Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 23. Buku Nikah


__ADS_3

"Apa kamu ingin membuatku malu dan menjadi bahan gunjingan orang?!!"


Linda bergegas masuk. Kata-kata Erik seperti mengandung sihir yang membuat dia menurut tanpa berani membantah. Dia tetap masuk meski tidak tahu akan seperti apa nasibnya nanti dalam.


"Mau apa kemari?" tanya Erik begitu Linda masuk ke dalam rumah.


"A ... Aku ... " Linda bahkan sampai kehilangan suaranya.


"Mau bicara apa?!"


Linda melirik Diana yang duduk manis di atas sofa sambil memandangi kuku-kukunya. Rasanya Linda tidak bisa mengatakan maksud kedatangannya jika ada Diana diantara mereka.


"Kenapa? Tidak suka ada Diana di sini?" Erik memperhatikan sekilas Linda melirik ke arah Diana.


Linda menggeleng ketakutan.


"Mas ... Bapak ingin kita berpisah. Minta maaflah kepada bapak dan ibu, setelah itu mereka pasti akan memaafkan kamu dan mengijinkan aku kembali ke rumah ini."


Erik tertawa mendengar kata-kata Linda.


"Tapi aku tidak mau kita berpisah, kamu juga tidak ingin kita berpisah kan Mas?"


Erik kembali tertawa. "Tentu saja aku mau!" jawab Erik cepat.


Linda tidak percaya mendengar jawaban Erik. "Mas ...?! Katakan itu tidak benar. Kamu tidak ingin berpisah dariku bukan?" Linda berharap masih ada sedikit saja rasa cinta di hati Erik untuknya.


Erik mendekatkan tubuhnya kepada Linda lalu membisikkan sesuatu di telinga Linda. "Dengar, aku sudah memiliki Diana sekarang. Dia sudah memenuhi semua kebutuhanku. Jadi kamu sudah tidak ada gunanya lagi bagiku. Mau cerai kapanpun aku bersedia!" bisik Erik di telinga Linda.


"Kalau kamu tidak masalah bercerai dariku lalu kenapa kamu menyembunyikan buku nikah kita? Bukankah itu tandanya kamu tidak ingin berpisah denganku?" Linda tidak kuasa menahan air matanya. Dia tidak menginginkan perceraian ini. Mau seburuk apapun Erik, dia tetap mencintainya karena Erik adalah laki-laki pertama dalam hidupnya.


"Aku tidak menyembunyikannya!" sangkal Erik. "Waktu itu aku ingin segera mengantarkannya kepadamu tetapi aku tidak sempat. Kalau kamu datang untuk mengambilnya, itu malah kebetulan sekali. Aku tidak perlu repot-repot ke rumahmu dan bertemu bapak dan ibumu!"


Hati Linda seperti teriris-iris mendengar jawaban Erik. Niatnya datang kesini adalah untuk membujuk Erik agar dia mau meminta maaf kepada orang tuanya atas apa yang sudah dia lakukan, berharap rumah tangganya dan Erik masih bisa diselamatkan. Tetapi Linda justru mendapat jawaban yang tidak dia inginkan.

__ADS_1


"Kamu ingin berpisah dariku bukan? Ya sudah, aku menceraikan kamu sekarang juga!"


Bagaikan di sambar petir, Erik mudah sekali mengucapkan kata cerai kepadanya.


"Mas ... " Linda tidak kuasa berkata-kata. Dia hanya bisa menatap laki-laki yang sangat dicintainya itu dengan tatapan putus asa. Sudah sejauh ini pengorbanannya untuk Erik tetapi Erik dengan mudah mencampakkan dirinya. Erik sudah menemukan perempuan yang mampu memenuhi semuanya kebutuhannya sehingga dia tidak lagi berguna untuk Erik.


"Erik ... Apa masih lama? Kalau memang masih ada yang harus kamu urus aku bisa pergi dan kembali lagi nanti." Diana berteriak manja dari tempat duduknya.


"Sebentar ya Sayang ... Ini sudah selesai." Erik membalas pertanyaan Diana dengan mesranya.


"Ini buku nikah yang kamu inginkan. Kamu urus saja semuanya sendiri aku tidak peduli! Sekarang kamu bisa pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" Erik mengusir Linda keluar. "Dan ingat, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi!"


