Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 8. Rumah Orang Tua


__ADS_3

"Bukannya aku mau mencampuri urusan urusan rumah tanggamu dengan Erik, tetapi aku tidak terima jika kamu disia-siakan. Aku tidak tega melihat keadaan adikku satu-satunya seperti ini," ucap Sari pada akhirnya. Bagaimanapun juga dia sangat peduli kepada Linda karena dia adalah saudarinya satu-satunya.


Mata Linda mulai berkaca-kaca tetapi dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya.


"Cicilan mobil itu, jika Erik tidak mampu membayarnya lebih baik lepaskan saja. Jangan mau kamu di suruh mencari uang kesana kemari untuk membayar cicilan. Kamu istrinya bukan budaknya!"


"Dari mana mbak Sari tahu?"


"Tidak penting darimana aku tahu. Aku tidak marah kamu sering meminjam uang kepada ibu, aku tidak iri sama sekali! Aku hanya tidak terima jika ibu dan bapak yang bekerja keras sementara Erik yang menikmati hasilnya."


Linda tertegun mendengar jawaban Sari. Memang benar yang dikatakan kakaknya itu.


"Bapak dan ibu sebenarnya tidak tega melihat kamu seperti ini. Karena itu mereka selalu memberikan pinjaman setiap kamu minta. Padahal kalau dipikir-pikir mereka sendiri tidak punya uang. Berapa sih penghasilan bapak dari sepetak sawah?!"


Linda menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah kepada orang tuanya. Erik benar-benar membuat dia buta.


"Sekarang bapak dan ibu mungkin masih bisa mencari uang. Tetapi jika bapak dan ibu sudah tidak punya penghasilan terus bagaimana?"


Sekali lagi kata-kata Sari membuat tersadar. Usia orang tuanya sudah tidak muda lagi. Seharusnya Linda lah yang memberi bukan malah meminta uang dari orang tuanya. Tetapi Linda tidak punya pilihan.


Linda terdiam. Ingin sekali dia menangis karena sudah menyusahkan orang tuanya.


"Aku tidak menyalahkan kamu. Hanya saja suamimu harus belajar bertanggung jawab. Dia sudah bukan orang kaya lagi!"


"Iya Mbak ... Aku mengerti ... "


Sore harinya Sari sudah pulang terlebih dahulu sementara Linda dan Aruna masih menunggu Erik menjemput mereka.


"Kamu sudah bilang Erik untuk menjemput kamu dan Aruna kan?" tanya Pak Yanto. Sejak tadi dia memperhatikan Linda yang terlihat gelisah.


"Iya Pak, aku sudah menyuruh Mas Erik menjemput sore ini."


"Kalau tidak dijemput sih, nginap di sini lagi juga tidak apa-apa. Bapak malah senang."


"Pinginnya sih begitu Pak, tetapi besok Aruna harus sekolah."

__ADS_1


Linda terlihat semakin gelisah, dia dan Aruna sudah menunggu hampir dua jam tetapi Erik belum datang juga.


"Lin, Erik tidak bersikap keras kepadamu kan?" tanya Pak Yanto dengan hati-hati.


Dia sering memperhatikan gerak-gerik Linda saat bersama Erik dan dia bisa melihat bagaimana cara Erik menatap Linda juga sebaliknya. Dari situ pak Yanto bisa merasakan jika Linda sepertinya tidak bahagia.


Belum sempat Linda menjawab, terdengar suara klakson mobil dari halaman rumah Pak Yanto.


"Itu Mas Erik sudah datang." Senyum Linda langsung mengembang. Dia berdiri dan berlari ke depan untuk menyambut Erik.


Tetapi Erik tidak mau turun dari mobil. Dia justru kembali membunyikan klakson mobilnya.


Linda berlari mendekat lalu Erik membuka kaca mobilnya.


"Cepetan, tunggu apalagi?!"


"Kamu tidak turun dulu Mas? bapak ingin bicara sama kamu."


"Bicara apa lagi? Kemarin kan sudah bicara? Lain kali aja, aku nggak ada waktu!"


"Ngapain melamun?! Cepat panggil Aruna, kita pulang sekarang!" titah Erik.


"Eh ... Iya Mas." Dengan tergesa-gesa Linda kembali ke dalam rumah orang tuanya. Dia segera memanggil Aruna yang sejak tadi bersama neneknya di dapur entah melakukan apa.


