
Linda memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Erik. Perlu waktu beberapa saat hingga akhirnya dia memutuskan untuk turun dari sepeda motornya. Dia memandangi rumah itu. Sudah lebih dari dua tahun dia tidak menginjakkan kaki di rumah ini.
Perlahan Linda melangkahkan kakinya. Rasanya dia datang sebagai pribadi yang berbeda kali ini. Tidak ada debar ketakutan dan keringat dingin yang biasanya dia rasakan. Sepertinya Linda telah berhasil mengatasi traumanya.
Rumah ini memang menyimpan berjuta kenangan. Tetapi sudah memilih untuk melanjutkan hidupnya. Jadi kenangan apapun yang tersimpan di tempat ini akan tetap menjadi kenangan.
Dari depan rumah itu tampak sepi. Tetapi melihat mobil Erik terparkir di halaman dan pintu depan juga tampak terbuka, itu menandakan dia ada di rumah.
"Di mana mereka?" batin Linda.
Linda berdiri di depan pintu yang terbuka. Beberapa kali dia memanggil Erik juga Aruna tetapi tidak ada sahutan. Lalu dia melangkahkan kakinya memasuki rumah, siapa tahu mereka ada di dalam tetapi tidak mendengar suaranya.
"Aruna ... Aruna ... " teriak Linda tetapi tidak ada sahutan.
Linda masuk semakin dalam. Bukan lagi karena mencari Aruna, tetapi karena suatu perasaan yang dia tidak tahu apa. Matanya menyapu seluruh ruangan, mengingat-ingat apa yang sudah terjadi di tempat ini.
Tanpa sadar dia melangkahkan kakinya menuju ruang menjahitnya dulu. Ruangan dimana dia menyembunyikan dirinya dari tangis dan derita yang Erik berikan. Ruangan yang menjadi saksi bisu perjuangan dan pengorbanannya selama menjadi istri Erik.
Tidak ada yang berubah dari ruangan itu. Lemari, yang dulu biasa dia gunakan untuk menjahit, kasur lantai yang dulu pernah dia gunakan sebagai alas tidur. Semuanya masih berada di tempatnya. Bahkan sisa kain-kain jahitannya dulu juga masih menumpuk penuh debu di sudut ruangan.
Ruangan itu kotor dan banyak sarang laba-labanya. Sepertinya setelah kepergian Linda ruangan itu tidak di jamah sama sekali.
Melihat itu semua Linda merasa seperti kembali ke masa lalunya. Dia hampir menitikkan air matanya mengingat itu semua.
Lalu Linda berbalik. Dia ingin segera pergi dari tempat ini. Tetapi ketika akan melangkahkan kakinya tiba-tiba Erik sudah berdiri di belakangnya.
Linda sangat terkejut.
"Lin ... Sudah dari tadi?" tanya Erik dengan lembut.
Linda hanya mengangguk. "Dimana Aruna?"
"Dia masih di rumah Sella. Duduklah dulu, sebentar lagi pasti dia pulang karena aku sudah memberitahunya jika kamu akan menjemput."
__ADS_1
Linda menuruti kata-kata Erik. Dia berjalan ke ruang tamu lalu duduk sambil menunggu Aruna.
"Kamu mau minum apa?"
"Tidak terima kasih." Lalu suasana menjadi kaku. "Lebih baik aku susul Aruna ke rumah Sella sekarang." Linda tampak tidak nyaman berada di rumah itu hanya berdua dengan Erik.
"Jangan, kamu duduk di sini saja. Biar aku yang menyusulnya." Lalu Erik pun pergi meninggalkan Linda sendirian di rumahnya.
Setelah kepergian Erik Linda mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Benar-benar tidak ada yang berubah dari rumah ini. Sofa, meja, guci, tata letaknya semuanya masih pada tempatnya, bedanya hanya sekarang kotor dan tidak terawat. Tentu saja kotor, karena mana mau Erik membersihkan rumah?
Setelah menunggu beberapa saat Erik tidak juga kembali. Linda menjadi gelisah. Berkali-kali dia menengok ke luar pintu tetapi baik Erik maupun Aruna tidak muncul juga.
