
"Bapak sampai malu Lin. Mereka menganggap kamu kabur bersama laki-laki lain. Erik memang bukan suami yang baik, tetapi jangan membalasnya dengan menjalin hubungan dengan pria lain. Kalau seperti itu maka orang-orang melihat kamulah yang salah, kamulah yang terlihat buruk di mata mereka. Bapak juga tidak bisa membelamu jika benar seperti itu." Pak Yanto terus bicara seakan tidak memberi Linda kesempatan untuk menjelaskan.
Betapa Erik pintar memutar balikkan fakta hingga mertuanya saja bisa termakan omongannya. Linda tidak menyalahkan orang-orang itu, tetangga-tetangganya yang menjadi saksi untuk Erik. Mereka hanya menyimpulkan dari apa yang mereka lihat tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Ditambah, Erik pasti menjejali orang-orang itu dengan karangan cerita versi dirinya sendiri.
"Bapak malu. Sekarang jujurlah pada Bapak, Siapa laki-laki itu? Apa kamu memang menjalin hubungan terlarang dengannya?"
"Laki-laki itu bernama Bima. Kami memang pergi berdua. Bahkan dia juga yang mengantarkan aku pulang ke rumah ini tetapi aku tidak ada hubungan apapun dengannya." Mau tidak mau Linda menceritakan yang sebenarnya.
Linda menceritakan bagaimana hari itu dia bisa pergi berdua dengan Bima dan berakhir ribut dengan Erik. Linda mengatakan semuanya kepada Pak Yanto tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.
"Biadab!" geram Pak Yanto setelah mendengar penjelasan Linda. "Erik bukan manusia! Tidak punya perasaan!"
"Karena itu aku segera pergi dari rumah Mas Erik dan ingin segera bercerai darinya. Aku sudah tidak bisa memaafkan dia lagi."
"Kenapa kamu tidak cerita dari awal? Kalau Bapak tahu sejak awal pasti Bapak tidak akan termakan omongan Erik dan ikut-ikutan menyalahkan kamu. Maafkan Bapak."
"Tidak apa-apa Pak, ini salahku juga. Apa bapak berhasil mendapatkan tanda tangan Mas Erik?"
Pak Yanto menggelengkan kepalanya. "Erik meminta uang dua puluh juta agar dia mau menandatangani surat itu."
"Apa?!!"
"Kita harus memberi uang itu kalau tidak dia tidak akan mau menandatangani surat perceraian kalian. Kalau tidak bisa bayar terpaksa kamu harus kembali kepadanya."
"Bagaimana bisa?! Tidak bisa seperti ini Pak! Aku tidak mau kembali kepadanya." Linda semakin sadar laki-laki seperti apa yang telah menjadi suaminya selama sembilan tahun ini.
"Bapak juga tidak habis pikir. Dia bahkan mengancam akan melaporkan kamu ke polisi karena telah berzina."
"Astaga! Tuduhan apa lagi itu Pak? Aku tidak berzina!"
Linda menyesal kenapa dulu dia begitu bodoh tidak pernah mau melakukan visum saat Erik melakukan kekerasan kepadanya. Setidaknya itu bisa dia gunakan untuk balas menuntut Erik.
"Bapak juga tidak tahu Lin. Bapak tidak punya uang sebanyak itu. Tetapi Bapak juga tidak rela jika kamu kembali pada Erik. Sepertinya Erik memang sengaja memeras kita." Pak Yanto pasrah. "Bapak menyesal telah menikahkan kamu dengan laki-laki tidak punya perasaan seperti Erik."
Lalu keduanya sama-sama diam dalam kebuntuan. Darimana Linda mendapatkan uang sebanyak itu. Bukan main Erik mempermainkan hidup Linda. Lagi-lagi uang yang dia inginkan.
__ADS_1
"Apa Bapak jual sawah saja agar bisa membayarnya?"
"Tidak! Sawah itu tumpuan hidup bapak dan ibu. Aku akan memikirkan caranya Pak. Bapak tidak usah khawatir!"
Pak Yanto menatap Linda dengan penuh keheranan. Biasanya anaknya ini hanya akan diam atau menangis saat ada masalah. Tetapi kali ini Linda sangat berbeda. Pendiriannya teguh, keinginannya untuk berpisah dengan Erik sangat kuat. Dia juga terlihat kuat dan tegar. Bahkan sampai detik ini Pak Yanto belum melihat Linda meneteskan air mata. Sepertinya Linda benar-benar sudah berubah.
