
Linda tengah berkutat dengan kain dan benang ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Linda langsung menjawab telepon itu karena Aruna yang menelepon.
"Ibu ... " Suara Aruna dari seberang telepon.
"Iya sayang, ada apa?"
"Apa nanti malam ibu pulang?" Sepertinya Aruna sudah tahu jika ibunya tidak akan pulang malam ini.
"Mungkin besok pagi. Ibu masih banyak pekerjaan sekarang." Linda memang masih punya banyak sekali pekerjaan. Bahkan mau di lembur sampai besok pagi pun belum tentu selesai.
Aruna diam beberapa saat. Mungkin dia kecewa.
"Apa boleh Runa menginap di rumah ayah?" tanya Aruna tiba-tiba.
Linda tidak langsung menjawab. Beberapa jam di rumah ayahnya mungkin boleh-boleh saja. Tetapi kalau sampai menginap rasanya dia belum bisa mengijinkannya. Lagi pula Minggu ini adalah jatahnya bersama Aruna.
"Ibu ... Apa boleh Runa menginap di rumah ayah?" Aruna mengulangi pertanyaannya.
"Kenapa tiba-tiba ingin menginap di rumah ayah?"
"Bukankah ibu pulangnya besok pagi? Malam ini Runa kesepian kalau ibu tidak pulang. Jadi aku ingin menginap di rumah ayah."
"Bukankah ada nenek dan kakek? Runa juga bisa minta nenek mengantarkan ke rumah kakak Tika, Runa boleh menginap di rumah kakak Tika."
"Setiap hari Runa bersama kakek dan nenek Bu. Runa juga sudah sering menginap di rumah kak Tika. Runa bosan."
"Besok kalau ibu pulang bagaimana? Masa ibu sudah jauh-jauh pulang Runa malah tidak di rumah?"
"Besok aku akan minta ayah mengantar Runa pulang pagi-pagi sekali. Sebelum ibu pulang. Boleh ya Bu?!"
"Apa kakekmu memberi ijin?"
"Kakek menyuruhku bertanya pada ibu. Kalau ibu mengijinkan kakek juga mengijinkan. Makanya Runa telepon ibu. Boleh ya bu?" Aruna mulai merengek.
Sebenarnya Linda tidak ingin memberikan ijin, tetapi kasihan juga. Toh malam ini dia juga sibuk dengan pekerjaannya.
"Baiklah ... Sekali ini saja."
__ADS_1
"Terima kasih ibu, sampai jumpa." Aruna langsung menutup teleponnya. Sepertinya dia sangat bahagia karena mendapat ijin dari ibunya. Linda tersenyum memandangi ponselnya. Sedih dan bahagia dia rasakan bersamaan. Sedih karena anaknya sudah tidak begitu mengharapkan kehadirannya tetapi dia juga bahagia karena Aruna bahagia.
Memang setelah Aruna lebih dekat dengan ayahnya dia menjadi riang dan terlihat lebih bahagia. Linda bisa melihat dan merasakan itu. Karena itu pula sikapnya kepada Erik sedikit melunak meskipun dia tetap menjaga jarak.
Aruna selalu menceritakan kebaikan ayahnya setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama. Kadang Linda sampai iri mendengar Aruna menceritakan sang ayah.
Sering Linda bertanya-tanya apa benar Erik sebaik itu sekarang? Tetapi mendengar Aruna selalu memuji-muji ayahnya rasanya mungkin saja. Anak itu tidak mungkin bohong.
*
Minggu pagi
Linda sudah sampai di rumah orang tuanya. Rasanya dia tidak bersemangat masuk karena tidak ada Aruna yang menyambut kedatangannya seperti biasanya.
Bu Yanto sedang di kebun memetik sayuran. Lalu Linda menghampiri sang ibu yang tidak mengetahui kedatangannya.
"Aruna belum di antar pulang Bu?" tanya Linda kepada ibunya.
Bu Yanto sedikit tersentak. "Kamu ini bikin ibu kaget saja Lin! Belum ... Erik janji akan mengantarnya pagi ini. Tetapi tidak tahu jam segini kenapa belum diantar."
Linda menengok jam di ponselnya. "Ini sudah jam delapan. Apa perlu aku jemput?"
"Tidak, akan ku tunggu sebentar lagi." Linda menolak saran dari ibunya. Dia malas kalau harus menelepon Erik lebih dulu.
