
Hari ini rencananya Linda akan mendaftarkan gugatannya ke pengadilan dan Sari siap menemaninya. Kakaknya itu begitu semangat mendengar dia akhirnya mau berpisah dengan Erik.
Bukannya Sari tidak ingin rumah tangga Linda langgeng, tetapi memang tidak ada yang bisa diharapkan jika Linda terus bersama Erik. Yang ada Linda hanya akan semakin tersiksa dan tidak akan pernah bahagia.
Terdengar suara pintu di ketuk.
Linda gegas berdiri untuk membukakan pintu karena dia pikir itu pasti Sari yang datang.
"Apa ini tidak kepagian Mbak?" tanya Linda tanpa memperhatikan siapa yang berdiri di depan pintu. Dia memang sudah janjian dengan Sari tetapi tidak sepagi ini.
"Lin ... " Bukan suara Sari yang terdengar. "Bisa kita bicara sebentar?"
"Mas Erik?!" Linda melotot tidak percaya melihat Erik benar-benar berdiri di hadapannya.
"Aku ingin bicara denganmu. Boleh kan?" Erik menatap Linda dengan tatapan yang seperti mengatakan jika dia sedang jatuh cinta kepada Linda, lagi. Suaranya yang sengaja dibuat lembut langsung bisa membuat Linda terhipnotis. Linda sama sekali tidak merasa ketakutan atau gemetar seperti biasanya.
Linda tidak bisa berkata-kata saking terpesonanya melihat Erik. Bibirnya ingin mengatakan tidak tetapi seperti tanpa sadar dia menganggukkan kepalanya.
Senyum merekah di bibir Erik melihat Linda mengangguk. Dia tahu pasti Linda tidak akan pernah bisa menolaknya.
Erik segera masuk lalu Linda mempersilahkan dia duduk.
"Mau bicara apa Mas?" tanya Linda datar. Dia berusaha bersikap biasa.
Erik duduk mendekati Linda. Dia segera meraih tangan Linda dan menggenggamnya erat.
"Lin ... Aku ingin minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan kepadamu. Aku mohon kamu mau memaafkan aku. Aku ingin kita tetap bersama, tolong lupakan kata-kataku kemarin. Aku tidak sadar sudah mengatakannya. Kamu mau memaafkan aku kan sayang?"
Mendengar kalimat seperti ini saja rasanya hati Linda ingin meledak. Dia bahagia akhirnya Erik menyadari kesalahannya. Linda seperti lupa apa yang sudah Erik lakukan kepadanya.
"Apa kamu sungguh-sungguh Mas?"
__ADS_1
Erik mengangguk dan terus menatap Linda dengan tatapan hangat. Raut wajahnya seperti menunjukkan kesungguhan yang membuat Linda hampir tersenyum karena tidak bisa menahan rasa bahagianya.
"Aku mohon kamu pulang ke rumah ya sayang?" rayu Erik. "Aku tidak ingin kita berpisah. Aku kangen sekali sama kamu."
Betapa Linda ingin melompat kegirangan mendengar rayuan Erik. Wajahnya tersipu dan dia pun menjadi salah tingkah.
"Kamu harus bicara sama bapak dan ibu dulu Mas, mereka mungkin tidak mengijinkan aku kembali ke rumahmu."
"Bukankah bapak dan ibu tidak di rumah? Mereka sedang di sawah kan?"
"Tidak, bapak dan ibu sedang di belakang membersihkan kebun. Sebentar ... Akan ku panggilkan," ucap Linda seraya beranjak dari tempat duduknya.
Erik tidak bisa menolak keinginan Linda. Jika ini adalah cara agar dia bisa membawa Linda kembali pulang ke rumahnya maka Erik akan melakukannya.
Setelah percakapan yang alot akhirnya Pak Yanto dan Bu Yanto mengijinkan Linda kembali ke rumah Erik. Tetapi sebelumnya Pak Yanto memberikan ancaman jika nanti Erik sampai berbuat kasar lagi kepada Linda, maka Pak Yanto tidak segan-segan akan melaporkan Erik ke pihak berwajib.