Linda sudah hampir berdiri untuk menyusul mereka tetapi kemudian dia melihat Erik kembali. Senyum sudah mulai mengembang di bibir Linda, dia pikir Aruna pulang bersama Erik. Tetapi ternyata Erik hanya sendirian.
"Aruna mana Mas?" tanya Linda begitu Erik masuk ke dalam rumah.
Erik tidak menjawab, dia justru menutup pintu dan menguncinya lalu mengantongi kuncinya.
"Aku hanya ingin bicara denganmu Lin, sebentar saja," ucap Erik dengan halus.
"Bicara saja, kenapa pintunya harus dikunci?!"
Erik mendekati Linda dan langsung duduk di sampingnya. Tanpa aba-aba dia meraih tangan Linda dan menggenggamnya. Linda mencoba melepas tangan Erik tetapi semakin dia mencoba semakin erat Erik menggenggamnya.
"Lin ... Apa kamu masih belum bisa memaafkan aku?" tanya Erik masih dengan nada yang halus. Mendengar nada bicara Erik Linda pun melunak. Dia membiarkan Erik menggenggam tangannya.
"Aku masih mencintaimu Lin. Aku serius. Aku selalu ingat padamu." Erik terus bicara meskipun Linda terus menghindari kontak mata dengannya. "Aku mohon maafkan aku ... Kembalilah padaku." Akting Erik benar-benar sempurna. Dia memasang wajah tulusnya yang seakan dia benar-benar menyesal.
Perlahan Linda mulai melirik Erik. Dulu wajah tampan Erik selalu bisa membuat hatinya luluh.
"Kamu semakin cantik. Aku menyesal Lin ... Mau kan kamu memaafkan aku?" Erik memasang senyum terbaiknya setelah Linda menatapnya.
Linda tidak menjawab. Dia terus menatap Erik dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku dan berikan kuncinya Mas, aku ingin menjemput Aruna," ucap Linda datar. Sepertinya rayuan Erik tadi tidak ada artinya lagi bagi Linda.
Erik tidak menyangka Linda sama sekali tidak menanggapi semua kata-katanya tadi.
"Lin ... " Erik kehabisan kata-kata. Semua rayuannya sudah dia keluarkan. Lalu tanpa Linda duga Erik menciumnya.
Linda kaget, dia berusaha mendorong tubuh Erik sekuat tenaga hingga ciumannya di bibir Linda lepas.
"Apa-apanya kamu Mas?!" Linda terlihat marah.
"Alah, jangan pura-pura Lin! Aku tahu kamu juga masih menginginkan aku!" Erik menarik tubuh Linda ke dalam pelukannya dengan paksa.
"Lepaskan aku!" Linda memberontak.
"Aku tahu kamu masih menginginkan! Apa kamu ingat masa-masa kita bersama dulu? Kamu suka sekali bukan jika aku menyentuh tubuhmu?! Ayo kita ulangi lagi!" Erik sudah berubah menjadi dirinya yang sebenarnya. Tidak ada lagi sikap manis dan lembut yang sejak tadi dia perlihatkan.
"Aku tidak sudi!" Linda masih berusaha melawan. Kini tubuh Erik sudah menindih tubuhnya.
"Ayo layani aku lagi Lin. Sekarang pasti tubuhmu terasa lebih nikmat! Aku sudah tidak sabar."
Erik sudah dikuasai nafsu. Dia sampai tidak peduli jika saat ini mereka sedang berada di ruang tamu. Satu tangannya sibuk membuka kancing baju Linda sementara tangan satunya memegang tangan Linda ke atas.
"Jauhkan tanganmu brengsek!!!" umpat Linda.
"Wow, memang benar kamu semakin galak! Aku jadi semakin bergairah."
Linda terus berusaha memberontak. Dia menarik tangannya sekuat tenaga hingga akhirnya satu tangannya terlepas dan Linda langsung menggunakannya untuk menampar Erik.
"Heh !!! Berani kamu menamparku?!!" Erik terpancing emosi.
"Kamu pikir kamu siapa?! Aku sudah bukan siapa-siapamu lagi!!!" Linda sama sekali tidak takut dan itu membuat Erik semakin marah.
"Lihat saja, aku akan membuatmu kembali tunduk kepadaku!!!" Erik semakin membabi buta. Leher Linda sudah menjadi sasarannya.
__ADS_1