"Runa ... Sudah dijemput ayah nak, kita pulang sekarang!" teriak Linda sambil membereskan barang-barangnya.


Aruna dan Bu Yanto muncul dari dapur sambil membawa beberapa tas plastik berukuran besar entah apa isinya.


"Erik tidak mampir dulu Lin?" tanya Pak Yanto.


"Mas Erik buru-buru Pak, lain kali akan ke sini lagi," jawab Linda tanpa berani menatap sang bapak.


"Aku pulang dulu Pak, Bu." Setelah selesai pamit Linda langsung menarik tangan Aruna. Linda terlihat sangat terburu-buru dan tegang.


"Ini dibawa Lin ... " Bu Yanto memberikan tas plastik yang tadi dia bawa. Linda segera meraih tas itu.

__ADS_1


"Pelan-pelan Linda!" teriak Bu Yanto yang melihat Linda hampir berlari sambil menarik tangan Aruna.


Sampai di dalam mobil Linda sudah melihat Erik memasang wajah masam. "Lama banget sih?!"


Erik segera menutup kaca mobilnya. Tidak menunggu lama Erik langsung melajukan mobilnya bahkan tanpa menyapa mertuanya terlebih dahulu. Sementara Pak Yanto dan Bu Yanto hanya bisa melihat kepergian Linda. Setelah itu mereka berdua hanya bisa saling tatap. Mereka tidak habis pikir dengan sikap Erik.


"Besok lagi kalau ada acara seperti ini kamu datang sendiri! Tidak usah minta diantar jemput, nambah-nambahin pekerjaanku saja!" Belum sempat Linda menceritakan berapa banyak orang yang menanyakan ketidakhadiran Erik di acara itu, dia sudah disemprot lebih dulu oleh Erik.


Linda tidak berani menjawab. Hatinya sudah mulai berdebar, Erik terlihat marah kepadanya.


"Ini seharusnya aku bisa cari orderan, tapi malah harus jemput kamu. Buang-buang waktu tahu nggak?! Mana aku harus nunggu lama!"


"Maaf Mas, tadi bapak ngajak ngobrol dulu."


Aruna yang duduk di kursi belakang ikut terdiam. Dia tahu ayahnya sedang memarahi ibunya. Meskipun dia sudah terbiasa melihat kejadian seperti ini tetap saja dia merasa takut. Aruna sering ketakutan ketika melihat Erik membentak ibunya.


"Tidak usah banyak alasan!!! Kamu pasti malas pulang kan? Kamu malas meladeni aku makanya kamu sengaja berlama-lama di rumah orang tuamu, benar kan?!"


"Tidak seperti itu Mas ... "


"Lalu seperti apa?! Kamu boleh kok di sana lagi. Mau menginap lagi pun boleh. Apa perlu aku putar balik sekarang?!" Pertanyaan Erik terdengar sangat menyeramkan untuk Linda.


"Aku antar kamu ke rumah orang tuamu sekarang! Aku akan bilang kepada mereka kalau kamu adalah istri yang tidak patuh! Kamu tidak perlu kembali lagi ke rumahku! Kamu bisa tinggal di sana selamanya! Dan kamu bukan istriku lagi! Kamu mau hah?!!" bentak Erik. Entah kenapa dia terlihat sangat gusar.


"Mas ... Jangan bicara seperti itu!" Linda meneteskan air matanya. Dia meraih tangan Erik dan memohon padanya. "Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan menuruti kata-katamu!" Linda terus memegang tangan Erik yang sedang menyetir mobil.


Baik Erik maupun Linda seperti sudah kehilangan akalnya. Mereka tidak memperhatikan Aruna yang sekarang menutup mata dan telinganya dengan kedua tangannya. Anak itu tidak ingin melihat ataupun mendengar pertengkaran orang tuanya.


"Aku mohon Mas, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya. Jangan bicara seperti itu lagi." Linda terus memohon dengan air mata yang tidak berhenti menetes.


Erik menghempaskan tangan Linda dengan kasar. Dia terlihat sangat kesal dengan Linda.


"Sekali lagi kamu tidak mau mendengarkan kata-kataku, aku tidak akan segan untuk memulangkan kamu ke rumah orang tuamu!"


"Iya Mas, aku mengerti," jawab Linda lirih.

__ADS_1


"Berhenti menangis. Itu tidak akan membuatku memaafkan kamu!"


__ADS_2