
Linda menjemput Aruna dari rumah Sella setelah meletakkan barang-barang belanjaannya di rumah.
"Ibu kok tumben sampai malam begini?" tanya Aruna setelah mereka sampai di rumah.
"Iya Runa ... Tadi ibu tidak sengaja bertemu teman ibu. Kamu sudah mandi?" Bima adalah teman yang dimaksud Linda.
"Sudah tadi si rumah Kak Sella."
"Kalau begitu ibu mandi dulu setelah itu kita makan."
Aruna mengangguk. Linda tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi. Setelah selesai dia segera mengajak Aruna ke ruang makan.
"Lihat apa yang ibu bawakan untukmu." Linda mengeluarkan baju yang tadi dia beli untuk Aruna juga sushi yang dibelikan oleh Bima.
Aruna terlihat sangat senang karena jarang sekali dia dibelikan baju oleh ibunya, apalagi ketika melihat sushi, makanan yang hanya pernah dia lihat gambarnya. Kebahagiaan Aruna membuat Linda bisa melupakan rasa sakit hatinya untuk sementara.
"Lain kali ibu tidak perlu membelikan Runa oleh-oleh. Nanti uang ibu habis."
"Makanan ini teman ibu yang membelikan."
Tepat ketika Linda sedang menemani Aruna menikmati sushi nya, Erik pulang. Linda kembali teringat kejadian tadi siang di toko pakaian.
Rasa marah dan sakit hati kembali memenuhi perasaan Linda dan membuat dia seperti kehilangan rasa takutnya kepada Erik.
"Lin ... Kamu sudah pulang?" Erik berbasa-basi tetapi Linda tidak segera menjawab pertanyaan Erik.
Melihat gelagat aneh dari kedua orang tuanya membuat Aruna langsung pamit pergi ke kamarnya. "Runa ingin makan di kamar saja Bu."
Linda mengangguk pun mengangguk mengiyakan.
"Linda, aku bertanya kepadamu!"
"Memangnya siapa kamu bertanya padaku? Bukankah kamu tidak mengenalku?!" balas Linda lantang meskipun sebenarnya dia takut.
"Jangan marah dong Lin .... Masa gitu aja marah?"
"Siapa wanita itu Mas? Apa kamu masih akan mengatakan dia penumpang? Dia wanita yang sama dengan waktu itu bukan?! Aku ingat persis wajahnya! Apa dia selingkuhanmu?!!"
__ADS_1
"Bicara apa sih kamu Lin?!" Erik berusaha mengelak.
"Kamu sampai pura-pura tidak mengenal aku di depan perempuan itu! Apa dia lebih penting dari aku?!"
"Sudahlah, aku capek!" Erik hendak pergi ke kamar.
"Jawab aku dulu Mas!!! Apa dia lebih penting dari aku?!! Apa dia selingkuhanmu?!!" Tidak ada Linda yang menunduk gemetar dan ketakutan. Kali ini Linda seperti wanita normal lainnya yang tidak rela melihat suaminya bersama perempuan lain.
"Iya ... !!! Dia selingkuhanku dan saat ini dia lebih penting dari kamu!!! Puas?!!" Linda sudah terlanjur melihat semuanya jadi sekalian saja Erik jujur kepadanya.
Linda tidak percaya mendengar jawaban Erik. "Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu Mas?!"
"Namanya Diana. Dia kaya raya makanya aku menjadikan dia kekasihku!"
"Apa???"
"Dengar, Aku sudah bosan hidup susah! Aku ingin hidupku kembali seperti dulu. Tidak perlu bekerja tetapi punya semuanya. Dan aku bisa dapatkan itu dari Diana!!!" terang Erik tanpa rasa berdosa.
"Aku tidak percaya kamu tega berbuat seperti itu Mas! Kamu benar-benar keterlaluan, kamu menduakan aku demi uang?!!" teriak Linda.
"Sudahlah, nanti kamu juga akan merasakan enaknya kalau aku sudah berhasil menguasai harta Diana sepenuhnya!"
"Berkorban apa?! Butuh modal untuk mendekati perempuan kaya! Anggap saja kamu sedang tanam modal kepadaku. Nanti aku kembalikan semua uangmu, motormu juga nanti aku ganti bahkan dengan yang lebih bagus!!!"
Linda menangis tidak percaya mendengar jawaban Erik.