Sakit sekali hati Linda. Tetapi dia berusaha kuat. Dia menghapus air matanya lalu melangkah keluar dari rumah Erik. Sampai di luar pun Linda tidak bisa kemana-mana karena sepeda motornya tertutup oleh mobil Diana.


Linda ingin menangis sekencang-kencangnya tetapi dia menahannya.


Tak berselang lama Erik dan Diana keluar dari rumah. Erik berjalan sambil menggandeng tangan Diana, hal yang jarang sekali Erik lakukan kepada Linda. Dia seperti sengaja ingin membuat hati Linda semakin sakit.


"Jangan lupa nanti kunci rumahmu segera diganti agar orang asing tidak bisa masuk," ucap Diana saat mereka berjalan melewati Linda seolah orang asing yang Diana maksud adalah Linda.


Lalu mereka berdua pergi menggunakan mobil Diana. Linda hanya bisa menatap kepergian mereka dalam kebisuan. Sejak tadi yang dia inginkan hanyalah segera pergi dari rumah ini. Tetapi ketika dia bisa pergi justru kakinya tidak ingin melangkah. Berat sekali meninggalkan rumah ini untuk selamanya.


Linda menyandarkan tubuhnya di dinding sambil memandangi rumah yang sudah bertahun-tahun dia tempati. Akhirnya dia mengeluarkan tangisnya tanpa bisa dia tahan lagi.


Linda menangis sesenggukan untuk beberapa lama.


Linda menghapus air matanya. Dia kembali berdiri tegak dan melangkahkan kakinya. Sudah saatnya dia menjemput Aruna sekolah.


*


Sepanjang perjalanan pulang Linda terus melamun. Aruna bahkan sampai beberapa kali mengingatkan ibunya karena beberapa kali juga sepeda motor yang mereka naiki hampir menyenggol kendaraan lain.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Aruna yang sedang dibonceng Linda.

__ADS_1


Linda tidak menjawab.


"Kalau ibu lelah kita bisa berhenti dan beristirahat dulu," ucap Aruna lagi. Tetapi Linda masih tidak menjawab. Sepertinya pikirannya sedang berada di dunia lain.


"Ibu?!!" Aruna memanggil ibunya dengan suara yang lebih keras. Linda tersentak lalu menepi dan menghentikan motornya.


"Kenapa Runa? Kamu tidak apa-apa?" Linda panik.


"Ibu yang kenapa? Apa ibu tidak apa-apa? Sejak tadi Runa mengajak ibu bicara tetapi ibu diam saja."


"Oh ... " hanya itu yang keluar dari bibir Linda.


"Ibu tidak apa-apa?" Aruna mengulang pertanyaannya untuk yang kesekian kalinya.


"Tidak, ibu tidak apa-apa," jawab Linda. "Ayo kita lanjutkan perjalanan."


Akhirnya Linda sampai di rumah. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan mengurung diri di kamarnya. Dia ingin memikirkan semuanya terlebih dahulu sebelum bicara dengan kedua orang tuanya.


Setelah makan malam, Linda bicara dengan bapaknya dan ibunya sementara Aruna sedang belajar di kamarnya.


"Tadi aku sudah mengambil buku nikah di rumah Mas Erik. Jadi aku bisa mengurus perceraianku secepatnya," ucap Linda datar.


Pak Yanto hanya mengangguk mendengarkan Linda.


"Kalau kamu takut sendirian, minta Sari untuk menemani kamu mengurus semuanya." Pak Yanto diam untuk beberapa saat.


"Maafkan Bapak Lin, Bapak dulu terburu-buru menerima pinangan Erik dan sekarang Bapak juga yang menyuruh kamu berpisah darinya."


Linda terdiam.


"Meskipun kamu sudah punya anak, bagi bapak kamu dan Sari tetaplah puteri kecil bapak. Sampai kapanpun bapak tidak akan terima jika ada yang menyakiti kalian." Suara Pak Yanto mulai serak.


"Bapak dan ibu membesarkan kalian dengan penuh kasih sayang. Jadi mana mungkin bapak tega melihat kamu hidup menderita seperti itu? Orang tua mana yang bisa membiarkan anak kesayangan mereka dianiaya suaminya sendiri?"

__ADS_1


Linda menangis sesenggukan mendengar kalimat bapaknya. Mungkin memang benar, cerai adalah jalan terbaik untuknya.


__ADS_2