
Pukul sembilan tepat Aruna menelepon. Linda merasa sangat lega. Di segera menghapus air matanya lalu menerima panggilan telepon dari Aruna.
"Halo Aruna, kamu tidak apa-apa? Kamu baik-baik saja kan nak? Ayahmu tidak menyakiti kamu kan?" Linda memberikan pertanyaan bertubi-tubi dengan suara yang dibuat senormal mungkin agar tidak terdengar dia habis menangis.
"Tidak Bu, Runa tidak apa-apa. Kenapa ibu bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Ibu khawatir saja. Bagaimana tadi? Runa senang?"
"Iya, Runa senang sekali. Ayah mengajak Runa jalan-jalan juga membelikan Runa mainan. Ibu lihat saja besok kalau ibu pulang, kita bisa main bersama."
"Ya, besok ibu akan lihat. Sekarang kamu tidur ya, sudah malam."
"Baik Bu." Aruna menurut.
"Ya sudah ... " Linda sudah hampir menutup teleponnya.
"Ibu ... "
"Apalagi sayang?"
"Besok-besok kalau ayah datang untuk mengajak Runa pergi lagi boleh tidak?"
"Hmmm ... Ibu pikirkan dulu. Sekarang tidurlah." Linda menutup teleponnya. Dunianya kembali terang setelah dia mendapatkan kabar dari Aruna. Mungkin benar Erik sudah berubah dan kekhawatirannya hanyalah bagian dari traumanya.
"Kamu sudah puas?" Bima yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
Linda mengangguk. "Mungkin memang benar aku yang berlebihan. Mungkin dia memang sudah berubah tetapi aku yang belum bisa melupakan semuanya."
"Aku tahu kamu takut. Tetapi mungkin dia memang sudah berubah. Orang bisa berubah Lin. Lihatlah ... Kamu sendiri juga berubah."
Linda diam merenungkan kata-kata Bima. Mungkin itu memang benar.
"Ayo sekarang kita cari makan. Aku tahu pasti kamu belum makan."
"Bim ... "
"Apa?"
"Terima kasih!"
"Sekali-kali 'katakan aku mencintaimu', jangan terima kasih terus." Bima menggerutu tetapi justru membuat Linda tersenyum.
*
__ADS_1
*
"Lihat Bu, ini mainan yang ayah belikan." Aruna mengeluarkan semua mainan yang dibelikan oleh ayahnya.
Mulut Linda hampir menganga tidak percaya melihat banyaknya mainan yang dibelikan oleh Erik. Bagaimana laki-laki sepelit itu bisa mengeluarkan uang sebanyak ini untuk membeli mainan. Apa benar dia memang sudah berubah?
"Apa ayah bersikap baik kepadamu?"
"Ayah baik sekali, tidak galak," jawab Aruna sambil sibuk dengan mainnya.
"Apa Runa bertanya kenapa selama ini ayah tidak menemui Runa?"
Aruna menggeleng. "Kenapa harus bertanya seperti itu? Yang penting sekarang ayah sayang sama Runa. Ayah sudah berbeda Bu. Ibu harus bertemu ayah yang sekarang."
"Ya, kapan-kapan mungkin ibu harus bertemu ayahmu."
"Besok pagi saja Bu, ayah bilang besok akan datang ke sini."
"Benarkah?" Aruna mengangguk yakin. "Ayah bilang dia tidak bisa mengajak Runa jalan-jalan jadi ayah hanya akan datang sebentar untuk mengantarkan es krim yang Runa minta."
"Benarkah?" Lagi-lagi Linda tidak percaya kata-kata Aruna.
"Iya benar! Kenapa ibu tidak percaya?"
Tentu saja Linda sulit percaya. Dulu dia meminta Erik datang ke rumah orangtuanya adalah sesuatu yang sangat sulit tetapi sekarang dia mau datang hanya untuk mengantarkan es krim. Apa itu mungkin?
"Ayah pasti datang. Ibu tenang saja!"
"Baiklah, ibu percaya padamu." Linda berkata demikian hanya agar Aruna merasa lega. Padahal Linda sendiri tidak yakin Erik akan datang.
Keesokan harinya Erik benar-benar datang. Linda sungguh tidak menduganya. Dia pikir itu hanyalah janji semu seperti yang dulu sering dia berikan kepada Aruna.
