
Dua bulan telah berlalu. Linda menjalani hari-harinya seperti biasa. Bedanya dia telah benar-benar menjadi pribadi yang baru, lepas dari belenggu masa lalunya. Hidupnya lebih tenang, tidak ada kekhawatiran akan mantan suami yang tiba-tiba datang. Kalaupun dia kembali Linda sudah tidak takut lagi untuk menghadapinya.
Setelah kejadian itu Erik tidak pernah muncul lagi di rumah orang tua Linda. Dia juga tidak mengunjungi Aruna. Erik kembali menghilang dari kehidupan mereka sama seperti sebelumnya.
Aruna memang sesekali menanyakan keberadaan ayahnya karena sulit sekali menghubunginya. Tetapi itu tidak masalah. Anak itu pasti akan segera melupakannya. Apalagi akan ada sosok baru yang menggantikan ayahnya bahkan lebih baik yaitu Bima.
Sesuai keinginan Linda, Bima datang ke desa menemui orang tua Linda dan melamarnya. Tidak ada yang perlu di ragukan lagi dari sosok Bima jadi orang tua Linda langsung menerima lamarannya. Hari pernikahan sudah ditentukan, tinggal menghitung hari.
Di ruang kerjanya Linda mengamati desainnya sambil tersenyum-senyum. Dia tengah menggambar kebaya seperti yang dia inginkan untuk hari pernikahannya dengan Bima nanti.
"Kita makan siang dulu." Suara Bima tiba-tiba mengagetkan Linda.
"Bisa sebentar lagi? Aku belum lapar."
"Sekarang saja, aku tidak mau nanti pengantinku kurus karena kebanyakan bekerja."
Linda langsung menuruti Bima sebelum laki-laki itu mengeluarkan rayuannya yang lain. Setelah mereka resmi akan segera menikah Bima semakin gencar merayunya bahkan dia tidak malu-malu melakukannya di depan pegawai-pegawainya yang lain.
"Kamu mau makan apa?" Linda beranjak dari tempat duduknya.
"Terserah kamu. Apapun yang kamu pilih aku mau."
"Ya sudah, ayo berangkat."
Tak lama kemudian Bima dan Linda sudah sampai di parkiran sebuah restoran cepat saji.
"Kok di sini?" tanya Bima heran.
"Kenapa? Tidak suka?" Setahu Linda Bima tidak masalah makan apapun. Tetapi kali ini dia terlihat seperti tidak semangat.
"Suka ... !" jawab Bima ragu.
"Aku sengaja pilih fast food karena cepat dan simpel. Kita bisa langsung kembali ke butik setelah ini."
"Tahu seperti itu mendingan tadi pesan saja dari butik," jawab Bima dengan wajah cemberut. "Aku sengaja mengajak kamu makan di luar biar kita bisa berduaan." Bima terus menggerutu.
__ADS_1
Linda tertawa mendengar jawaban Bima.
"Apa bedanya? Setiap hari juga kita berduaan di butik."
"Ya tapi beda Linda .... " Bima ingin mencubit pipi Linda saking gemasnya.
"Bedanya apa? Ayo kita masuk!" Linda langsung turun dari mobil tanpa menunggu Bima.
Sebenarnya restoran ini adalah tempat dimana dulu Linda melihat Erik bersama Diana. Itu sudah cukup lama dan Linda masih mengingatnya. Tetapi sekarang itu bukan masalah. Dia sudah mulai terbiasa. Itu bagian dari masa lalunya yang tidak bisa dia hindari atau dia hilangkan.
Tanpa memperhatikan kiri kanan, Linda dan Bima masuk ke dalam restoran. Mereka memesan makanan setelah itu mereka mencari meja yang kosong. Linda mengedarkan pandangannya mencari meja yang kira-kira bisa mereka tempati.
Mata Linda berhenti di sebuah meja berisi dua kursi. Untuk beberapa saat Linda mematung sambil terus menatap ke arah meja itu. Ada Erik tengah duduk bersama seorang perempuan di sana.
"Kita pindah restoran saja?" tanya Bima setelah dia mengetahui kemana arah mata Linda memandang. Bima juga melihat Erik ada di sana.
"Tidak, di sini saja tidak apa-apa."
