
Linda sudah hampir kehabisan tenaga. Sejak tadi dia meronta tetapi tidak ada hasilnya. Tenaganya kalah jauh jika dibandingkan Erik. Apalagi saat ini Erik sedang dikuasai hawa nafsunya. Dalam keputusasaan nya Linda pura-pura menyerah. Dia pasrah membiarkan Erik menciumi lehernya.
"Kenapa? Kamu sudah mulai menikmatinya sayang?" Suara Erik terdengar penuh kemenangan. "Begini kan lebih enak?!" Erik melanjutkan aktivitasnya menikmati tubuh Linda.
"Setidaknya jangan lakukan di sini. Aku takut tiba-tiba Aruna pulang," jawab Linda.
Kata-kata itu hanyalah taktik Linda agar Erik percaya dia telah menyerah. Linda sudah berubah menjadi perempuan pintar dan pemberani. Tidak sia-sia dia melanjutkan sekolah bahkan hingga kuliah.
Melihat Linda yang mulai pasrah Erik pun melonggarkan cengkeraman tangannya.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku sudah menyuruh Aruna untuk tetap di sana sampai aku datang menjemputnya. Jadi dia tidak akan pulang. Lebih baik kita nikmati waktu kita. Aku akan memberikan kenikmatan yang sudah lama tidak kamu rasakan." Erik kembali berbisik di telinga Linda.
Ternyata dari awal Erik sudah merencanakan semuanya. Aruna tidak mau diantar pulang itu hanya rekayasanya. Semua itu dia lakukan agar Linda mau datang ke rumahnya dan dia bisa menjebaknya.
Linda mengangguk pasrah agar lebih meyakinkan. Dia membiarkan satu tangan Erik mulai bergerilya di tubuhnya tanpa melawan sementara bibir Erik terus menjelajah lehernya. Linda tidak melawan ataupun meronta seperti sebelumnya.
Merasa sudah tidak ada perlawanan Erik pun melepaskan tangan Linda agar tangannya lebih leluasa menjamah tubuh Linda.
Saat itulah tangan Linda turun ke bawah untuk meraih alat vital Erik. Dia pikir Linda ingin memberikan kenikmatan di sana, jadi dia membuka kakinya lebar-lebar. Tetapi ternyata Etik salah. Linda justru meremasnya sekuat tenaga.
Erik berteriak kesakitan. Dia bangkit sambil kedua kakinya mengapit menahan sakit yang luar biasa di benda tumpulnya. Belum cukup sampai di situ. Linda segera bangkit dan meraih guci besar lalu memukulkan guci itu ke punggung Erik.
Erik pun jatuh tersungkur. Tetapi Linda belum merasa puas. Dia mengambil sapu dan memukulkan gagangnya ke tubuh Erik secara membabi buta hingga Erik lemas tak berdaya. Linda sama sekali tidak kasihan melihat Erik meringkuk menahan sakit.
"Kamu pikir aku masih bodoh dan lugu seperti dulu?! Kamu pikir aku akan luluh dengan kata-kata sampahmu?!! Aku bukan Linda yang dulu!!!"
Erik tidak bisa membalas. Dia masih meringis sambil memegangi benda tumpulnya.
"Dulu kamu sering sekali menjambak rambutku seperti ini."
Linda menarik rambut Erik hingga kepalanya terangkat, persis seperti yang dulu Erik lakukan kepadanya.
__ADS_1
"Apa sakit hah?! Itu belum seberapa! Berapa kali kamu memukuli aku? Apa salahku padamu?!!" Linda belum ingin berhenti. Dia masih ingin melampiaskan kemarahannya kepada Erik.
"Ini belum seberapa dibandingkan yang aku rasakan dulu!" Satu pukulan melayang ke wajah Erik.
"Lin ... Aku mohon hentikan." Suara Erik lemah.
"Dulu aku juga memohon kepadamu! Tetapi apa kamu mau melepaskan aku?! Apa kamu peduli dengan rintihanku?! Apa kamu peduli dengan tangisanku?!! Tidak!!!"
Tangan dan kaki Linda pun terus maju memberikan pelajaran kepada Erik. Setiap pukulan, tamparan, bentakan semua kekerasan yang dulu Erik berikan, Linda kembalikan kepada Erik hari ini.
