Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 37. Ayah


__ADS_3

Linda sudah sampai di depan rumah orang tuanya. Setelah kemarin dia tidak bisa pulang karena harus mengikuti pagelaran busana, akhirnya hari ini dia bisa menginjakkan kakinya di rumah orang tuanya.


Setelah hari itu Aruna tidak meneleponnya. Dia juga tidak menelepon menanyakan kenapa hari Minggu kemarin dia tidak pulang padahal biasanya Aruna yang paling heboh jika akhir pekan. Entah dia minta dijemput atau minta dibelikan sesuatu. Linda pikir Aruna marah karena dia tidak mengijinkannya pergi dengan ayahnya.


Perjalanan jauh membuat tubuh Linda terasa lelah. Linda mengistirahatkan tubuhnya di teras rumah sambil menunggu orang tuanya pulang. Ini tepat tengah hari, waktunya ibu dan bapaknya pulang dari sawah. Sementara Aruna mungkin belum pulang dari sekolah karena dia sudah kelas tiga, pulangnya sedikit lebih siang.


Linda menikmati semilir angin di teras rumah orangtuanya hingga akhirnya dia tertidur. Rumah yang masih asri dikelilingi pohon-pohon yang rindang membuat suasana rumah terasa sejuk. Linda kelelahan karena selain jadwal kuliahnya yang padat dia juga kurang tidur mengerjakan desain untuk acara pagelaran busana.


"Lin, bangun." Suara lembut Bu Yanto membangunkan Linda.


Linda mengerjapkan matanya. "Ibu sudah pulang? Mana Bapak?" Linda celingukan mencari bapaknya.


"Bapakmu masih di sawah. Mungkin sebentar lagi sampai. Kamu sudah dari tadi? Kenapa tidak menyusul ibu di sawah untuk mengambil kunci rumah?"


Linda menengok jam di ponselnya. Setidaknya dia sudah tertidur selama lima belas menit. "Belum lama kok Bu."


"Ayo masuk." Bu Yanto membukakan pintu untuk Linda. "Kemarin Aruna seharian menunggumu pulang. Lain kali kalau tidak bisa pulang itu kasih kabar. Jadi anakmu tidak nungguin dan kecewa."


"Benarkah?" Linda masih berpikir jika Aruna marah. "Kemarin aku ada acara mendadak. Tetapi kenapa Aruna tidak meneleponku?" Linda memang tidak memberitahu soal pagelaran busana yang dia ikuti.


"Dia duduk di teras seharian. Diajak main teman-temannya juga tidak mau, katanya takut kalau kamu pulang dia tidak di rumah. Dia pikir kamu marah kepadanya. Memangnya kalian berdua masalah apa?"


Linda jadi merasa bersalah mendengar penjelasan ibunya. Dia pikir Aruna marah kepadanya dan sebaliknya. Linda segera masuk untuk meletakkan barang-barang bawaannya.


"Aku mau menjemput Aruna. Dia pulang jam satu kan Bu?"


"Iya, sudah sana berangkat! Ini sudah hampir jam satu, nanti dia kelamaan menunggu."


Linda mengangguk dan segera berangkat untuk menjemput Aruna.


*


"Ini hari Senin, apa ibu tidak bekerja?" Aruna bertanya sambil menyeruput es buah di depannya. Salah paham diantara mereka sudah terselesaikan.


"Iya, ibu ambil cuti. Jadi selama empat hari ke depan ibu akan menemani Runa."


"Ibu serius?" Aruna tidak percaya. Selama dua tahun ini ibunya sibuk sekali dengan kegiatannya. Hanya bisa pulang hari Minggu saja.

__ADS_1


Linda mengangguk meyakinkan.


"Yeay .... !!! Aruna bersorak kegirangan. "Nanti kita main ke rumah kak Tika ya Bu, sama kak Sella juga. Sudah lama sekali Runa tidak bermain bersama kak Sella."


Linda mengangguk mengiyakan keinginan Aruna. Linda akan berpikir ribuan kali untuk menghantarkan Aruna ke rumah Sella mengingat rumah Erik dan Sella sangat dekat. Kalau Linda sampai ke sana besar kemungkinan dia akan bertemu Erik.


"Enak?"


"Iya, sudah lama sekali Runa tidak beli es buah bareng ibu."


