Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 35. Telepon


__ADS_3

Linda tengah sibuk di ruangannya. Sejak kejadian kemarin dia tidak ingin lagi keluar dari butik untuk istirahat makan siang. Dia akan memesan makanan secara online daripada harus keluar membeli makan.


Linda juga tidak menceritakan yang dia alami kepada Bima. Laki-laki itu sudah beberapa hari tidak mengunjungi butik. Linda tidak ingin menggangu Bima dengan masalah pribadinya. Mungkin dia sedang sibuk dengan toko-tokonya yang lain.


Tiba-tiba dering telepon membuyarkan konsentrasi Linda. Dia melihat siapa yang menelfon, ternyata Aruna sang putri tercinta. Tanpa menunggu lama Linda langsung menerima telepon dari Aruna.


"Halo ... Ada apa sayang?"


"Apa ibu sedang sibuk?" Suara Aruna dari seberang telepon.


"Tidak, ibu baru mau makan. Kamu sudah makan?" Padahal sebenarnya Linda sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Tumben siang-siang begini telepon. Runa ingin mengatakan sesuatu atau ingin sesuatu?"


Linda sangat hafal putrinya jarang meneleponnya di siang hari kalau tidak ada sesuatu yang penting. Biasanya mereka berdua berbincang dimalam hari sebelum tidur untuk menceritakan hari masing-masing.


"Runa sudah makan. Tadi pagi nenek masak sup jagung." Lalu Aruna diam untuk beberapa saat. "Ibu ..." Aruna menggantung kalimatnya.


"Apa Sayang? Runa ingin bicara apa? Katakan saja, ibu dengarkan."


"Tadi malam ayah datang ke rumah kakek."


Deg!


"Mau apa ayahmu datang ke rumah kakek?! Apa ayahmu bicara sesuatu?! Dia melakukan sesuatu yang jahat kepadamu atau kepada kakek dan nenek?!" Linda langsung diserang kepanikan. Dia sudah tidak bisa berpikir positif tentang Erik sedikit saja.


"Tidak Bu, Ibu tidak usah khawatir. Katanya ayah datang untuk meminta maaf kepada kakek dan nenek. Ayah juga membawakan banyak sekali hadiah buat Runa."


"Benarkah?" Linda tidak percaya mendengar kata-kata Aruna.

__ADS_1


"Iya, ayah juga ngobrol lama sekali dengan kakek. Tetapi Runa tidak tahu apa yang mereka bicarakan."


"Apa kakek dan ayahmu terlihat marah-marah?"


"Tidak, Ayah tidak terlihat marah-marah, kakek juga. Waktu ayah pulang Runa sudah tidur jadi Runa tidak tahu jika setelah itu terjadi sesuatu. Tetapi tadi pagi kakek terlihat baik-baik saja," terang Aruna. Kemudian Linda terdiam. Dia masih mencerna apa yang dikatakan Aruna.


"Kenapa ibu diam? Ibu tidak apa-apa?"


"Iya Runa ... Ibu tidak apa-apa."


"Bu ... Apa Runa boleh pergi sama ayah? Ayah bilang ingin mengajak Runa jalan-jalan."


Linda tidak bisa menjawab pertanyaan Aruna. Rasanya tidak rela membiarkan Aruna pergi dengan Erik meskipun laki-laki itu adalah ayahnya.


Kemana dia selama ini? Kemana dulu ketika Runa merengek minta diajak ke taman hiburan? Kemana dia saat kaki Aruna terluka karena jatuh dari sepeda? Kemana dia selama dua tahun ini? Kenapa sekarang tiba-tiba muncul dan dengan mudahnya ingin mengajak jalan-jalan? Apakah dengan minta maaf semua sakit hati yang sudah dia torehkan itu hilang begitu saja?


Perlu waktu beberapa saat hingga akhirnya Aruna menjawab pertanyaan Linda.


"Runa kangen ayah Bu, Runa senang ayah datang untuk menemui Runa."


Jawaban Aruna membuat Linda hampir meneteskan air matanya. Bagaimana pun juga Aruna adalah anak-anak yang membutuhkan sosok seorang ayah. Tentu saja dia senang mendapatkan perhatian dari sang ayah yang selama ini tidak dia dapatkan. Meskipun ada kakek yang sangat menyayanginya tetap saja sosok ayah tidak bisa digantikan oleh kakek.


