
Dua tahun kemudian ...
"Berhentilah mengikutiku! Apa kamu tidak ada kerjaan?!" Linda mengusir Bima yang sejak tadi mengekor di belakangnya. Laki-laki itu sudah terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Linda.
"Aku mohon menjauh dariku. Aku sedang bekerja, kalau kamu seperti ini terus aku tidak enak dengan pegawaimu yang lain!"
"Kenapa harus tidak enak? Kamu memang tidak sama dengan pegawai yang lain. Kamu pemilik butik ini."
Linda memutar bola matanya malas. "Aku bukan pemiliknya Tuan Bima, aku hanya pegawai biasa di sini!"
Linda memutuskan pergi ke kota setelah urusannya dan Erik selesai. Linda tidak bisa terus tinggal di desa karena kabar cepat sekali menyebar. Berita buruk tentang dirinya menyebar luas bahkan sampai di kampungnya. Linda tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak sanggup melihat tetangganya selalu berbisik-bisik setiap kali melihatnya.
Dia menitipkan Aruna kepada nenek dan kakeknya. Seminggu sekali Linda pulang untuk melihatnya atau kalau hari libur Linda menjemput Aruna dan membawanya jalan-jalan ke kota.
Bukannya Linda ingin memisahkan Aruna dari ayahnya, tetapi Linda tidak bisa membayangkan bagaimana jika Aruna diasuh oleh ayahnya. Erik sendiri tidak berusaha untuk menemui Aruna atau sekedar menanyakan kabar putrinya itu. Dia tidak peduli sama sekali.
Dari sebuah kamar kos kecil dan modal sebuah mesin jahit pemberian Bima, Linda memulai hidupnya yang baru. Laki-laki itu tetap memaksa membelikan mesin jahit meski Linda sudah berulang kali menolaknya. Mesin jahit itu adalah janji Bima jadi dia harus menepatinya. Bima juga memberi Linda pekerjaan sebagai pegawai di salah satu toko miliknya.
Siang hari Linda bekerja di toko. Lalu malam harinya kalau sedang tidak ada kelas, Linda menjahit pakaian. Meskipun sekarang tinggal di kota Linda tetap membuka jasa jahit pakaian. Bagi Linda tidak ada waktu kosong yang terbuang sia-sia. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah perubahan.
Selama dua tahun Linda bekerja sambil mengambil kejar paket C, atau sekolah persamaan untuk mendapatkan ijazah SMA. Dan sekarang Linda bisa melanjutkan kuliah mengambil jurusan fashion desain.
Semuanya berjalan lancar karena hidup Linda sekarang tenang dan damai. Tidak ada suami yang minta di layani, tidak ada juga teriakan, bentakan dan makian yang ditujukan kepadanya. Dan yang pasti uang hasil kerjanya utuh, tidak habis untuk membayar cicilan mobil. Karena itu pula Linda bisa membiayai kuliahnya sendiri.
"Terserah ... Yang penting aku sudah menyerahkan butik ini kepadamu!" Bima tidak mau kalah. Butik ini memang miliknya, tetapi sebagian besar pakaian yang di jual di tempat ini adalah desain dan buatan Linda.
Setelah Bima mengetahui jika Linda mengambil kuliah jurusan fashion desain, dia langsung membuka butik. Dia sengaja memberikan wadah bagi Linda untuk menyalurkan minatnya di bidang fashion.
"Bagaimana menurutmu?" Linda menunjukkan sketsa desain bajunya yang terbaru. Erik menerimanya lalu menilainya.
__ADS_1
"Bagus ... Lebih bagus lagi kalau kamu yang memakainya."
Linda tertawa. "Apa kamu tidak bosan merayuku?"
"Tidak akan pernah!"
"Sadarlah Bim, aku ini janda dengan satu anak!"
"Aku tidak peduli."
"Aku juga udik dan kampungan."
"Aku juga tidak peduli. Seleraku memang yang udik dan kampungan!" Bima terkekeh.
"Dan terlihat seperti orang gila?"
"Ah ... Sudahlah Lin. Jangan bahas itu lagi. Aku jadi merasa bersalah kepadamu setiap ingat kejadian itu." Bima menyembunyikan wajahnya. Setiap membicarakan hal itu dia menjadi malu dan tidak enak kepada Linda.
