
Hari yang dinantikan telah tiba. Linda sedang menyiapkan baju ganti yang nanti akan dia bawa ke rumah orang tuanya. Dia berencana menginap di sana seperti Mbak Sari dan Tika. Aruna juga sangat senang mengetahui jika dia akan menginap di rumah neneknya.
"Kamu sedang apa Lin?" tanya Erik yang melihat Linda memasukkan beberapa baju ke dalam tas.
"Besok kan ada acara keluarga di rumah bapak. Aku dan Runa ingin menginap di sana. Kami sudah janjian sama Mbak Sari."
Erik cuma mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Linda.
"Kamu nginap juga kan Mas? Biar aku siapkan baju gantimu sekalian."
Erik mengerutkan keningnya. "Memangnya aku ikut?!"
"Apa maksudmu Mas?" Perasaan Linda sudah mulai tidak enak. "Jelas kamu ikut."
"Kalian pergi saja sendiri. Aku malas bertemu banyak orang!" Memang jarang sekali Erik ikut datang ke acara seperti ini. Tetapi berhubung acara itu diadakan di rumah orang tuanya, Linda pikir Erik pasti mau datang.
"Mas ... Aku harus bilang apa ke bapak dan ibu kalau kamu tidak datang?"
"Ya terserah ... Kamu bisa bilang aku lagi kerja atau lagi ngantar penumpang ke luar kota, gampang kan?" Erik tidak pernah sekalipun memikirkan perasaan Linda.
"Setidaknya kamu bisa mengantarkan kami kesana." Linda tidak berani memaksa Erik.
"Sudah aku bilang aku malas. Kalian berangkat berdua saja!"
"Nanti cukup berbincang sebentar dengan bapak ibu setelah itu kamu boleh pergi. Nanti mereka berpikir yang tidak-tidak tentang kamu kalau kamu tidak kelihatan," bujuk Linda lagi.
Erik berpikir untuk beberapa saat. "Baiklah, tapi aku hanya sebentar di sana."
Linda lega mendengar jawaban Erik.
Sore harinya mereka bertiga berangkat ke rumah orang tua Linda. Aruna sangat senang karena akhirnya dia bisa naik mobil ayahnya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu lama akhirnya mereka sampai dan mereka disambut hangat oleh orang tua Linda.
Erik berbincang dengan mertuanya, dan tidak sampai lima belas menit kemudian dia pamit pulang. Sebenarnya Linda tidak enak kepada bapak dan ibunya tetapi dia sendiri tidak berani mencegah Erik pergi.
"Erik kenapa terburu-buru sekali sih Lin?" tanya Pak Yanto, bapaknya Linda.
"Mas Erik mau mengantarkan penumpang Pak, mereka sudah memesan mobil jauh-jauh hari sebelumnya," jawab Linda seperti yang diperintahkan Erik.
"Syukurlah kalau pekerjaan Erik lancar."
Linda menundukkan wajahnya. Dia malu mendengar bapaknya berkata demikian. Jika pekerjaan Erik lancar tentunya dia tidak akan kebingungan mencari uang kesana kemari untuk membayar cicilan mobil.
"Kamu nginap kan?"
"Iya, sudah janjian sama mbak Sari."
"Bagus ... bapak senang. Suasana rumah jadi ramai kalau ada kalian. Bapak dan ibu sering merasa sepi kalau kalian jarang berkunjung."
Keesokan harinya...
Orang-orang mulai berdatangan. Saudara-saudara Pak Yanto satu persatu mulai datang bersama anak dan cucu mereka. Pak Yanto dan Bu Yanto menyambut tamu di depan rumah sementara Sari dan Linda menyiapkan makanan di belakang.
Semuanya baik-baik saja sampai Linda dan Sari selesai menyiapkan makanan lalu ikut bergabung dengan tamu-tamu yang lain.
Linda tampak tidak percaya diri dengan penampilannya. Dia sudah mengenakan pakaian terbaiknya tetapi tetap saja dia terlihat paling lusuh dan kuno diantara semuanya. Di tambah tubuhnya yang kurus kering membuat dia terlihat lebih tua dari usianya.
