
"Duduklah ... Aku sudah membayar lima juta kepada Erik agar bisa membawamu keluar."
"Apa maksudmu Bima?!" Linda melotot tidak percaya mendengar kata-kata Bima. "Kamu pasti bohong! Meskipun suamiku pemalas aku yakin dia tidak akan berbuat sejahat itu kepadaku." Tanpa sadar Linda memegangi pakaian yang dia kenakan, dia takut tiba-tiba Bima melucutinya.
Sebenarnya Linda tahu persis maksud perkataan Bima, Linda sangat hafal sifat suaminya yang mau melakukan segalanya demi uang. Tetapi Linda tidak mau menerima kenyataan itu. Tidak mungkin pria yang sangat dicintainya itu tega berbuat sejahat ini kepadanya.
"Apa sebenarnya maumu?!" Linda mulai ketakutan. Dia segera berdiri dan berlari menuju pintu. Tetapi Linda tetap tidak bisa keluar. Pintu kamar ini menggunakan card lock dan meskipun kartunya ada di tangannya dia tidak tahu cara menggunakan kartu itu.
Beberapa kali Linda mencoba membukanya tetapi tidak berhasil. Bima semakin kasihan melihat Linda. Lalu dia berjalan menghampiri Linda yang masih dalam kepanikan ingin segera keluar dari kamar itu.
"Tenanglah Linda, aku tidak akan berbuat jahat kepadamu," ucap Bima dengan lembut.
Linda tidak menghiraukan kata-kata Bima. Dia berusaha mengingat bagaimana tadi Bima membuka pintu menggunakan kartu itu. Berkali-kali menempelkan kartu itu ke pintu berharap pintunya segera terbuka tetapi tidak berhasil juga.
"Linda ... Aku mohon tenanglah agar aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu. Kalau aku mau berbuat jahat pasti sudah aku lakukan sejak tadi."
Linda menoleh. Yang dikatakan Bima memang benar. Kalau dia mau dia bisa langsung menerkam Linda tanpa berbicara panjang lebar seperti ini.
"Ayo duduk dan kita akan bicarakan ini. Bukankah sejak tadi aku bilang aku tidak akan berbuat macam-macam? Kamu bisa pegang kata-kataku. Aku janji!" Dengan sabar Bima berusaha meyakinkan Linda.
Linda pun menyerah. Dia akan mencoba mempercayai kata-kata Bima lalu kembali ke tempat duduknya semula.
"Apa maumu Bima?" tanya Linda pasrah.
"Lin ... Kamu tahu seperti apa suamimu."
"Aku tidak percaya kamu Bima. Suamiku tidak sejahat itu!" Hati Linda masih menyangkal jika Erik memang menjual dirinya kepada pria lain.
"Tolong berikan ponselku." Bima meminta ponselnya yang tadi ikut menjadi jaminan agar Linda percaya padanya.
"Kamu mau apa?!"
"Aku ingin menunjukkan bukti percakapanku dengan Erik tadi malam."
Linda pun mengambil ponsel Bima dari dalam tasnya lalu memberikannya kepada Bima.
"Pesan-pesan ini mungkin akan menyakiti perasaanmu. Jadi aku mohon kamu siap menerimanya. "Bima membuka ponselnya. "Kamu ingin membacanya?"
__ADS_1
Linda mengangguk.
"Siapkan hatimu." Lalu Bima menunjukkan pesan yang berisi percakapannya dengan Erik tadi malam.
Perlahan Linda membaca pesan-pesan itu, dan perlahan pula air matanya membasahi pipinya. Sungguh menyakitkan mengetahui Erik telah menawarkan dirinya kepada Bima.
Tadinya Linda masih sulit untuk percaya tetapi melihat bukti transfer yang Bima kirimkan kepada Erik rasanya dia tidak mungkin menyangkal lagi. Erik benar-benar biadab, dia tega menjualnya demi uang lima juta.
Linda mengembalikan ponsel Bima setelah selesai membacanya. Perasaannya hancur lebur tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku hanya ingin menolongmu." Ingin sekali Bima memeluk wanita yang sedang menangis sesenggukan di depannya ini.
"Tidak Bima! Kamu sama bren*seknya dengan Erik! Laki-laki macam apa yang mau membeli istri orang?!"
