Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 38. Tidak Percaya


__ADS_3

Sulit sekali bagi Linda untuk mengatakan jika dia tidak rela Aruna berhubungan dengan ayahnya. Aruna hanya akan menjadi anaknya sendiri karena selama ini dia berjuang sendiri membesarkannya.


"Dia bilang sudah berusaha bicara kepadamu tapi kamu menolak bicara dengannya?!"


Linda terdiam.


"Apa yang terjadi denganmu dan Erik biarlah menjadi urusan kalian berdua. Jangan samakan Aruna dengan kamu, masalah kalian berbeda. Kalau Erik ingin memperbaiki hubungannya dengan Aruna maka kita beri dia kesempatan. Dia sudah minta maaf sama ibu dan bapak. Bapak hargai usahanya untuk berubah."


"Tetapi kamu ... Sampai kapanpun bapak tidak rela kalau kamu sampai kembali kepadanya. Bapak harap kamu mengerti itu."


"Iya Pak."


"Satu lagi, jangan terlalu keras kepada Aruna. Kamu mungkin tidak tahu, tapi bapak dan ibumu sering melihatnya dia murung akhir-akhir ini. Bapak sudah tanya tapi dia tidak mau jawab. Sama neneknya juga tidak mau cerita. Bapak tidak mau dia jadi pribadi yang tertutup seperti kamu dulu."


Linda tidak banyak bicara apalagi membantah. Semua yang dikatakan bapaknya benar.


"Kamu dulu sangat tertutup. Ada apa-apa memilih diam. Ada masalah juga tidak mau cerita, akhirnya kamu tahu sendiri seperti apa. Jangan sampai Aruna juga seperti itu."


Linda mengangguk. "Jadi aku harus bagaimana Pak? Apa aku harus mengijinkan Runa pergi bersama ayahnya?"


"Sebenarnya Bapak juga tidak rela Lin, tetapi kalau itu bisa membuat Runa bahagia maka kita yang harus mengalah. Tetapi keputusannya tetap di tanganmu."


Linda menjadi pusing setelah mendengar nasehat dari sang bapak. Dia merasa sendiri, tidak ada yang mengerti perasaannya.


*


Tidak terasa empat hari berlalu begitu cepat. Linda menemani Aruna kemanapun selain ke rumah Sella, tetangganya dulu. Linda dan Aruna banyak menghabiskan waktu bersama. Selama empat hari itu pula Bima tidak menelepon Linda. Sepertinya dia benar-benar memberikan waktu bagi Linda untuk fokus ke keluarganya. Hingga hari ini waktunya Linda kembali ke kota.


Pagi-pagi sekali Linda berangkat bahkan sebelum Aruna bangun dari tidurnya. Dia sudah berpesan kepada bapaknya, nanti jika sewaktu-waktu Erik datang untuk menjemput Aruna maka Linda memberikan ijin dengan syarat tidak boleh menginap. Nenek dan kakek Aruna juga setuju akan hal itu.


Linda sudah memikirkan semuanya. Dia harus mengalahkan egonya demi Aruna.


Akhirnya Linda bisa kembali bekerja dengan perasaan lebih tenang.


Linda langsung menuju butik tanpa mampir ke kos nya dulu. Semua barang-barangnya dia bawa ke ke butik karena takut terlambat.


Begitu masuk ke dalam butik Linda langsung di hadapkan dengan pekerjaan yang luar biasa banyaknya.


"Apa Bima kesini?"


"Mungkin dua hari yang lalu Mbak. Tuan Bima jarang kesini kalau tidak ada Mbak Linda." Jawaban temannya membuat senyum terukir di wajah Linda.

__ADS_1


"Masa sih?" Linda tidak percaya. "Mungkin dia sedang banyak kerjaan do toko tekstil."


"Mungkin juga."


"Ya sudah, aku mau ke ruanganku dulu." Linda mengangguk dan meninggalkan temannya itu.


Sudah beberapa jam Linda di dalam butik. Tetapi sejak tadi dia tidak bisa konsentrasi. Rasanya ada yang kurang.