"Kamu yakin?" Bima khawatir karena biasanya Linda takut kepada Erik.
"Ya sudah." Lalu mereka berjalan menuju meja kosong yang letaknya bersebelahan dengan meja yang sedang diduduki Erik.
Erik tertegun melihat Linda dan Bima tiba-tiba duduk di meja sebelahnya. Sejak tadi dia tidak menyadari kehadiran mereka berdua karena Erik sibuk merayu wanita di depannya yang sepertinya adalah mangsa terbarunya.
Sikap Linda terlihat sangat santai dan tenang. Dia tidak menganggap Erik ada di sana bahkan dia bersikap seperti tidak mengenal Erik. Bima sampai heran melihatnya.
Sementara Erik terlihat salah tingkah. Sesekali dia melirik Linda lalu bersikap sok mesra kepada perempuan di depannya seakan berusaha memanas-manasi hati Linda. Bahkan dia terkesan memamerkan mangsa barunya kepada Linda.
Tetapi Linda tidak terpengaruh sama sekali. Erik benar-benar sudah tidak ada artinya di hidupnya. Dia mau berbuat apapun Linda tidak peduli. Linda tetap asik berbicara dengan Bima.
Lalu setelah beberapa saat Erik dan wanita di depannya keluar dari restoran tanpa menyapa Bima maupun Linda. Sepertinya dia kesal karena tidak berhasil memprovokasi Linda.
Beruntung Linda sudah terlepas dari laki-laki sampah seperti dia. Laki-laki seperti Erik tidak akan pernah berubah. Semoga saja Linda tidak akan pernah bertemu dia lagi.
"Lin ... Nanti pas acara pernikahan kita mungkin hanya kakakku yang datang. Tidak ada keluarga yang lain kamu tidak apa-apa kan?" Bima memulai pembicaraan serius setelah kepergian Erik.
__ADS_1
"Tentu saja, tidak apa-apa," jawab Linda jujur.
Entah kenapa setiap Bima membahas keluarga raut wajahnya selalu berubah sedih dan serius. Sebelumnya Bima sudah memberitahu Linda kalau orang tuanya sudah lama meninggal. Tetapi hanya sebatas itu. Selebihnya Linda tidak tahu apa-apa lagi.
Linda meraih tangan Bima lalu menggenggamnya. Meskipun tidak pernah menceritakannya, Linda tahu Bima menyimpan kesedihan di hatinya.
"Bagaimana nanti jika orang-orang membicarakan kamu karena aku tidak punya keluarga?"
"Keluargaku adalah keluargamu sekarang."
*
*
Bima
Hari yang dinanti telah tiba, hari pernikahan Bima dan Linda. Semua anggota keluarga Linda berkumpul, baik keluarga inti maupun keluarga besar. Semuanya tampak bahagia melihat Linda memakai kebaya pengantinnya.
Sementara dari keluarga Bima hanya ada satu orang perempuan yang mewakili keluarga Bima. Wanita ini adalah satu-satunya keluarganya, mungkin juga yang menganggap dia keluarga. Bima memperkenalkannya sebagai kakaknya, atau lebih tepatnya kakak tirinya.
Kakak tirinya inilah yang berperan penting dalam hidup Bima. Berkat kakak tirinya ini dia bisa seperti sekarang.
Sebenarnya Bima adalah anak hasil hubungan terlarang. Ibunya sudah meninggal dan tidak punya keluarga. Setelah kepergian ibunya Bima tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya. Tetapi ketika dia berumur enam belas tahun ayahnya meninggal.
Setelah itu Bima diusir dari rumah ayahnya. Sementara keluarga ayahnya tidak mau mengakuinya karena dia dianggap aib keluarga.
Hanya wanita ini, anak dari ayahnya dan istri sahnya, satu-satunya orang yang mau mengakui dia sebagai keluarganya.
Karena itu sulit bagi Bima menceritakan tentang keluarganya.
...TAMAT...
Note.
Mohon maaf jika karya otor masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan 🙏🙏
__ADS_1
Otor masih dalam proses belajar dan akan terus belajar. Terimakasih atas like, komen, kritik dan gift apapun itu otor ucapkan banyak terima kasih 🙏😘😘