
Linda segera memunguti sembako pemberian Sari yang sekarang berceceran di lantai karena perbuatan Erik. Berkali-kali dia menghapus air matanya tetapi pipinya tidak kunjung kering. Ari mata terus saja mengalir tanpa bisa Linda cegah.
Motor itu adalah pemberian orang tuanya. Mereka memberikannya tepat sebelum Linda dipinang oleh Erik. Dan Linda selalu menggunakannya kemanapun dia pergi karena Erik tidak pernah mau mengantarkannya.
Jika Erik menjual motor itu lalu bagaimana jika nanti dia ingin pergi ke kota untuk membeli alat dan bahan untuk menjahit? Atau sekedar ke pasar untuk membeli sayur dan kebutuhan lainnya.
Linda pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas tangisannya setelah itu dia mendatangi Aruna di kamarnya.
"Aruna ... Ibu membawakan makananmu."
"Ibu dari mana? Tadi ayah mencari ibu," tanya Aruna begitu dia melihat ibunya.
"Ibu ke rumah bude Sari. Tapi hujan jadi ibu terpaksa menginap. Maaf ya Ibu tidak pamit sama Runa."
Aruna terus mengamati wajah ibunya. Meski dia masih anak-anak Aruna tahu ibunya tidak baik-baik saja.
"Apa ibu sedang tidak enak badan? Mata ibu merah. Ibu tidur di kamar Runa saja kalau ibu sedang tidak enak badan."
"Tidak Runa, ibu baik-baik saja. Ibu masih banyak pekerjaan. Kalau ibu tidur nanti ayahmu ... " Linda tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Ibu mau membereskan rumah dulu." Linda bergegas pergi dari kamar anaknya. Dia tidak mau air matanya sampai menetes di depan Aruna meski anak itu sudah sering melihatnya.
Linda segera melakukan pekerjaannya. Dia membersihkan rumah, mencuci, memasak setelah itu lanjut menjahit. Dia sama sekali tidak beristirahat. Terkadang dia harus berhenti dan mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak menetes.
Tepat tengah hari Erik pulang. Dia langsung mencari Linda di ruang menjahit.
"Motormu laku dua belas juta. Yang sembilan juta aku gunakan untuk membayar cicilan bulan ini dan dua bulan ke depan. Jadi dua bulan ke depan kita tidak usah pusing memikirkan cicilan!" ujar Erik sambil berdiri di samping mesin jahit. Dia bisa tersenyum lebar sekarang.
"Sisanya tiga juta, dua juta untuk beli sepeda. Yang satu juta aku simpan buat jaga-jaga!"
Linda mendongak mendengar penjelasan Erik. Dia masih berusaha mencerna kata-kata Erik.
__ADS_1
"Sepeda apa Mas?"
"Itu, aku belikan kamu sepeda untuk kamu pergi kemana-mana. Jadi jangan katakan aku tidak pengertian!" Erik bicara tanpa merasa bersalah sama sekali. Linda tidak bisa berkata-kata.
"Kamu sudah masak?" Erik mengalihkan pembicaraan.
Linda mengangguk.
"Baguslah ... Aku sudah lapar." Erik bergegas pergi meninggalkan Linda menuju ruang makan
Erik benar-benar tidak punya perasaan. Dia tidak meminta pendapat Linda terlebih dahulu padahal itu adalah sepeda motor Linda. Dalam hatinya Linda sangat kecewa tetapi dia tidak berani menunjukkannya. Jadi sekarang kemana-mana Linda akan naik sepeda sementara Erik naik mobil.
Linda teringat kata-kata Sari pagi tadi, dia tidak boleh takut kepada Erik. Apa mungkin dia bisa melakukannya sedangkan mendengar nada bicara Erik naik sedikit saja Linda sudah ketakutan.
*
*
Sebelumnya Linda sudah menitipkan Aruna ke orang tua Sella seandainya nanti Aruna sudah pulang sekolah tetapi dirinya belum pulang.