Dulu Linda selalu terlihat murung. Dia lebih sering menundukkan kepalanya dan merasa insecure setiap kali ada orang yang menatapnya. Tetapi sekarang dia terlihat ceria, penuh semangat dan sangat percaya diri. Tubuhnya pun terurus dan lebih berisi.
Dari penampilan, jangan tanya lagi. Tidak ada lagi baju compang camping ataupun baju ketinggalan jaman yang seperti yang biasa dulu dia pakai. Sekarang Linda mampu membuat atau membeli pakaian apapun yang dia inginkan.
"Tapi aku senang mengingatnya Bim, seandainya waktu itu kamu tidak menganggap aku sebagai orang gila, kamu tidak akan merasa bersalah dan pasti kita tidak akan mengenal satu sama lain. Pasti saat ini aku .... " Linda tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Hanya mengingatnya saja membuat air mata Linda menggenang. Tanpa Bima, mungkin sekarang Linda sudah menjadi pelacur karena Erik menjajakannya kepada lelaki hidung belang untuk mendapatkan uang.
"Sudahlah Lin ... Jangan ingat-ingat itu lagi." Bima bisa melihat kesedihan di wajah Linda. Selama dua tahun ini Bima lah yang menemani Linda melewati masa-masa sulitnya. "Bukankah besok kamu libur? Apa kamu ingin pulang untuk menengok Aruna?" Bima mengalihkan pembicaraan.
"Oh ... Aku sampai lupa. Runa minta dibelikan sepatu baru. Aku lupa belum membelikannya. Aku harus pergi sekarang." Dengan terburu-buru Linda membereskan mejanya.
__ADS_1
"Lin, ini masih jam tiga sore. Kamu mau kemana?"
"Benarkah?" Linda menghembuskan nafasnya. Kalau sudah sibuk dengan pekerjaannya dia sampai tidak ingat waktu. "Kamu membuatku panik!"
"Kamu bisa pergi nanti malam. Aku akan mengantarkan kamu."
"Tidak perlu, nanti saja sepulang kerja aku akan langsung membeli sepatu itu. Rencananya sore ini aku akan langsung pulang agar aku bisa menginap di rumah bapak. Sudah lama aku tidak menginap di sana."
"Apa aku boleh ikut?"
"Ikut apa? Menginap di rumah bapak? Tentu saja tidak! Nanti kampungku bisa geger kalau ada yang tahu aku membawa pulang seorang laki-laki!"
Bima tertawa. "Aku hanya ingin mengantarkan kamu, setelah itu pulang. Aku juga tahu kalau tidak boleh menginap di rumah bapakmu!"
"Tidak ... Tidak usah terimakasih! Aku tidak mau merepotkan kamu. Aku akan naik sepeda motor saja. Lagian ini malam Minggu Bim, carilah kegiatan jangan menempel aku terus. Kamu tidak akan punya pacar kalau setiap hari waktumu kamu habiskan bersamaku."
"Ada, aku sudah punya pacar!"
"Mana? Kamu tidak pernah mengenalkan pacarmu kepadaku."
"Ya kamu itu pacarku!" jawab Bima disertai gelak tawa.
"Hiisss ... Aku serius Bima! Sana pergi, carilah seorang kekasih!"
"Tidak perlu, buat apa mencari jauh-jauh kalau kekasihku sudah ada di depan mata?!"
"Kalau seleramu memang yang udik dan kampungan setidaknya carilah yang masih perawan, jangan yang janda seperti aku?!" Linda mulai kesal karena sulit sekali memberi tahu Bima agar mencari perempuan lain untuk menjadi pendampingnya.
"Apa kamu pernah mendengar ada yang mengatakan jika janda lebih menggoda?" Bima tidak ada kapok-kapoknya menggoda Linda.
__ADS_1
"Bima?!!!" pekik Linda. Dia tidak menyangka laki-laki yang dulu terlihat kalem dan berwibawa ini ternyata tengil dan jahil. Satu lagi hal yang tidak disangka-sangka tentang Bima, ternyata dia berusia beberapa tahun lebih muda dari Linda.