Bima diam. Tidak peduli apapun niatnya, kenyataannya dia memang membayar Erik agar bisa keluar dengan Linda.
Bima memberikan waktu kepada Linda untuk mengeluarkan rasa sakit di hatinya.
"Aku benar-benar ingin menolongmu, aku mohon jangan samakan aku dengan suamimu!"
"Kali ini kamu selamat karena suamimu hanya menawarkan kamu kepadaku. Bayangkan jika dia menawarkan kamu kepada laki-laki lain? Apa yang akan terjadi kepadamu?!"
"Cukup Bima!!! Jangan kamu lanjutkan!!!" teriak Linda.
Mengetahui kenyataan bahwa suaminya telah menjualnya sudah membuat hatinya sakit, Linda tidak bisa membayangkan yang lebih buruk lagi.
"Kenapa ini terjadi kepadaku?" ratap Linda dalam isaknya. Tidak pernah dia bayangkan hidupnya akan seperti ini. "Sekarang apa yang kamu inginkan dariku?" Linda tahu nasibnya sekarang berada di tangan Bima.
"Aku mohon kamu mau melepaskan aku. Aku akan kembalikan uang yang telah kamu kirimkan kepada suamiku. Aku memang tidak punya uang sekarang. Tapi aku akan berusaha. Aku akan mencicilnya sampai lunas."
"Uang itu, aku tidak berharap kamu akan mengembalikannya. Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari pria bejat itu."
Linda menatap mata Bima tajam, mencari kejujuran di sana. Setelah apa yang dia lalui apa mungkin dia masih bisa percaya dengan kata-kata seorang lelaki? Apa mungkin Bima tidak punya maksud lain di belakangnya? Tetapi sejauh ini, Bima adalah laki-laki yang selalu menepati kata-katanya.
"Aku tidak ingin apapun darimu. Tapi aku ingin kamu melakukan satu hal."
"Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Tinggalkan suamimu!"
Linda tertegun.
Mungkin memang sudah seharusnya dia meninggalkan Erik. Membuang jauh rasa cintanya kepada laki-laki tidak berguna yang sudah menjadi parasit dalam hidupnya. Dia ingat bagaimana selama ini kakaknya berusaha meyakinkan dia agar meninggalkan Erik tetapi dia tidak pernah mau melakukannya. Dia terlalu mencintai laki-laki itu.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu masih ingin mempertahankan laki-laki seperti itu? Apa kamu masih bisa memaafkan perbuatannya kepadamu?"
Linda menggeleng lemah. Air matanya masih belum berhenti menetes.
"Tetapi aku harus bagaimana? Aku takut."
"Dengarkan aku ... Setelah ini, aku akan mengantarkan kamu pulang. Segera kemasi barang-barangmu dan keluarlah dari rumah itu. Kamu tidak boleh tinggal di sana lagi. Kamu mengerti?"
"Kenapa aku tidak boleh tinggal di sana lagi?" Sifat lugu Linda keluar.
"Bagaimana kalau suamimu membawa laki-laki lain ke rumahmu lalu menguncimu di dalam kamar bersama laki-laki itu? Kamu tahu yang akan terjadi setelah itu. Suamimu bisa saja melakukan itu. Kamu mengerti kan maksudku?!"
Linda mengangguk. "Ya, aku sangat mengerti."
"Aku akan mencarikan tempat tinggal untukmu setelah keluar dari rumah itu."
"Aku bisa tinggal bersama rumah orang tuaku untuk sementara."
"Oh ...Itu malah lebih baik. Setidaknya ada yang bisa menjagamu."
"Bagaimana nanti kalau Mas Erik marah? Dia bisa sangat agresif jika sedang marah."
"Kamu tidak perlu takut, beranilah! Aku akan menunggumu di luar rumahmu. Kalau perlu aku yang akan mengantarkan kamu ke rumah orang tuamu."
Linda menghapus air matanya. "Apa aku bisa percaya padamu?"
Bima hanya membalas pertanyaan Linda dengan senyuman yang terlihat sangat tulus.
"Kenapa kamu begitu baik kepadaku Bima? Apa yang kamu harapkan dariku? Apa yang bisa aku berikan sebagai imbalan karena aku tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikanmu."
"Untuk saat ini, kamu bisa membalasku dengan meninggalkan suamimu!"
__ADS_1