Sepupunya yang seusia dengannya memakai pakaian model terbaru dan juga perhiasan. Dan yang pasti mereka didampingi suami masing-masing sementara Linda tidak. Padahal acara ini diadakan di rumah orang tuanya tetapi justru Erik tidak ingin menunjukkan batang hidungnya.
"Erik mana Linda? Kok tidak kelihatan?" tanya salah satu saudara sepupu Linda.
"Mas Erik sedang ke luar kota," jawab Linda dengan memaksakan senyum di bibirnya. Seberapa sedih perasaannya dia tidak akan menunjukkannya pada orang lain.
__ADS_1
Sari bisa melihat ketidaknyamanan Linda. Dia berusaha membantu adiknya itu dengan mengalihkan pembicaraan dari orang yang mulai menanyakan Erik.
Linda terlihat tertekan selama acara berlangsung karena hampir semua orang yang menyapa dia menanyakan Erik. Meskipun demikian dia tetap berusaha tersenyum.
"Acara ini cuma sebulan sekali. Masa dia nggak mau meluangkan waktunya untuk datang? Kalau di rumah saudara yang lain dia tidak datang tidak apa-apa. Ini di rumah mertua sendiri masa tidak datang?" begitu bisik-bisik yang terus berdengung di telinga Linda.
Acara sudah selesai dan sekarang Linda dan Sari sedang beristirahat di kamar mereka ketika masih remaja dulu.
"Dia boleh malas bertemu orang-orang tetapi setidaknya dia bisa menjaga perasaanmu juga perasaan bapak dan ibu. Dari sekian banyak tamu, masa menantu bapak sendiri yang tidak kelihatan? Dia tidak sedang keluar kota kan?" Sebenarnya Sari sangat kesal dengan Erik. Terlebih dia tahu bagaimana sifat Erik sesungguhnya.
"Mbak Sari tahu sendirikan bagaimana Mas Erik?"
"Iya, tetapi kamu juga jangan diam saja Lin. Erik ini sudah keterlaluan. Kamu harus menegurnya, tidak perlu takut."
"Aku tidak ingin ribut dengan Mas Erik. Lagipula, bukankah aku harus patuh kepada suamiku?"
"Kamu bukan tidak ingin ribut, tetapi sebenarnya kamu takut sama suamimu. Jangan memanjakan suamimu terus! Pikirkan juga dirimu sendiri!"
Sari terus menatap Linda. Melihat pakaian lusuh yang dikenakan Linda membuat Sari semakin kesal.
"Kapan terakhir kali kamu dibelikan pakaian atau setidaknya dikasih uang untuk membeli pakaian baru?!" Seandainya Sari tahu Linda akan memakai pakaian seperti itu, tentu dia akan membawakan Linda salah satu bajunya yang jauh lebih layak dipakai.
Linda tidak bisa menjawab karena mungkin itu sudah dua atau tiga tahun yang lalu.
"Tapi aku mencintainya Mbak. Aku tidak masalah memakai pakaian seperti ini. Mungkin dia seperti itu karena keadaan ekonomi kami sedang sulit. Nanti kalau dia sudah mempunyai penghasilan tetap pasti dia akan memberiku uang yang cukup. Aku mencintai Mas Erik."
"Pikirkan lagi Lin, kamu tidak mencintai Erik, tetapi kamu takut sama Erik. Kalau kamu cinta kamu tidak ketakutan sama orang yang kamu cintai."
Tidak peduli seberapa buruk perlakuan Erik kepadanya, Linda selalu berusaha menerimanya. Dia mencintai suaminya dan ingin selalu membuat dia bahagia salah satunya dengan memenuhi keinginannya. Menurutnya pengorbanan yang dia lakukan selama ini adalah wujud cintanya kepada suaminya.
Tetapi kalimat yang baru saja keluar dari mulut Sari membuat Linda berpikir ulang. Kenapa setiap bersama Erik justru perasaan Linda selalu cemas dan takut. Dia selalu merasa terintimidasi. Dia sangat berhati-hati jika ingin bicara kepada Erik. Kata-katanya dia buat sehalus mungkin agar Erik tidak marah atau tersinggung. Apa seperti itu cinta?
__ADS_1