"Bagaimana kamu akan mendapatkan uang? Kamu sendiri tidak bekerja."
*
*
Beberapa hari telah berlalu. Status Linda dan Erik masih belum jelas. Mereka belum resmi berpisah tetapi sudah tidak tinggal serumah setelah kejadian itu. Erik tidak berusaha menemui Linda, begitu pun sebaliknya.
Mungkin saat ini Erik sedang bersantai karena dia tahu uang dua puluh juta akan segera berada dalam genggamannya. Jadi dia tidak perlu bersusah payah bekerja.
Linda sudah mencoba mencari pekerjaan tetapi di desa kecil tempat tinggalnya ini mana ada lowongan pekerjaan. Kebanyakan dari penduduk desanya bekerja di sawah atau di kebun.
Linda sedang membersihkan pekarangan rumah orang tuanya ketika sebuah mobil berhenti di halaman. Linda tahu pasti itu mobil Bima.
"Bima?! Sedang apa kamu di sini?"
"Aku ingin melihat keadaanmu. Bagaimana kabarmu?" Senyum Bima mengembang setelah melihat Linda lebih dekat.
"Ayo masuk." Lalu Linda mengajak Bima masuk. "Silahkan duduk."
"Siapa Lin?" teriak sang ibu dari dalam kamarnya.
"Temanku Bu ... " balas Linda.
"Apa aku mengganggu?" Bima yang sudah terlanjur duduk merasa tidak enak.
"Tidak. Justru kebetulan kamu datang. Aku panggilkan bapak dan ibuku. Mereka ingin bertemu denganmu." Linda meninggalkan Erik sendirian di ruang tamu.
Tidak berapa lama Linda kembali bersama kedua orang tuanya. Pak Yanto dan Bima pun mengobrol setelah Linda memperkenalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Linda sudah menceritakan semuanya kepada Bapak. Jadi Bapak ingin mengucapkan terima kasih kepada Nak Bima karena telah menyelamatkan anak Bapak."
Bima langsung menoleh ke arah Linda meminta penjelasan. Mereka berdua sudah sepakat kalau tidak akan ada yang tahu masalah itu.
"Maaf Bima, aku terpaksa menceritakannya pada Bapak."
"Sekali lagi Bapak ucapkan terima kasih."
Bima terlihat salah tingkah.
"Tujuan saya kemari adalah untuk melihat keadaan Linda. Terakhir kali saya antar dia kesini keadaannya sedang tidak baik. Saya jadi khawatir dan merasa bersalah. Saya minta maaf Pak, mungkin kesannya saya seperti laki-laki tidak bermoral tetapi saya melakukan itu karena kasihan dengan Linda," tutur Bima dengan sopan.
"Berkat Nak Bima sekarang Linda baik-baik saja. Terima kasih."
Setelah cukup lama berbincang akhirnya Bima pamit. Dia lega akhirnya bisa bertemu dengan Linda lagi.
"Linda, aku lupa belum mengirimkan mesin jahitnya kemari," ucap Bima sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Mesin jahit apa?"
"Waktu itu aku berjanji akan membelikan kamu mesin jahit. Aku sampai lupa."
"Tidak usah Bima. Tidak perlu repot-repot. Akmu sudah cukup banyak membantuku."
"Lalu apa kegiatan kamu sekarang kalau tidak menjahit?" Bima menggunakan kesempatan yang ada untuk mengobrol berdua dengan Linda. Tadi di dalam rumah ada orang tua Linda sehingga dia tidak bisa bebas bicara dengan Linda. Tidak peduli status Linda masih istri orang, yang penting Bima maju terus pantang mundur.
"Aku ... Membantu bapak di sawah," jawab Linda sekenanya.
"Tokoku sedang mencari pegawai kalau kamu ingin melamar pekerjaan." Sepertinya Bima tahu kesulitan Linda.
"Benarkah?" Bima mengangguk pasti.
"Kamu bisa datang ke toko kalau kamu mau."
"Tapi aku cuma lulusan SMP."
__ADS_1
"Tidak masalah, kamu pasti diterima." Bima meyakinkan. Kalaupun tidak ada lowongan dia akan membuatnya ada demi Linda. Dia tidak akan membuang kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Linda.