"Apa ibu juga sudah percaya pada Mas Erik?"
"Apa maksudmu?"
"Akhir-akhir ini Aruna sering sekali membicarakan ayahnya, bahkan lebih banyak memujinya. Tidak tahu kenapa aku masih belum bisa mempercayai Mas Erik sepenuhnya."
"Mungkin itu karena kamu masih menyimpan amarah padanya. Dia baik Lin." Bu Yanto tersenyum. "Sekarang lebih sopan kepada bapakmu dan juga lebih banyak ngobrol. Seperti lebih dewasa gitu."
"Masa sih Bu?" Linda mulai ikut memetik sayuran.
"Ibu juga tidak akan percaya kalau tidak melihatnya sendiri dengan mata kepala ibu. Ibu tidak mengerti, dulu ketika dia masih menjadi menantu ibu sikapnya seperti itu. Sesukanya, tidak tahu sopan santun, sombong. Datang ke rumah ini juga hanya sesekali. Lebih sering kamu yang datang sendiri atau bersama Runa." Bu Yanto bicara sambil memetik sayuran yang akan dia masak.
"Sekarang setelah dia bukan lagi menantu di rumah ini, dia malah sering sekali datang. Entah mengantar sesuatu untuk Aruna atau untuk bapakmu, untuk ibu. Ada saja alasannya untuk datang kemari. Runa juga, senang sekali jika ada ayahnya. Kenapa tidak sejak dulu dia seperti ini?"
__ADS_1
Linda diam mendengarkan cerita ibunya.
"Ibu rasa sudah saatnya kita mulai mempercayai Erik. Buanglah rasa curigamu. Selama ini Aruna dia antarkan pulang dengan selamat dan tidak kenapa-kenapa. Masa iya dia mau menyakiti anaknya sendiri?"
Semua orang percaya dengan perubahan Erik. Linda tidak punya pilihan lagi selain mulai menaruh kepercayaan kepada laki-laki itu.
Linda kembali melihat jam di ponselnya. "Sudah jam sembilan, kenapa belum diantar juga?" gumam Linda tidak sabar.
"Kalau kamu tidak sabar ingin bertemu Aruna telfon saja Erik. Minta dia mengantarkan Aruna sekarang," saran Bu Yanto.
Tiba-tiba ponsel Linda berdering. Erik yang menelfon.
Dengan segera Linda menjawab telepon itu.
"Halo ... "
"Lin ... Aruna tidak mau aku antar pulang. Dia masih betah bermain bersama Sella."
"Oh ... " Hanya itu yang keluar dari bibir Linda.
"Aku jadi tidak enak kepadamu. Apa dia boleh tinggal di sini lebih lama?" tanya Erik dengan halus.
Linda tidak bisa menjawab. Dia sudah usahakan untuk pulang disela kesibukannya demi Aruna. Kalau sampai disini dia tidak bertemu anaknya maka sia-sia saja dia pulang. Selain itu, hari ini adalah jatahnya bersama Aruna. Seharusnya saat ini Aruna sedang bersamanya bukan bersama ayahnya.
"Atau mungkin kamu mau menjemputnya. Siapa tahu dia mau pulang jika kamu yang menjemputnya?!"
"Baiklah, aku akan ke sana." Linda menutup teleponnya.
Tanpa berpikir panjang Linda langsung menyetujui saran Erik. Dia tidak menaruh curiga sedikitpun dengan perkataan Erik. Dia ingin segera ingin bertemu Aruna karena sudah dua minggu mereka tidak bertemu..
Kalau dia menunggu sampai Aruna mau pulang mungkin bisa sore. Dan itu artinya dia hanya bisa sebentar bersama Aruna karena malamnya dia harus kembali ke kota.
"Dari ayahnya Aruna?" tanya Bu Yanto.
"Iya, ayahnya bilang dia tidak mau pulang. Tumben? Biasanya tidak sabar kalau tahu aku pulang?!"
"Namanya juga anak-anak Lin. Mungkin dia sedang melepas kangen sama itu tetanggamu dulu, si Sella atau siapa namanya. Hampir tiap malam dia bilang ingin main ke rumah Sella."
__ADS_1
"Aku mau menjemput Aruna dulu Bu," pamit Linda kepada ibunya.