
Linda sudah kembali kepada kesibukannya di butik. Setelah menginap selama dua malam di rumah orang tuanya, hari ini dia merasa seperti mendapatkan semangat penuh untuk bekerja.
Pagi-pagi sekali Bima datang menjemputnya. Linda tidak habis pikir kenapa Bima mau melakukannya. Padahal kalau dia mau, dia tetap bisa terlelap tanpa perlu memikirkan bagaimana Linda kembali ke kota.
"Bim, kenapa kamu mau menjemputku?" Iseng Linda bertanya.
"Jangankan menjemput, apapun itu aku bersedia lakukan asal kamu yang minta."
Linda hanya tersenyum mendengar jawaban Bima. "Ini masih terlalu pagi untuk menggombali aku Bim. Setidaknya tunggulah sebentar lagi."
Bima terkekeh mendengar balasan Linda. "Mau bagaimana lagi? Seharian kemarin aku tidak bertemu denganmu. Tidak ada yang bisa aku rayu."
"Kamu punya banyak sekali pegawai wanita. Rayu saja salah satu dari mereka. Apa kamu tidak kasihan padaku pagi-pagi bukannya menelan sarapan tetapi malah menelan rayuanmu?"
Bima kembali tertawa.
"Kamu nanti malam ada jadwal kuliah?"
"Iya, nanti pukul tujuh. Kenapa?"
"Aku antar ya?" Bima sudah berharap.
"Tidak. Aku bisa berangkat sendiri. Biasanya juga berangkat sendiri."
"Aku khawatir," jawab Bima pendek.
Linda tahu yang dikhawatirkan Bima. Sebenarnya Linda sendiri juga takut tetapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Tidak mungkin Bim. Dia tidak akan muncul di kampusku. Dia tidak tahu aku kuliah. Bahkan dia tidak tahu apa-apa tentang aku sekarang. Kamu tenang saja." Justru Linda yang menenangkan Bima.
"Kamu yakin?"
Linda mengangguk. "Aku sudah bertanya pada Aruna. Dia bilang sudah lama sekali tidak bertemu ayahnya. Jadi dari mana Mas Erik dapat informasi tentang aku?"
"Ya semoga. Anggap saja kemarin itu hanya kebetulan. Besok-besok kamu harus lebih berhati-hati dan lebih berani. Jangan mau kalau dia mengajak kamu bicara berdua saja. Kamu mengerti?!"
"Iya, aku mengerti." Linda terlihat seperti seorang adik yang sedang dinasehati kakaknya.
Selanjutnya mereka berdua lebih banyak membicarakan pekerjaan dan hari libur mereka masing-masing.
__ADS_1
"Kita sudah hampir sampai. Kamu mau sarapan dulu?" Bima ingin mengajak Linda sarapan mengingat tadi mereka berangkat pagi-pagi sekali.
"Tidak, Ibu membuatkan aku bekal. Nanti kita bisa makan berdua di butik."
"Apa untukku juga?"
"Tentu saja, ibu sengaja masak banyak agar kamu juga ikut makan."
Senyum merekah di bibir Bima. "Aku suka masakan ibumu. Aku rasa ibu sudah menganggapku seperti menantunya." Bima terkekeh mendengar kata-katanya sendiri.
"Kamu bisa mencari mertua yang bergelar chef kalau kamu mau."
"Chef yang aku kenal tidak memiliki anak perempuan yang berstatus janda menggoda seperti kamu."
Linda melirik Bima kesal sementara Bima justru tersenyum penuh kemenangan. Tidak akan ada habisnya jika Linda terus meladeni Bima.
"Kita mampir ke toko dulu sebelum ke butik. Bukankah kamu ingin mengambil kain untuk desain terbarumu?"
"Oh ... Benar juga. Kenapa aku sampai lupa?!"
Lalu Bima mengarahkan mobilnya menuju toko tekstil miliknya.
Mereka berdua pun turun dari dalam mobil. Beberapa pegawai memandang sirik kepada Linda dan beberapa lagi menyapa dan menyambut Linda dengan baik.
"Kami ambil saja yang kamu perlukan. Aku akan ke ruanganku sebentar." Bima meninggalkan Linda di area toko sementara dia ke ruangannya untuk mengurus suatu hal.
