Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 26. Kamar Hotel


__ADS_3

Wajah Erik kembali masam begitu dia ingat jika dia belum mendapatkan uang untuk membayar angsuran. Erik kembali memutar otaknya bagaimana caranya mendapatkan uang dalam waktu yang singkat.


Lalu senyum culas muncul di bibir Erik.


"Lin, tolong ke apotik belikan aku obat sakit perut. Tiba-tiba perutku mulas," titah Erik.


"Kamu sakit perut Mas? Bukankah tadi tidak apa-apa?"


"Tidak usah banyak tanya. Cepat sana belikan!"


Linda pun bergegas pergi ke apotik.


Jarak apotik dan rumah Linda lumayan jauh jadi membutuhkan waktu agak lama untuk sampai ke apotik apalagi Linda hanya naik sepeda.


Setelah beberapa saat Linda kembali dari apotik.


"Mas, ini obatnya," teriak Linda begitu memasuki rumah. "Mas ... Kamu dimana?" Linda mencari Erik di kamarnya dan di seluruh ruangan tetapi tidak ada. Sepertinya dia tidak ada di rumah.


"Kemana dia? Nanti juga pulang sendiri kalau sakit perutnya kambuh," gumam Linda. Akhirnya dia meletakkan obat sakit perut di meja makan dan pergi ke ruang menjahitnya, dia ingin menyelesaikan jahitannya.


Mata Linda terbelalak begitu masuk ke ruang kerjanya. Mesin jahitnya sudah hilang, tidak ada di tempatnya. Hanya satu pikiran Linda, pasti Erik telah menjualnya.


"Keterlaluan kamu Mas!"


*


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Erik masih belum pulang. Sejak tadi Linda menunggunya untuk meminta penjelasan. Bagaimana bisa Erik menjual satu-satunya tumpuan hidup mereka. Mesin jahit itu adalah sumber penghasilan Linda, sumber kehidupan mereka. Jika mesin jahit itu dijual lalu dari mana Linda akan mendapatkan uang?


Lama Linda menunggu hingga akhirnya terdengar suara mobil Erik memasuki halaman. Linda bergegas menghampiri Erik.


"Mas, kamu menjual mesin jahitku?!" tanya Linda tanpa basa-basi.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Kok bisa kamu Mas?! Mesin itu sumber penghasilanku. Kalau kamu jual lalu aku harus kerja apa?"


"Bukankah kamu bilang jahitanmu sekarang sepi? Ya sudah di jual saja mesin jahitnya buat bayar cicilan mobil. Memangnya kalau mobilku diambil debt kolektor aku juga mau kerja apa?"


Sungguh Linda sangat kesal dengan sikap suaminya.


"Tapi kamu kan bisa bilang padaku dulu? Tidak main jual begitu saja. Masih ada beberapa potong jahitan yang harus aku selesaikan. Sekarang aku harus bagaimana jika mesin jahitnya sudah tidak ada?"

__ADS_1


"Memangnya kalau aku bilang mau jual mesin itu kamu akan mengijinkan? Tidak kan?"


Linda berlalu pergi tidak ingin memperpanjang perdebatan ini. Tidak ada gunanya, dia tidak akan menang berdebat melawan Erik.


Linda masuk ke ruang jahitnya. Terpaksa dia menyelesaikan jahitan menggunakan tangannya tanpa mesin jahit.


Keesokan harinya...


Linda melakukan aktivitas seperti biasa. Aruna sudah berangkat sekolah, pekerjaan rumah juga sudah beres sekarang dia bingung tidak tahu mau mengerjakan apa lagi. Jahitan sudah selesai semua karena semalaman dia lembur menjahit menggunakan tangannya, tinggal menunggu diambil oleh pemiliknya.


Linda sedang merapikan ruang jahitnya ketika di mendengar suara mobil memasuki halaman. Linda melihat keluar melalui jendela untuk melihat siapa yang datang.


Linda terheran-heran melihat Bima datang lagi ke rumahnya.


"Mau apa lagi dia?" gumam Linda.


Linda membangunkan Erik yang masih tidur. Dia mengajaknya untuk menemui Bima karena takut akan salah sangka.


"Hai Bim ... Pagi juga kamu datang?" sambut Erik. Dia berlagak seperti sudah lama mengenal Bima.


