
"Sebaiknya sekarang kita tidur. Aku tahu kamu lelah. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Satu hal lagi, aku tidak akan mengijinkan kamu pulang malam ini!" Sari berusaha bersikap tegas. Dia tidak ingin Linda terus-terusan menjadi budak Erik.
"Tapi Aruna bagaimana Mbak? Dia sendirian."
"Aruna tidak sendirian Linda! Ada ayahnya! Jangan semuanya kamu sendiri yang urus!" jawab Sari sambil berlalu meninggalkan Linda.
Sari yakin Linda tidak akan pergi kemana-mana karena dia belum mendapatkan uang. Sebenarnya Sari sendiri tidak tega melihat keadaan Linda. Mungkin sikapnya juga agak keras kepada Linda tetapi dia melakukan itu demi kebaikan adiknya itu sendiri. Sari tidak mau Erik enak-enak sementara Linda harus kelabakan mencari pinjaman uang.
Linda termenung memikirkan kata-kata Sari. Mana mungkin Erik mau datang dan meminjam uang sendiri. Pasti nanti akhirnya dia juga yang akan dimarahi.
Linda melihat sekelilingnya kemudian meneteskan air mata. Dia memikirkan Aruna terlebih kondisi kaki Aruna sedang sakit. Linda ingin sekali pulang tetapi dia tidak berani. Ini sudah hampir jam dua belas malam, jalanan pasti sudah sangat sepi. Tetapi bukan itu yang Linda takutkan. Dia lebih takut melihat kemarahan Erik jika dia pulang tidak membawa uang.
Pagi harinya...
Sari mendatangi Linda di kamar tamu. Suaminya sudah berangkat bekerja bersamaan dengan anaknya berangkat sekolah. Tadi Linda tidak ikut sarapan bersama jadi Sari membawakan sarapannya ke kamar.
"Lin .... Sudah bangun?" Sari mengetuk pintu.
Segera Linda membukakan pintu.
"Aku bawakan sarapan. Makanlah." Sari memberikan makanan yang dia bawa kepada Linda tetapi dia tidak menyentuh makanan itu.
"Mbak ... Aku mohon. Tolong pinjami aku uang. Aku janji akan kembalikan secepatnya. Tidak usah meminta Mas Erik datang."
Sari memperhatikan wajah Linda. Matanya tampak bengkak dengan lingkaran hitam yang terlihat jelas.
"Mbak ... Tolong aku ya ... Sekali ini saja." Linda tidak kuasa menahan air matanya. Dia menangis di depan Sari.
"Mas Erik akan sangat marah aku jika aku pulang tidak membawa uang. Tolong aku mbak ... Pinjami aku uang."
Sari ingin memberikan pelajaran kepada Erik. Melihat Linda menangis dan memohon kepadanya sebenarnya Sari tidak tega.
Sari mengajak Linda duduk.
"Linda ... Sebenarnya aku tidak tega melihat kamu seperti ini. Tetapi aku melakukan ini demi kamu. Agar kamu tidak terus-menerus dijajah suamimu," ucap Linda dengan halus. Sulit sekali memberi tahu Linda jika seorang suami tidak seharusnya bersikap seperti yang Erik lakukan kepadanya.
"Aku tidak dijajah mbak, aku melakukan ini karena keinginanku sendiri." Linda terus membela Erik. "Aku mencintai dia mbak, dia suamiku!"
"Maaf Lin, tetapi kali ini aku tidak bisa membantu."
__ADS_1
Linda terlihat sangat kecewa dengan jawaban Sari. "Mbak ... Kamu tega?" Linda menatap Sari dengan tatapan memohon dan mata yang basah.
"Nanti kalau Erik marah dan berbuat kasar kepadamu kamu boleh kembali kesini. Aku akan membelamu. Kalau dia mengancam akan menceraikan kamu, aku akan maju lebih dulu untuk mengurus semuanya."
Linda tidak bisa berkata-kata lagi.
"Aku tidak ingin bercerai mbak, jangan ucapkan kata itu lagi."
Mau bagaimanapun sikap Erik kepadanya, Linda tidak pernah berpikir ini bercerai dari Erik. Kata itu tidak pernah terlintas di pikirannya. Bahkan setiap kali Erik mengancam akan menceraikan dia Linda selalu ketakutan.
"Makanlah, setelah itu kamu boleh pulang. Tetapi kalau kamu masih ingin di sini juga tidak apa-apa."