Linda dan Aruna duduk di kursi panjang menikmati es buah dari penjual di tepi jalan. Sebelumnya Aruna mengajak Linda membeli jajanan dulu sebelum pulang dan berakhir menikmati es buah.


"Ayah bicara apa sama Runa?" Linda memulai pembicaraan serius.


"Ayah minta maaf karena selama ini sudah jahat dan tidak memperhatikan Runa. Ayah bilang ayah menyesal."


Sulit percaya apa yang dikatakan Aruna. Apa mungkin Erik bisa menyesal dengan yang sudah dilakukannya?


"Runa percaya kata-kata ayah?"


Aruna terdiam beberapa saat.


"Kalau kakek sama nenek bagaimana? Apa mereka percaya ayahmu sudah berubah?"


Aruna mengangkat pundaknya. "Tidak tahu."


Lalu keduanya terdiam. Begitu banyak tanya muncul di benak Linda. Kemana dia selama ini? Untuk apa tiba-tiba muncul di kehidupan mereka? Apa benar dia sudah berubah?


"Kenapa ibu diam? Apa Ibu marah?"


"Tidak, kenapa ibu harus marah?"


"Runa tidak akan membicarakan ayah lagi kalau itu membuat ibu sedih." Aruna menunduk tidak berani menatap ibunya. Ada ketakutan di wajah Aruna yang membuat Linda merasa bersalah.


Linda tahu anaknya ingin bersama sang ayah. Tetapi dia masih belum rela Aruna dekat dengan ayahnya meskipun itu terdengar egois.


Lagi pula belum tentu Erik benar-benar berubah. Siapa tahu ini hanya akal-akalan yang dia buat untuk bisa mengelabui keluarga Linda. Untuk saat ini lebih baik Linda hati-hati dan tidak langsung mengijinkan Aruna dekat-dekat dengan ayahnya.

__ADS_1


"Apa Runa benar-benar ingin bersama ayah?"


Aruna semakin menundukkan kepalanya karena tidak bisa menjawab. Dia ingin bersama ayahnya tetapi takut dengan ibunya.


"Kalau ibu tidak mengijinkan juga tidak apa-apa. Runa tidak akan pergi bersama ayah asal ibu tidak marah sama Runa."


Linda semakin merasa bersalah mendengar jawaban Aruna. Dia baru berusia sepuluh tahun tetapi cara berpikirnya sudah tidak seperti anak seusianya.


"Ibu tidak akan marah sama Runa. Mana mungkin ibu bisa marah sama anak ibu satu-satunya ini?" Linda meraih tubuh Aruna ke dalam pelukannya. "Kita pulang sekarang?" tanya Linda mengalihkan pembicaraan. Aruna hanya mengangguk.


"Kamu ingin pergi ke suatu tempat dulu atau kita langsung pulang?"


"Langsung pulang saja Bu, kasihan nanti nenek menunggu."


"Oh ... iya kamu benar." Linda mengarahkan motornya kembali ke rumah orang tuanya.


*


Malam harinya...


Aruna sudah tertidur. Inilah waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengan kedua orang tuanya mengenai kedatangan Erik ke rumah mereka.


Mungkin terdengar lebay jika kunjungan Erik ke rumah orang tuanya membuat Linda khawatir dan berpikir yang tidak-tidak. Tetapi tidak ada yang tahu rasanya menjadi Linda. Rasa sakitnya dan trauma yang ditimbulkan, hanya Linda sendiri yang merasakannya.


"Runa bilang ayahnya datang kesini. Apa benar Pak?"


Lama Pak Yanto terdiam hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Apa yang dia inginkan?"


"Tidak ada. Dia bilang dia hanya ingin minta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Aruna."


Linda mengerutkan keningnya tidak percaya. "Itu saja?"


Pak Yanto kembali mengangguk. "Bapak juga tidak percaya. Bapak tidak akan pernah percaya lagi kata-katanya."


"Kalau bapak tidak percaya lalu kenapa Bapak menerimanya datang ke rumah ini?"

__ADS_1


"Bapak kasihan melihat Aruna. Dia terlihat sangat senang ketika ayahnya datang. Bapak ingin mengusirnya tapi tidak tega sama Aruna. Jadi bapak pikir, biarkan saja. Aruna berhak bertemu ayahnya. Aku juga seorang ayah Lin."


Linda tidak bisa menyalahkan bapaknya soal ini. Memang Erik adalah ayah Aruna terlepas bagaimana dulu sikapnya kepadanya.


__ADS_2