Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 13. Bucin Bodoh


__ADS_3

Erik baru saja pulang. Dia langsung ke ruang makan dan tidak menemukan apapun di meja makan. Erik terlihat kesal. Dia segera mencari Linda ke ruang jahitnya.


Erik tertegun karena tidak menemukan Linda di sana. Biasanya Linda selalu ada di ruang menjahit tidak peduli jam berapa.


Erik melihat jam di pergelangan tangannya. Baru jam sembilan malam. Erik mencari Linda ke kamar dan menemukan dia sudah tidur.


"Linda, bangun!"


Linda menggeliat pelan. Ini pertama kalinya dia tidur tanpa menunggu Erik pulang.


"Bangun!" ulang Erik.


"Ada apa Mas?"


"Kamu tidak masak?"


"Tidak," jawab Linda cepat.


"Masakkan sesuatu untukku, aku lapar!"


"Aku capek Mas, kamu beli saja makanan di luar," jawab Linda tanpa berpikir. Dia benar-benar merasa lelah karena ini pertama kalinya dia menempuh jarak yang jauh dengan mengayuh sepeda. Selain itu dia juga sedang merasa kesal kepada Erik.


"Heh ...!!! Bicara apa kamu?!! Aku capek-capek pulang kerja kamu tidak menyiapkan makanan malah menyuruh aku beli di luar?!! Sudah gila ya?!!"


"Aku juga capek Mas. Kamu masih mending naik mobil. Aku tadi naik sepeda mengelilingi kota!" jawab Linda yang terdengar seperti sedang mengigau. Erik tidak berkutik mendengar jawaban menohok dari Risma.


Erik segera menarik tangan Linda dan menyeretnya bangun dari tempat tidur.


"Berani ya kamu sekarang?!"


Linda tidak menjawab. Dia menghempaskan tangan Erik lalu melotot balik kepada Erik. Rasa cemburu karena melihat Erik bersama perempuan lain membuat dia tidak merasa takut kepada Erik. Biasanya sekali bentak saja Linda sudah ketakutan dan gemetar.


Erik menatap Linda dengan tatapan aneh. Ini tidak seperti Linda yang dia kenal biasanya.


Linda kembali ke tempat tidur dan membenarkan selimutnya. Dia lalu berbaring kemudian memejamkan matanya tanpa menghiraukan Erik yang masih berdiri mematung menatapnya. Sepertinya Erik masih terkejut karena Linda berani melawannya.

__ADS_1


Pagi harinya...


Linda melakukan kegiatannya seperti biasa. Dia memasak, mencuci dan melakukan pekerjaan yang lainnya setelah selesai semua barulah dia menjahit.


Dari ruang menjahitnya Linda bisa mendengar suara berisik dari ruang makan. Linda bisa menebak, itu pasti Erik baru bangun tidur dan langsung makan.


Linda melihat jam dinding, sudah hampir jam sebelas dan Erik baru bangun. Erik bisa bersantai-santai sekarang karena dia tidak perlu memikirkan uang angsuran untuk dua bulan ke depan.


Linda kembali teringat kemarin di restoran cepat saji. Dada Linda kembali bergemuruh. Itu pertama kalinya dia melihat Erik bersama perempuan lain.


Erik mungkin egois, pelit dan kasar tetapi dia tidak pernah menduakan dirinya. Erik tidak pernah terlibat hubungan dengan perempuan lain bahkan ketika dia masih kaya dulu. Itulah yang membuat Linda terus bertahan bersama Erik. Karena dia perempuan satu-satunya di hidup Erik.


"Lin, kemejaku uang warna hitam dimana?" Tiba-tiba Erik muncul di samping mesin jahit Risma.


"Ada di tumpukan baju yang belum aku setrika," jawab Linda dingin.


"Tolong setrika sekarang, mau aku pakai!"


"Aku sibuk Mas, jahitan ini mau diambil nanti sore. Jadi harus aku selesaikan sekarang!" jawab Linda tanpa melihat ke arah Erik.


Sekali lagi Erik terkejut dengan tingkah Linda yang tidak biasanya. Belum pernah sekalipun Linda mengacuhkan dirinya seperti ini.


"Aku tidak apa-apa Mas, aku memang sedang sibuk sekarang!" jawab Linda tanpa sedikitpun menunjukkan rasa takutnya pada Erik.