Mungkin setelah ini Erik tidak akan berani main-main dengan Linda.
*
Linda berdiri di depan pintu rumah Erik. Laki-laki itu sudah tidak berdaya sehingga Linda dengan mudah mengambil kunci dari saku celananya. Linda juga sudah merapikan pakaiannya yang tadi berantakan karena ulah Erik.
Tidak ada air mata dan ratapan. Linda merasa lega, puas, lepas tanpa beban setelah berhasil melampiaskan kemarahannya, mengeluarkan sakit hatinya kepada Erik seperti dulu Erik melampiaskan kemarahannya kepadanya. Linda berhasil membalas semuanya.
"Seharusnya aku lakukan ini sejak dulu," batin Linda.
Selama perjalanan pulang Aruna lebih banyak bicara, menceritakan harinya bersama Sella jadi Linda lebih banyak diam. Dia sengaja menahan rasa penasarannya soal Erik dan akan dia tanyakan pada Aruna setelah mereka sampai di rumah.
Setelah menempuh perjalanan beberapa lama akhirnya Aruna dan Linda sampai di rumah Pak Yanto.
"Kok lama Lin?" sambut Bu Yanto begitu melihat dua orang ini memasuki rumah.
"Iya nih ... Katanya ibu mau datang pagi-pagi sekali tetapi ternyata sampai siang belum datang. Runa tadi juga nunggu lama banget di rumah kak Sella." Aruna ikut protes.
"Tadi aku dan ayahnya Runa ngobrol sebentar. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan." Linda menjawab pertanyaan ibunya.
"Apa ada masalah?" Bu Yanto langsung curiga.
__ADS_1
Linda menggeleng untuk mengusir kecurigaan ibunya. "Tidak ada apa-apa Bu, semuanya baik-baik saja."
"Oh ... Ya sudah kalau begitu." Bu Yanto kembali ke belakang dan membiarkan Linda berdua bersama Aruna.
"Ibu tadi bertemu ayah?"
"Iya, tetapi cuma sebentar. Runa ... Ibu mau bicara sebentar."
"Bicara apa Bu?"
"Tadi ayah menyusul Runa di rumah kak Sella kan? Ayah bilang apa tadi?"
"Kok ibu tahu?" Aruna justru balik bertanya.
"Iya, ibu tahu. Ayah bilang apa tadi?" Linda tidak sabar.
"Oh ... Ayah bilang untuk tetap di rumah kak Sella karena ayah mau pergi keluar. Nanti ayah jemput kalau ayah sudah pulang. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa." Benar dugaan Linda, Erik tidak memberi tahu Aruna jika dirinya sudah menunggunya di rumahnya.
"Apa Runa boleh menginap di rumah ayah lagi?"
"Tidak!" jawab Linda cepat. "Runa juga tidak boleh pergi bersama ayah lagi. Kalau Runa ingin bertemu ayah maka ayah Runa harus datang ke sini dan tidak boleh keluar dari rumah kakek! Mengerti?!" ucap Linda dengan tegas. Keputusannya sudah bulat.
Ini adalah keputusan yang berat bagi Linda. Dia tahu ini akan membuat Aruna sedih tetapi dia tidak punya pilihan. Selama ini Aruna baik-baik saja tanpa ayahnya jadi tidak masalah jika sekarang Aruna tidak bertemu ayahnya lagi.
Linda sadar jika selama ini kedekatan Erik dengan Aruna hanyalah kedok agar dia bisa mendekatinya. Dan tidak akan ada kesempatan lain lagi. Cukup sekali saja. Erik tidak akan pernah berubah sampai kapanpun juga.
"Kenapa Bu? Apa Ibu marah lagi sama ayah?"
"Runa ikuti saja kata-kata Ibu!"
__ADS_1
"Oh ... " Hanya itu yang keluar dari bibir kecil Aruna. Gadis kecil itu tampak kecewa tetapi dia tidak berani membantah. Dari nada bicaranya saja dia tahu ibunya sedang marah.
Setelah berbicara dengan Aruna Linda langsung membersihkan badannya. Dia tidak sudi ada sesuatu berbau Erik membekas di tubuhnya.