Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 6. Ditagih Hutang


__ADS_3

Linda menangis sesenggukan di ruangan khusus menjahit miliknya. Belum sempat dia mengatur perasaannya, Erik sudah kembali berteriak memanggil namanya.


Buru-buru Linda menghapus air matanya dan segera berlari ke arah suara Erik.


"Ada apa Mas?" Linda menemukan Erik di dalam kamar mereka.


"Kamu tahu bajuku yang warna biru?" tanya Erik sambil mengacak-acak lemari pakaiannya. "Aku baru beli berapa hari yang lalu," imbuhnya.


"Oh ... Itu aku cuci, tapi belum sempat aku setrika."


"Cepat sana disetrika, mau aku pakai sekarang!" titah Erik tanpa menoleh kepada Linda sama sekali.


Jika Erik mau menoleh dan melihat wajah Linda sebentar saja dia bisa melihat jika Linda habis menangis. Mata Linda yang merah terlihat kontras dengan kulit wajahnya yang putih. Tetapi Erik tidak sempat memperhatikan itu.


"Sebentar ya Mas." Linda bergegas melakukan perintah Erik. Dia segera menyetrika baju yang Erik maksud.


"Ini Mas." Linda menyerahkan baju itu setelah selesai dia setrika. "Apa kamu mau menarik penumpang?" Linda memberanikan diri bertanya.


"Masa hari Minggu masih di suruh kerja?!"


"Lalu kamu mau kemana Mas?"


"Aku mau pergi mencari hiburan. Tadi kamu dan Aruna sudah bersenang-senang di taman hiburan. Sekarang giliranku bersenang-senang!"


Hati Linda seperti teriris-iris mendengar jawaban Erik. Dia tidak ada waktu untuk menemani Linda dan Aruna ke taman hiburan, tetapi dia ada waktu untuk bersenang- senang sendiri.


"Kenapa tidak bersama aku dan Runa tadi? Kan bisa sekalian?" Linda menahan sakit hatinya dan berusaha bersikap biasa di depan Erik.


Erik tersenyum mengejek. "Mana mungkin aku bersenang-senang di taman hiburan?! Aneh?!"


Linda bergegas pergi setelah menyerahkan baju yang Erik minta. Dia tidak ingin bicara dengan suaminya lebih lama lagi karena itu membuat hatinya semakin sakit.


Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa Linda sangat kecewa kepada Erik. Tetapi sekali lagi, semua itu hanya dia pendam di dalam hatinya. Rasa cintanya kepada Erik membuatnya menerima perlakuan Erik kepadanya.


Linda kembali ke ruang menjahitnya. Dia menenggelamkan dirinya di sana dengan tumpukan pesanan jahitan agar tidak semakin memikirkan tingkah suaminya.

__ADS_1


Sore harinya...


Linda sedang bersantai dengan Aruna di halaman rumah mereka. Lalu sebuah sepeda motor masuk ke halaman.


"Aruna, ada Bude Sari dan kakak Tika," seru Linda begitu melihat yang datang adalah kakak perempuannya dan anaknya.


Aruna kegirangan melihat kedatangan bude dan saudara sepupunya. Linda segera mengajak mereka masuk.


"Tumben mbak Sari kemari?" tanya Linda setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Iya, Tika bilang ingin ketemu Runa."


Lalu mereka berdua ngobrol sambil melihat ke arah Runa dan Tika yang sudah sibuk dengan jajanan yang mbak Sari bawa. Setiap mbak Sari datang ke rumah, dia tidak pernah lupa membawakan oleh-oleh untuk Aruna, entah itu jajanan, alat sekolah atau bisa juga baju baru. Karena itu Aruna sangat senang jika budenya datang.


"Lin, apa uang yang kamu pinjam waktu itu sudah ada?"


Deg!


Linda tidak berfikir jika Sari datang untuk menagih uang yang dia pinjam dua bulan yang lalu. Waktu itu Linda nekat meminjam uang kepada Sari karena uang Erik untuk membayar cicilan mobil baru terkumpul dua juta. Linda tidak meminta kepada orangtuanya karena bulan-bulan sebelumnya dia sudah meminta bantuan kepada mereka.