"Apa ibu mengijinkan jika Runa pergi bersama ayah?"


"Apa ini karena hadiah dari ayah? Runa bisa minta hadiah sama ibu. Ibu bisa membelikan apa saja yang Runa inginkan sekarang. Ibu punya uang. Runa mau apa?" Suara Linda mulai serak. Tidak tahu kenapa Linda sulit sekali mengijinkan Aruna pergi bersama ayahnya.


Dia teringat dulu setiap Aruna menginginkan sesuatu jawabannya selalu "Tunggu sampai ibu punya uang ya Nak". Kalaupun uang sudah ada di tangannya pasti ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Linda "Belinya jangan yang mahal-mahal ya". Semua itu Linda usahakan sediri karena Erik tidak pernah mau tahu keinginan Aruna. Sakit sekali perasaan Linda saat mengingatnya.

__ADS_1


Tetapi sekarang, ketika Linda bisa membelikan semuanya untuk Aruna, justru yang anak itu inginkan hanyalah ayahnya. Air mata Linda mulai menetes.


"Runa tidak ingin apa-apa Bu. Ibu sudah membelikan semua yang Runa minta."


"Runa kan juga sudah sering jalan-jalan sama ibu. Runa ingin pergi kemana lagi? Pasti Ibu akan antar." Linda tidak secara langsung mengatakan dia tidak mengijinkannya tetapi kata-katanya mengisyaratkan jika dia tidak rela Aruna pergi bersama ayahnya.


"Kalau ibu tidak mengijinkan juga tidak apa-apa. Runa tidak akan pergi. Ya sudah Bu ... Runa mau ikut nenek ke sawah. Ibu lanjutkan saja pekerjaan ibu." Aruna menutup teleponnya sepihak dan Linda pun menangis setelahnya.


"Maafkan ibu Runa, maafkan keegoisan ibu ... " Linda pikir Aruna kecewa karena dia tidak mengijinkan dia pergi bersama ayahnya.


Padahal di seberang sana Aruna menutup teleponnya karena merasa bersalah. Dia sudah membuat ibunya kecewa dengan keinginannya untuk pergi bersama ayahnya.


Selama ini ibunya lah yang sudah berjuang mati-matian untuknya dan tiba-tiba dia ingin pergi dengan ayah yang tidak pernah ada kabarnya. Dia juga mengatakan jika dia merindukan sang ayah. Aruna merasa telah menjadi anak yang tidak tahu diri.


Linda menangis sesenggukan. Dia menghadapkan dilema antara egonya yang tidak terima jika Aruna dekat dengan ayahnya atau mengijinkan Aruna yang bagaimanapun juga ingin bersama ayahnya.


Belum sempat Linda menenangkan dirinya tiba-tiba Bima masuk ke dalam ruangannya. Dengan segera Linda menghapus air matanya. Tetapi wajahnya yang putih terlihat kontras dengan matanya yang merah membuat Bima langsung bisa mengetahuinya.


"Ada apa?" Bima mendekat. "Katakan ada masalah apa? Apa dia mengganggumu?" Bima menebak pasti Erik sumber masalahnya. Selama dia mengenal Linda, mau mengahadapi masalah sesulit atau seberat apapun dia tidak akan menangis. Tetapi Erik, hanya membicarakannya saja bisa membuat mata Linda berkaca-kaca.


"Runa baru saja telefon." Lalu Linda menceritakan semuanya kepada Bima.


"Aku memang tidak melarangnya secara langsung, tetapi aku juga tidak mengatakan jika aku mengijinkannya. Apa aku salah?" Linda kembali menangis.


"Aku takut Runa kecewa lalu membenciku. Ini masalahku dengan ayahnya. Seharusnya dia tidak dilibatkan dalam masalah kami. Tetapi aku sudah terlanjur tidak percaya dengan Mas Erik. Mengingat bagiamana dulu sikapnya kepada Aruna apa mungkin aku percaya jika sekarang tiba-tiba dia baik kepadanya?"


"Aruna anak yang pintar Lin, dia pasti bisa mengerti. Kamu bisa menjelaskan secara pelan-pelan kepadanya."

__ADS_1


"Nanti malam aku akan pulang ke desa. Aku harus bicara sama bapak dan Ibu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya Mas Erik inginkan."


__ADS_2