Sebenarnya baik Pak Yanto dan Bu Yanto sama-sama keberatan dengan keinginan Linda untuk kembali bersama Erik. Tetapi keinginan Linda untuk tetap bersama Erik sangatlah kuat. Dan juga Erik sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi membuat Pak Yanto rela melepas Linda kembali kepada Erik.
"Ini pakaian Aruna sudah selesai ibu kemas." Bu Yanto memberikan kardus besar berisi pakaian juga buku-buku sekolah Aruna.
Bu Yanto mengangguk. Sejak tadi dia membantu Linda berkemas karena akan kembali ke rumah Erik. Sebenarnya Bu Yanto masih belum percaya sepenuhnya dengan perubahan sikap Erik. Tetapi melihat wajah Linda yang terus menyunggingkan senyum kebahagiaan, Bu Yanto hanya bisa memendam kecurigaannya sendiri. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Linda.
"Sudah semua?" tanya Erik setelah dia selesai memasukkan kardus berisi pakaian dan barang-barang Aruna ke dalam mobil.
Linda mengangguk. "Iya."
"Mesin jahit sama barang berat yang lain nanti biar bapak antar pakai pick up."
"Terima kasih Pak. Kami pergi dulu," pamit Erik. Tidak lupa dia mencium tangan kedua mertuanya itu sebelum masuk ke dalam mobil. Kalau seperti ini Erik benar-benar terlihat seperti menantu yang santun dan kalem. Linda sangat bahagia melihat sikap Erik yang begitu sopan kepada kedua orang tuanya.
"Kita pergi sekarang?" tanya Erik dengan lembut. Linda tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Pak tolong jelaskan kepada Mbak Sari jika nanti dia datang," teriak Linda dari dalam mobil. Dia sampai melupakan janjinya dengan Sari.
"Iya," balas Pak Yanto.
Linda melambaikan tangannya dan mobil pun melaju.
"Lin, memangnya kamu ada janji apa dengan Mbak Sari?" tanya Erik setelah mereka mulai menjauh dari rumah orang tua Linda.
"Mbak Sari mau mengantar aku ke pengadilan untuk mengurus perceraian kita," jawab Linda jujur.
"Oh ... " Erik mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya Erik lebih takut kepada Sari daripada kepada kedua orang tua Linda. Sari tidak segan untuk bersikap tegas bahkan kepada Erik pun dia terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya. Erik sangat sadar itu.
"Mas ... Kamu janji akan meninggalkan Diana kan?"
"Iya Linda sayang ... Aku sudah tidak ada hubungan dengannya. Aku sudah memikirkan semuanya, dan sekarang aku sadar ternyata memang aku tidak bisa hidup tanpa kamu," jawab Erik sambil mencubit pipi Linda.
Betapa hati Linda sangat bahagia hingga senyum tidak bisa lepas dari bibirnya. Erik terus memperlakukan dia dengan lembut dan juga mesra membuat Linda yakin Erik benar-benar berubah.
"Nanti sampai rumah terus masak ya, aku kangen banget sama masakan kamu."
Tanpa berpikir dua kali Linda langsung mengangguk mengiyakan keinginan suaminya.
*
*
Sudah sebulan berlalu setelah Linda kembali ke rumah Erik. Seperti janjinya Erik benar-benar tidak berhubungan dengan Diana. Sikapnya kepada Linda juga lebih baik meskipun terkadang tetap menyebalkan.
"Lin ... Sudah mau waktunya bayar cicilan mobil. Nanti kamu bantu ya kalau uangku tidak cukup." Setelah beberapa bulan Linda bebas dari kata-kata cicilan akhirnya dia kembali mendengar kata itu.
"Aku tidak janji Mas. Jahitanku sedang sepi, mungkin aku tidak bisa mengumpulkan uang banyak." Linda sudah tidak begitu takut kepada Erik. Dia tahu Erik tidak akan berani macam-macam lagi kepadanya karena ancaman Pak Yanto.
__ADS_1
"Lagian ngapain sih kamu pakai acaranya pindah ke rumah bapakmu segala? Pelangganmu jadi pada kabur kan?!"
"Kalau kamu tidak memukuli aku juga aku tidak akan pindah ke rumah bapak Mas!"