Bisik-bisik mulai terdengar setelah Bima tidak terlihat dalam pandangan. Beberapa orang memang mengetahui Linda sejak dia berstatus sebagai pelanggan toko itu. Tetapi beberapa pegawai baru tidak mengetahui latar belakang Linda.
"Aku tidak menyangka, ternyata penampilan lugunya dulu hanyalah cara untuk menarik perhatian Pak Bos. Lihat perubahannya sekarang," bisik Heni, karyawan yang dulu bersikap sangat ramah kepada Linda.
Linda berusaha mengabaikan suara bisik-bisik itu dan fokus dengan tujuannya ke toko ini yaitu mengambil kain untuk desain pakaiannya.
"Memang benar ya dia seorang janda?" sahut yang lain. "Padahal kelihatannya masih muda dan cantik, tetapi kok janda?!"
"Muda kan yang terlihat sekarang? Kamu tidak lihat saja dulunya seperti apa. Paling juga penampilannya bisa berubah seperti itu karena uang Pak Bos."
Lama-lama bisik-bisik itu terdengar seperti seperti sebuah percakapan normal tanpa takut terdengar orang. Bahkan Linda pikir mereka sengaja mengeraskan suara mereka agar Linda mendengarnya. Linda sadar mereka membicarakan dirinya meskipun tidak menyebut namanya.
"Memangnya dulu seperti apa?"
__ADS_1
"Seperti gembel, sama kita saja masih jauh lebih pantas kita. Bahkan Pak Bos sampai mengira dia orang gila."
"Benarkah?!"
Lama-lama Linda tidak tahan juga. Akhirnya dia menghampiri Heni dan temannya.
"Apa kalian sedang membicarakan aku?"
"Eh ... Tidak Mbak. Memangnya Mbak Linda dengar apa? Kami sedang membicarakan artis." Heni menyangkal.
"Hati-hati Hen ... Kalau Pak Bosmu dengar dan kamu bisa dipecat. Aku hanya memperingatkan, lebih baik kamu urus urusanmu sendiri. Tidak usah mengurusi urusan orang lain, apalagi artis!"
Linda kembali melanjutkan pekerjaannya setelah memberi peringatan kepada dua orang itu. Dulu mungkin dia hanya akan diam jika ada orang membicarakan dia di depannya. Tetapi sekarang Linda berani menegur siapa saja yang menghinanya.
Status Linda yang seorang janda dan kedekatannya dengan Bima membuat Linda mendapat banyak cibiran dari karyawan-karyawan Bima. Kabar kedekatannya dengan Bima sudah menyebar ke seluruh toko, baik toko tekstil, toko pakaian ataupun butik.
Beruntung Linda sekarang mengelola butik yang hampir semuanya orang baru dan lebih dekat dengannya. Jadi Linda tidak perlu bertemu pegawai toko yang lain yang tidak segan-segan menunjukan rasa tidak sukanya kepada Linda.
Mereka sirik kenapa mereka yang sudah bekerja lebih lama tidak bisa mendapatkan perhatian Bima sementara Linda yang bukan siapa-siapa langsung bisa mendapatkan perhatian penuh dari sang majikan.
Sebenarnya, tanpa mereka berbisik-bisik pun Linda sadar siapa dirinya. Dia tidak akan pantas untuk bersanding dengan Bima meskipun dia menginginkannya.
Linda memilih dengan teliti kain-kain yang akan dia gunakan untuk desain terbarunya. Meskipun pasarnya masih di kelas menengah tetapi Linda berusaha memberikan yang terbaik.
"Lin ... Sudah selesai?" Bima menghampiri Linda di tempatnya memilih kain setelah beberapa saat menghilang di dalam ruangannya.
"Sudah."
"Ya sudah, nanti biar diantar." Linda mengangguk. Lalu mereka berdua kembali ke dalam mobil dan berangkat menuju butik.
Linda tidak menceritakan yang dia alami kepada Erik. Itu tidak penting menurutnya.
Tidak memakan waktu lama mereka pun sampai di butik.
"Lin, kita sarapan dulu. Aku sudah lapar dan ingin segera memakai masakan ibu."
"Baiklah Tuan Bima, aku siapkan dulu makanannya," jawab Linda santai. Lalu Linda mengeluarkan wadah makan dari dalam tasnya dan menyajikan makanan di meja kerjanya sebelum meja itu dipenuhi dengan kertas dan kain.
"Berhentilah memanggilku Tuan!"
__ADS_1
"Tetapi kamu memang majikanku."