"Tidak usah nangis! Nanti kalau kamu aku kasih uang belanja lebih juga pasti seneng kok!"
Hati Linda semakin teriris-iris mendengar jawaban Erik. "Laki-laki macam apa kamu Mas? Aku rela mengorbankan semua yang aku miliki untuk kamu tapi kamu ... " Linda tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Hiisss ... !!! Munafik ... Memangnya kamu mau selamanya hidup seperti ini?!"
Linda menatap Erik dengan tatapan nanar. Sampai sekarang dia masih belum bisa memahami cara berfikir suaminya itu. Maunya enak, semua serba kecukupan tetapi tidak mau bekerja. Linda tidak bisa berkata-kata lagi. Dia pergi meninggalkan Erik dan mengunci dirinya di ruangan menjahitnya.
Pagi harinya...
Linda sulit sekali untuk membuka matanya. Semalam dia hampir tidak tidur karena menangis memikirkan Erik suaminya. Tega-teganya dia berbuat seperti itu kepadanya.
__ADS_1
Linda memaksakan dirinya bangun. Dia melihat sekelilingnya. Semalam dia tidur di ruangan yang senantiasa menjadi saksi bisu kesedihan dan derita yang dialaminya. Hanya beralaskan tikar Linda melewati malam tersedih dalam hidupnya.
Kalau bukan karena Aruna dia tidak akan mau keluar dari ruangan menjahitnya ini. Tetapi Linda ingat tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Dia harus menyiapkan sarapan dan segala keperluan Aruna untuk sekolah.
Linda keluar dari ruangannya. Dia segera ke dapur untuk memasak. Beruntung Erik selalu bangun siang sehingga Linda tidak perlu bertemu dengannya, karena Linda belum siap.
Linda melakukan pekerjaannya dengan cepat setelah itu dia membangunkan Aruna.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Aruna sambil menyantap sarapannya.
"Ibu tidak apa-apa," jawab Linda.
"Runa semalam mendengar ayah berteriak. Apa ayah memarahi ibu?!"
"Tidak, kenapa ayah harus marah sama ibu?"
Aruna turun dari kursinya lalu menghampiri Linda. Lalu gadis kecil itu memeluk ibunya.
"Runa tahu ayah sudah membuat ibu menangis. Runa tidak suka ayah selalu membentak ibu. Runa sayang ibu dan Runa tidak mau ibu kenapa-kenapa."
Linda meneteskan air matanya mendengar kata-kata Aruna.
"Runa ... Seandainya ... " Aruna melepaskan pelukannya.
"Seandainya apa Bu?" Aruna tidak mengerti.
Linda menyeka air matanya. "Tidak apa-apa, lupakan saja.""
Aruna terus menatap mata ibunya untuk meminta penjelasan tetapi Linda tidak berani menatap anaknya.
"Sekarang kamu berangkat sekolah. Nanti terlambat," ucap Linda untuk mengalihkan perhatian Aruna. Tetapi gadis kecil itu tidak mau mengalihkan perhatiannya dari ibunya. Dia tahu ibunya sedang sedih.
"Itu ... Teman-temanmu sudah menunggu di depan rumah." Linda menunjuk anak-anak yang biasanya menghampiri Aruna berangkat sekolah. Mereka sudah memanggil-manggil nama Aruna. Dengan berat hati Aruna pergi meninggalkan ibunya.
Linda segera kembali ke ruang menjahitnya sebelum Erik bangun dan melihatnya. Sampai di dalam ruangannya dia kembali menangis mengeluarkan seluruh emosinya. Dengan segala perlakuan Erik kepadanya selama ini, baru sekarang Linda berpikir untuk berpisah dari Erik.
Linda lalu mulai menjahit untuk melupakan kesedihannya. Jika dia hanya berdiam diri dia justru hanya akan teringat kelakuan Erik. Biasanya Linda membiarkan kamar menjahitnya terbuka agar bisa mendengar jika sewaktu-waktu Erik memanggilnya. Tetapi sekarang dia menutup pintunya bahkan menguncinya.
__ADS_1
Nanti jika Erik sudah pergi baru Linda akan keluar. Dia belum mandi karena pakaiannya ada di dalam kamar dan Erik masih tertidur di sana. Rencananya Linda akan mengambil seluruh pakaiannya dan memindahkannya ke kamar jahitnya. Dia juga akan menyiapkan kasur lantai untuk tidur karena Linda tidak ingin tidur bersama Erik lagi.