Erik menarik Linda hingga sekarang dia berdiri dan posisinya berhadapan dengan Erik.


"Lihat aku ketika aku sedang bicara padamu! Apa kamu sudah bosan menjadi istriku?!! Kamu ingin aku mengembalikan kamu ke orang tuamu?!!" bentak Erik.


"Kalau kamu terus seperti ini aku tidak segan-segan untuk menceraikan kamu!!!" Erik mendelik dengan mata berapi-api.


"Kamu mau aku pulangkan ke rumah orang tuamu? Kamu mau aku ceraikan?!"


Cerai?! Itu ada kata yang sangat menakutkan bagi Linda.


Linda terdiam. Biasanya dia ketakutan jika Erik menyebutkan kata itu tetapi kali ini Linda seperti tidak peduli.

__ADS_1


Erik melepaskan tangannya perlahan dari Linda. Tatapannya mulai melunak. Dia merasakan ada yang berbeda dari Linda.


"Lin ... Kamu kenapa sih?! Aku tidak serius."


"Serius juga tidak apa-apa Mas!" jawab Linda pelan.


Erik tertegun mendengar jawaban Linda. Jawaban Linda yang tidak terduga membuat Erik menyesali kata-katanya. Kata cerai itu hanya gertakan semata. Dia tidak mungkin menceraikan Linda karena saat ini dia masih membutuhkannya. Lagi pula siapa yang akan mengurus dan menyiapkan keperluannya jika dia bercerai dari Linda.


"Kamu ngomong apa sih? Kamu sakit?" Erik meraba kening Linda. "Katakan kamu ada masalah apa?" Sikap Erik langsung berubah sangat lembut. Dia harus bisa mengambil hati Linda karena dia masih membutuhkannya. Linda yang jarang mendapat perlakuan seperti ini dari Erik pun langsung luluh.


"Kemarin aku melihat kamu bersama seorang perempuan sedang makan. Siapa dia Mas?" Dengan mata berkaca-kaca Linda menceritakan apa yang dia lihat kemarin.


"Kamu lihat aku dimana?"


"Di restoran cepat saji. Sudah aku bilang kan kemarin aku ke kota untuk membeli alat-alat menjahit? Aku melihat kamu di sana!"


"Oh ... Itu ... Kamu jangan salah paham dulu. Dia itu penumpang yang memintaku menemani dia mengajak makan," jawab Erik asal.


"Kalau dia penumpang lalu kenapa kamu memegang tangannya?" tanya Linda polos.


"Eh ... Itu ... Dia bilang dia gugup karena akan bertemu kekasihnya yang sudah lama tinggal di luar kota. Dia memintaku memegang tangannya untuk mengetahui dia kelihatan gugup atau tidak," Linda mendengarkan dengan seksama jawaban tidak masuk akal dari Erik.


"Benarkah?"


"Tentu saja sayang ... kamu pikir dia siapaku? selingkuhanku? Hahaha ... " Erik tertawa keras. "Mana mungkin perempuan secantik dia mau menjadi selingkuhanku. Kamu jangan ngarang!" ucap Erik sambil merangkul pundak Linda.


"Benar juga ya Mas?" Linda yang bucin percaya saja dengan jawaban Erik. Lagi pula jawaban Erik cukup masuk akal. Mana mungkin perempuan secantik itu mau dengan Erik yang hanya supir taksi.


"Kami tidak bohong kan Mas?"


"Tentu saja tidak! Kamu cuma salah paham Linda sayang ... Sudah ya salah pahamnya, sekarang kamu setrika bajuku karena mau segera aku pakai," ucap Erik sambil mencubit pipi Linda. Seperti terhipnotis, Linda langsung melakukan perintah Erik tanpa melawan lagi.


"Dasar bodoh!" gumam Erik setelah Linda pergi. Erik menatap kepergian Linda dengan tatapan licik.


"Sudah selesai Mas ... ini!" ucap Linda dengan wajah yang cerah. Dia kembali sambil membawa baju yang Erik maksudkan. Baju itu sudah rapi dan harum karena sudah disetrika.

__ADS_1


"Terimakasih kasih ya sayang. Kamu memang istri idaman." Erik mengecup kening Linda.


Linda mengangguk malu. Linda yang bucin akut tersipu-sipu mendapatkan perlakuan seperti itu dari Erik.


__ADS_2