Linda langsung menuju toko alat jahit langganannya, setelah itu dia pergi ke toko kain. Di seberang jalan dari toko alat jahit ada restoran makanan cepat saji. Linda menyeberang jalan dan hendak membelikan Aruna fried chicken di sana.
Tetapi belum sempat masuk Linda melihat Erik duduk berdua dengan seorang wanita di dalam restoran. Wanita itu terlihat lebih tua darinya. Mungkin seumuran Sari atau mungkin lebih. Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan Erik memegang tangan wanita yang terlihat lebih tua itu.
Linda tidak percaya apa yang dia lihat. Jadi seperti ini kelakuan Erik di luar rumah. Ingin rasanya dia menghampiri Erik dan bertanya siapa wanita yang sedang bersamanya. Tetapi Linda tidak punya nyali. Erik bisa saja mengamuknya tanpa melihat tempat dan waktu.
Linda malu melihat penampilannya dari pantulan dinding kaca. Dia hanya mengenakan baju usang yang warnanya sudah pudar dulu coklat sekarang menjadi krem. Tubuhnya yang bermandikan keringat karena mengayuh sepeda dari desanya membuatnya semakin tidak percaya diri.
Sementara perempuan yang tengah bersama Erik terlihat sangat mempesona. Perempuan itu memakai pakaian modis yang terlihat mahal dan juga memakai riasan wajah. Dari penampilan dan gerak geriknya jelas perempuan itu bukan perempuan biasa.
Linda hanya bisa memandang Erik dengan gemuruh di dadanya. Kalaupun Linda berani mendatangi Erik dan mengajaknya bicara belum tentu Erik mau mengakui dia sebagai istrinya karena penampilan Linda yang udik sangat kontras dengan perempuan di depan Erik.
__ADS_1
Akhirnya Linda mengurungkan niatnya membeli ayam goreng untuk Aruna. Dia pergi dan akan membelikannya di tempat lain. Linda mengayuh sepedanya dengan lesu. Air matanya sampai kering menangisi tingkah laku Erik. Bayangan Erik sedang makan berdua dengan perempuan lain terus memenuhi kepalanya. Sakit sekali hati Linda.
Linda sampai di rumah saat hari sudah sore. Tidak lupa dia menjemput Aruna di tempat Sella. Linda juga membelikan oleh-oleh untuk Sella sebagai ucapan terimakasih karena sudah menjaga Aruna.
"Ayo kita makan," ucap Linda setelah dia dan Aruna selesai mandi.
Aruna mengangguk. "Ibu masak apa?"
"Ibu tidak masak. Tetapi ibu membelikan sesuatu untuk kamu."
"Apa bu?"
Linda mengeluarkan dua boks nasi bertuliskan fried chicken yang sangat digemari Aruna. Anak itu terlihat sangat senang. Belum tentu sebulan sekali dia bisa memakan makanan ini.
"Ibu hanya beli dua?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Ibu tidak membelikan untuk ayah juga?"
Linda terdiam. Bayangan Erik bersama perempuan lain kembali terlintas di pikirannya.
"Tidak, ayahmu bisa beli sendiri," jawab Linda selang beberapa saat. Dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Linda sudah tidak ingin mengorbankan dirinya untuk Erik lagi. Mulai hari ini dia hanya akan memikirkan dirinya sendiri dan Aruna.
"Nanti kalau ayah marah bagaimana Ibu? Kita makan enak sementara ayah tidak?" tanya Aruna dengan polosnya.
Seandainya saja Aruna tahu, ketika ayahnya makan enak dia tidak pernah ingat anak dan istrinya di rumah.
"Ayah tidak akan marah. Ayah punya uang untuk membeli makanan yang dia inginkan." Linda teringat uang satu juta sisa penjualan sepeda motor. Uang itu tidak diberikan kepadanya mengingat motor yang Erik jual adalah miliknya. Tetapi Erik justru menyimpan sendiri uang itu dengan alasan untuk berjaga-jaga.
__ADS_1