"Maaf mbak, belum ada. Kalau sudah ada pasti langsung aku antar ke rumah mbak Sari."


Sari hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan Linda. Dia tahu bagaimana kondisi rumah tangga Linda juga kondisi keuangannya. Dia tahu bagaimana Linda sangat ketakutan kepada Erik suaminya. Sebenarnya Sari ingin membantu Linda, tetapi Linda selalu membela Erik.


"Apa Erik sedang bekerja?"


Linda mengangguk.


Tanpa Linda sadari sari terus memperhatikan Linda. Dia melihat bagaimana adiknya yang dulu cantik dan bertubuh sintal itu sekarang menjadi kurus kering dan tak terurus.


Bahkan dengan pakaian yang Linda pakai sekarang dia terlihat jauh lebih tua dari Sari. Itu adalah pakaian ketika Linda masih gadis dulu, jadi sudah sangat ketinggalan jaman. Linda menatap iba kepada adiknya itu.


"Kamu baik-baik saja Lin?" Sari tidak tahu bagaimana caranya memancing Linda agar dia mau menceritakan masalahnya. Sari tahu Linda tidak baik-baik saja.


"Kalau ada masalah kamu bisa cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri."

__ADS_1


"Masalah apa sih mbak? Aku nggak ada masalah apa-apa," jawab Linda gugup.


"Oh .. Iya, dua minggu lagi ada acara di rumah bapak. Kamu harus datang. Kalau perlu nginap soalnya aku sama Tika juga akan menginap."


Linda teringat acara keluarga yang rutin diadakan setiap bulan, dan bulan ini akan di lakukan di rumah orang tuanya. Seluruh saudara dari bapaknya Linda akan berkumpul. Bukan acara formal, hanya acara untuk mempererat kekeluargaan.


"Iya, aku pasti datang." Linda tersenyum.


Setelah mengobrol cukup lama akhirnya Sari dan anaknya pamit.


"Sampai jumpa." Tika melambaikan tangannya begitu juga Aruna. Linda kembali masuk ke dalam rumah setelah Sari dan anaknya tidak terlihat.


Linda segera membereskan jajanan yang tadi dibawa oleh Sari. Dia membawakan jajanan yang cukup banyak. Bahkan sudah dimakan oleh Tika dan Runa pun masih tersisa cukup banyak.


Tepat di saat bersamaan Erik masuk. Dia baru pulang dari bersenang-senang.


"Wah ... kamu punya uang Lin? Bisa membeli jajanan untuk Aruna sebanyak itu?"


Linda menoleh melihat Erik tiba-tiba berdiri di belakangnya. Dilihat dari raut wajahnya yang berseri sepertinya Erik menikmati waktunya bersenang-senang tanpa anak istri.


"Ini mbak Sari yang belikan. Tadi dia datang bersama Tika," jawab Linda sambil membereskan ruang tamu dari bekas jajanan yang Aruna dan Tika makan.


"Oh ... " balas Erik sambil berlalu.


Setelah selesai membereskan ruang tamu, Linda mengikuti Erik ke kamar.


"Mas, tadi mbak Sari menagih uang yang kita pinjam. Kapan kamu akan mengembalikannya?"


"Uang apa?" Erik pura-pura tidak bodoh.


"Uang yang kamu gunakan untuk membayar cicilan mobil dua bulan yang lalu. Uangmu kurang satu juta dan aku meminjam satu juta dari mbak Sari. Tadi dia datang untuk menagihnya." Sari berusaha menerangkan.


"Itu kan kamu yang pinjam?! Kenapa kamu bertanya kapan aku akan mengembalikan?!" jawab Erik dengan entengnya.


"Tapi kan uang itu kamu gunakan untuk membayar cicilan mobil Mas?!"

__ADS_1


"Iya, tapi mobilnya aku pakai untuk kerja kan? Terus uang hasil kerjaku buat apa? Buat kamu beli makan! Kamu juga menikmati hasilnya, jadi kamu juga harus ikut membayar cicilan mobil itu!"


Sungguh Linda tidak bisa mengerti jalan pikiran suaminya. Laki-laki yang berstatus suaminya itu tidak pernah memikirkan perasaan dan kondisinya


__ADS_2