mengantarkan sepeda istri saya. Waktu itu kami sedang ada salah paham. Jadi saya terburu-buru mengajak istri saya pulang. Mau ambil lagi sepedanya belum sempat. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Di luar dugaan Linda, Erik justru bersikap sangat baik kepada Bima hingga Linda merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya itu.


"Maaf sebelumnya, bagaimana anda bisa tahu alamat rumah istri saya?" tanya Erik dengan sopan.


"Oh ... Itu dari salah satu pegawai saya. Mbak Linda ini kan pelanggan setia toko saya dan pegawai-pegawai juga sudah kenal dengannya jadi ada yang tahu rumah Mbak Linda."


Erik mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum mendengar jawaban Bima. Dan sekali lagi Linda merasa aneh dengan sikap suaminya itu.


"Sayang, kamu tidak membuatkan minum untuk tamu kita?" tanya Erik. Linda sampai mengerenyitkan alisnya. Belum pernah ada tamu laki-laki Linda yang diperlakukan baik oleh Erik.


"Tidak usah, terimakasih. Saya mau langsung pamit. Saya ke sini cuma mau ngantar sepeda itu saja."


"Kenapa terburu-buru Tuan ... ?"


"Bima, panggil saja Bima."


"Iya, Bima. Kenapa terburu-buru? Tidak ngopi dulu?"


"Terimakasih saya masih ada urusan, lain kali saja."


"Ya sudah kalau begitu. Sekali lagi aku ucapkan terima kamu sudah berbaik hati mengantarkan sepeda istriku." Erik lebih banyak bicara sementara Linda diam dalam kebingungan atas sikap suaminya yang tidak biasa.


"Apa boleh aku minta nomor teleponmu Bima?" tanya Erik sebelum Bima beranjak.


Linda sadar sikap Erik semakin aneh. "Buat apa Mas?"


Erik menyenggol siku Linda mengisyaratkan agar dia tetap diam. Lalu Erik dan Bima pun bertukar nomor telepon. Setelah selesai Bima pun pamit.


"Permisi." Bima mengangguk dan pergi.

__ADS_1


Erik dan Linda kembali masuk ke dalam rumah setelah kepergian Bima. Linda melihat ada gelagat aneh yang ditunjukkan suaminya.


__ADS_2