"Tidak, aku harus pulang. Aku tidak bisa meninggalkan Aruna di rumah sendirian. Aku akan membawa makanan ini pulang. Biar nanti dimakan Aruna."
"Tidak usah, kamu makan saja itu. Aku sudah menyiapkan makanan untuk Aruna sendiri."
"Baiklah ... "
Selesai makan sebenarnya Linda ingin segera pulang. Dia teringat Aruna yang pasti belum disiapkan makanan oleh ayahnya, bahkan mungkin Erik belum bangun sekarang. Linda merasakan dilema. Dia ingin pulang tetapi takut suaminya, tetapi kalau dia tidak pulang bagaimana nasib Aruna.
"Mbak ... " Linda tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Linda diam. Dia sedang berfikir siapa lagi yang mungkin bisa meminjaminya uang sepagi ini.
"Ini makanan untuk Aruna." Sari memberikan bungkusan makanan yang sudah ditaruh di dalam tas dan satu tas lagi berisi sembako. "Dan ini ... " Sari memberikan dua lembar uang seratus ribuan. "Uang ini untuk kamu bukan untuk Erik. Jangan berikan kalau dia minta uang, biar dia usaha sendiri!"
"Mbak ... "
"Tidak apa-apa, jangan takut. Ingat kamu istrinya bukan budaknya! Pulanglah ... Hati-hati di jalan."
Dengan berat hati Linda meninggalkan rumah Sari. Dia mengendarai sepeda motornya pulang. Sebenarnya kalau dia mau dia bisa meminjam ke orang tuanya lagi tetapi Linda sudah tidak ingin merepotkan orang tuanya. Dia lebih memilih untuk menghadapi kemarahan Erik daripada harus mengganggu tabungan orang tuanya lagi.
Sampai di rumah Linda sudah disambut dengan wajah masam oleh Erik. Linda sendiri tidak menyangka karena tidak biasanya Erik bangun jam segini, apalagi dia terlihat sudah rapi.
"Darimana kamu?!"
"Aku dari rumah Mbak Sari Mas. Aku ingin meminjam uang kepada Mbak Sari."
"Terus? Dapat uangnya?!"
__ADS_1
Linda menggeleng pelan. Erik segera meraih tangan Linda dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.
"Apa gunanya pergi bahkan sampai tidak pulang kalau kamu tidak mendapatkan apa-apa?!!" Erik terlihat sangat marah.
"Apa ini?!!" Erik merebut tas pemberian Sari lalu melempar tas itu hingga semua isinya berceceran di lantai. "Yang kita butuhkan sekarang uang, bukan barang-barang seperti ini!"
Wajah Linda pucat, tubuhnya gemetar. Dia sangat takut melihat Erik marah seperti ini.
"Sekarang mau dapat uang dari mana? Hah?!! Kenapa tidak minta kepada bapak pasti dikasih?!!"
"Aku tidak mau merepotkan bapak dan ibu Mas. Hutang kita sudah banyak kepada mereka." Suara Linda gemetar.
"Itu hanya alasan kamu saja kan?!! Bilang saja kalau kamu tidak mau membantu membayar cicilan mobil?!!"
"Tidak Mas ... kalau aku punya uang pasti aku bantu."
"Kalau begitu buktikan!!!"
Linda terdiam sementara Erik berjalan mondar-mandir kebingungan.
"Kita jual motormu saja!!!"
"Mas ... Jangan jual motorku. Itu satu-satunya kendaraan yang aku miliki. Motormu sudah kamu jual untuk uang muka mobil. Kalau motorku di jual nanti kalau aku mau pergi bagaimana?"
"Kamu bilang kamu mau bantu aku kan? Itu satu-satunya cara membantuku!"
"Tapi jangan jual motorku Mas ... "pinta Linda. Dia sudah tidak kuasa menahan air matanya.
"Mana kuncinya?"
"Mas ... Aku mohon jangan jual motorku."
"Tidak usah nangis!!! Aku tetap akan menjualnya meski kamu menangis sampai air matamu habis! Memangnya kamu punya cara lain?!!" bentak Erik. "Cepat ...!!! Mana kuncinya?!!"
Linda menggenggam erat kunci motornya. Rasanya berat untuk memberikannya kepada Erik.
"Tetapi aku membutuhkan motor ini Mas, ini pemberian orang tuaku ... "
"Heh coba pikir ... Rumah ini juga pemberian orang tuaku tapi kamu ikut tinggal di sini!"
__ADS_1
Erik tidak mempedulikan tangisan Linda. Dia merebut kunci itu dari tangan Linda lalu pergi.