"Ayah ... " Aruna berteriak kegirangan melihat ayahnya. "Benar kan Bu, ayah pasti datang?!"
Erik berjalan mendekat.
"Hai Lin, aku tidak tahu kamu ada di sini juga. Aruna tidak bilang padaku." Sebenarnya Erik sudah tahu karena kemarin dia sedikit mengorek informasi soal Linda dari Aruna.
Putrinya itu mengatakan jika sang ibu biasanya pulang sabtu sore dan menginap. Lalu pulangnya minggu sore atau kadang Senin pagi jika dia masih merasa kangen sama Aruna. Karena itulah dia mau mengantar eskrim sampai ke sana, bukan demi Aruna tetapi demi Linda.
Linda hanya mengangguk tanpa mau membalas sapaan Erik.
"Ayah, mana es krimnya?" Aruna menyela.
__ADS_1
"Ini ... Ini es krim yang Runa minta. Es krim durian. Ayah benar kan?"
Aruna mengangguk dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
"Maaf ya Runa, kemarin sore ayah tidak bisa mengajak kamu jalan-jalan lagi. Ayah harus kerja," ucap Erik dengan lembut.
Sulit sekali bagi Linda untuk percaya jika laki-laki di depannya ini orang yang sama yang dulu menjadi suaminya. Erik memang terlihat berbeda. Dia terlihat tenang dan lebih lembut. Bahkan tatapannya ke Aruna memperlihatkan jika dia benar-benar sayang kepadanya.
"Tidak apa-apa Yah." Aruna sudah tidak memperhatikan perkataan ayahnya. Dia sudah sibuk dengan es krimnya.
"Runa sekarang masuk dulu ya, ayah mau bicara sebentar sama ibu."
"Baik ayah." Tanpa diminta dua kali Aruna segera pergi meninggalkan ayah dan ibunya.
Linda tidak mengelak lagi. Mungkin sudah saatnya dia berhadapan dengan Erik.
"Lin ... Aku ingin minta maaf kepadamu."
Linda diam seribu bahasa. Bahkan menatap laki-laki itu saja dia tidak bersedia.
"Aku tahu yang sudah aku lakukan kepadamu sangat kejam. Dan aku juga tahu, mungkin kamu tidak akan bisa memaafkan aku. Tetapi aku ingin kamu tahu jika aku sangat menyesali perbuatanku dan juga sikapku kepadamu selama ini."
"Tolong lupakan yang sudah terjadi. Mari kita sama-sama membuka hidup baru."
"Lupakan?! Mudah sekali kamu bilang lupakan?! Kamu tidak tahu rasanya hidup dalam tekanan dan ketakutan! Kamu tidak tahu rasanya berjuang mati-matian tetapi perjuanganmu tidak ada artinya! Kamu tidak tahu yang aku rasakan! Jadi jangan ucapkan kata maafkan dan lupakan semudah itu kepadaku!"
"Lin ... Aku tahu. Aku sangat menyesal dan ingin memperbaikinya."
"Bagaimana?! Bagaimana kamu akan memperbaikinya?!!"
"Aku masih mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu. Aku tidak ingin menyakitimu lagi."
Linda terdiam. Rayuan seperti ini sudah tidak mempan lagi untuknya.
"Aku mohon beri aku kesempatan. Kalau memang sudah tidak ada kemungkinan untuk kita kembali bersama setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik untuk Aruna." Erik tetap terlihat tenang. Dia tidak terpancing meskipun Linda terlihat emosi kepadanya. Erik yang ini benar-benar berbeda.
"Mari kita bersama membesarkan Aruna tanpa pertengkaran. Akh juga ingin merawat Aruna. Aku ingin menebus kesalahanku yang telah menyia-nyiakan kalian berdua."
Linda tetap diam tetapi sorot matanya memancarkan kebencian yang luar biasa.
"Aku tahu saat ini masih sulit untuk memaafkan aku, kamu boleh membenciku. Tetapi aku kan berusaha menjadi lebih baik sampai kamu bisa memaafkan aku." Erik bahkan berusaha tersenyum kepada Linda yang sejak tadi memalingkan wajahnya.
"Aku tidak ingin meminta apapun darimu selain maafmu." Laki-laki ini terlihat seperti sungguh-sungguh dengan perkataannya.
__ADS_1
"Lin ... "
Linda masih membisu.