"Linda, bagaimana? Kamu sudah siap pergi?" tanya Bima.


Linda seperti orang kebingungan karena tidak tahu apa yang dua orang laki-laki ini bicarakan. "Pergi kemana?"


Linda menoleh kepada Erik untuk meminta penjelasan.


"Semalam aku dan Bima berkirim pesan. Aku cerita kepadanya kalau mesin jahitmu rusak. Bima ini kasihan lalu sekarang dia mau mengajak kamu membeli mesin jahit baru."


"Tapi ... "


"Tidak ada tapi-tapi, sana berangkat. Aku tidak akan marah."


Linda menatap Erik dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya dia membohongi Bima dan melibatkan laki-laki yang baru dikenalnya dalam urusan rumah tangga mereka.


"Aku ... " Belum sempat Linda menyelesaikan kalimatnya Erik menarik tangannya masuk ke dalam rumah.


"Lebih baik kamu ikuti saja kata-kataku. Kamu pergi beli mesin jahit, lalu pulang. Gampang kan?!" ucap Erik sambil mencengkram lengan Linda dengan kuat.


Linda hanya bisa mengangguk setuju. "Sudah sana berangkat. Dan ingat, jangan bicara macam-macam kepada Bima!"


*

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Linda hanya diam seribu bahasa. Rasanya malu suaminya meminta orang asing untuk membelikan dia mesin jahit sementara suaminya sendiri yang menjualnya. Ini seperti dia sedang memanfaatkan kebaikan Bima.


"Bima, kamu tidak perlu membelikan aku mesin jahit, mesinku masih bisa diperbaiki." Linda merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Anggap saja permintaan maafku, kali ini kamu tidak boleh menolaknya."


Linda tidak bisa berkata-kata lagi. Dia kembali diam.


Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya mobil Bima berhenti. Tetapi Bima tidak membawa Linda ke toko mesin jahit melainkan ke sebuah hotel.


"Bima, mau apa kamu membawaku ke tempat seperti ini?" Akhirnya Linda membuka suara.


"Ikut saja, aku janji tidak akan berbuat macam-macam," jawab Bima dengan halus. Linda menatap dalam-dalam mata Bima.


Linda terlalu lugu untuk mengetahui mana laki-laki yang berbohong dan mana yang tulus kepadanya.


"Ayo masuk, aku hanya ingin kamu menemaniku makan. Selain itu aku juga ingin bicara sesuatu kepadamu."


Linda mematung di depan pintu kamar hotel.


"Kalau hanya bicara kita bisa bicara di luar, tidak di dalam kamar."


"Aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu, tetapi ini sedikit di luar nalar."


Linda terlihat masih ragu-ragu.


"Ini kamu boleh memegang semuanya sebagai jaminan kalau aku melakukan sesuatu kepadamu." Bima mengeluarkan seluruh isi sakunya termasuk dompet, handphone dan kunci mobil lalu menyerahkannya kepada Linda.


"Kamu percaya padaku sekarang?"


Meskipun masih sedikit ragu akhirnya Linda mengangguk. Bima tidak terlihat seperti orang jahat, bahkan dia juga memperlakukan Linda dengan sangat lembut.


Bima membuka pintu kamar dan mempersilahkan Linda masuk. Dalam hatinya dia merasa kasihan kepada Linda. Perempuan ini terlalu lugu dan mudah sekali dimanfaatkan oleh suaminya.


Linda mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar mengagumi kemewahan hotel itu. Dia tidak akan pernah mampu masuk ke tempat seperti ini kalau bukan karena Bima.


Lalu Linda kembali sadar jika mereka hanya berdua di kamar itu.


Linda menyesali keputusannya masuk ke dalam kamar. Meskipun dia memegang semua jaminan yang Bima berikan buka berarti dia aman. Linda tahu sewaktu-waktu Bima bisa melakukan apa saja kepadanya. Linda tampak memasang wajah siaga kepada Bima.


"Sebaiknya aku pulang." Linda ingin berdiri dan segera keluar dari kamar itu sebelum terlambat.

__ADS_1


"Duduklah ... Aku sudah membayar lima juta kepada Erik agar bisa membawamu keluar."


__ADS_2