Linda meraih handphonenya untuk menghubungi Bima. Berada di dalam butik tanpa Bima mengekor di belakangnya terasa aneh bagi Linda.


Selain itu Linda juga bertanya-tanya apa yang dilakukan Bima selama dia tidak ada. Bahkan Bima sampai tahan untuk tidak menelepon dirinya. Itu sangat aneh karena bagi Bima tidak ada hari tanpa menggangu Linda.


Belum sempat Linda menghubungi Bima ponselnya berdering lebih dahulu.


"Halo ... " Linda mengangkat telepon dari Bima.


"Nanti siang kita makan bersama?"


"Dari mana kamu tahu aku sudah mulai bekerja?"


"Dari kalenderku. Kamu cuti empat hari dan kemarin sudah hari ke empat. Seharusnya hari ini kamu sudah mulai bekerja. Benarkan?"


"Jadi bagaimana? Nanti siang aku jemput. Mau kan?"


"Siap, Tuan Bima." Linda menutup teleponnya sambil tersenyum. Rasanya lega setelah mendengar suara Bima. Tidak tahu kenapa dia merasa bahagia. Linda juga seperti mendapatkan suntikan semangat setelah mendengar suara Bima.


"Tunggu sebentar ... Apa ini artinya aku sudah jatuh cinta pada Bima?!"


*


Sudah hari Sabtu lagi. Linda tidak ada rencana pulang ke desa karena kemarin sudah menghabiskan empat hari di sana.


Ini sudah jam enam sore tetapi Linda masih berkutat di ruangannya. Karena dia tidak ada acara malam ini maka dia akan menghabiskan malam Minggunya untuk membuat pakaian.


Tiba-tiba ponsel Linda berdering. Linda mengernyitkan alisnya.


"Kenapa Runa menelfon? Aku sudah memberitahunya jika hari ini aku tidak pulang ke desa," gumam Linda.


"Ada apa Runa?"


"Halo ... Bu, ayah datang untuk menjemput Runa. Katanya ibu sudah mengijinkannya, apa benar?" tanya Aruna dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Iya, Ibu mengijinkan Runa pergi sama ayah Runa."


"Ibu serius? Ibu tidak marah? Ibu yakin?" Aruna meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya, ibu mengijinkan Runa pergi sama yang asal tidak menginap. Nanti pukul sembilan malam harus sudah pulang ke rumah nenek. Kamu mengerti?"


"Iya, Runa mengerti. Jadi sekarang Runa boleh pergi kan?"


"Iya!"


"Terima kasih Bu, Runa sayang ibu!" Suara Aruna terdengar sangat bahagia. Dia buru-buru ingin segera mengakhiri panggilannya.


"Runa ... " panggil Linda sebelum Aruna menutup teleponnya.


"Apa Bu?"


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi ibu atau kakek nenek."


"Kalau ada apa-apa apa maksudnya Bu? Runa tidak mengerti."


"Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau ayah marah atau ayah jahat sama Runa segera telepon kakek atau nenek."


"Oh ... Iya Bu. Sampai jumpa."


"Satu lagi, langsung telepon ibu jika Aruna sudah pulang."


"Iya Bu, iyaaaa ... "


Linda menutup teleponnya dengan perasaan yang campur aduk. Jauh di dalam lubuk hatinya dia takut apa yang Erik lakukan kepadanya dulu juga dia lakukan kepada Aruna. Linda takut Erik menjual Aruna seperti dia menjualnya dulu. Tapi Linda berusaha menepis pikiran itu jauh-jauh.


Linda berusaha melanjutkan pekerjaannya tetapi pikiran tidak bisa fokus setiap kali dia ingat jika Aruna sedang pergi bersama ayahnya. Pikiran buruk tentang Erik selalu saja menghantuinya.


Sebentar-sebentar dia menelpon bapak ibunya untuk menanyakan apakah Aruna sudah pulang. Sementara Linda tidak bisa mengetahui keadaan Aruna karena dia sudah tidak menyimpan nomor telepon Erik.


Linda frustasi sendiri karena pikirannya. Akhirnya dia hanya bisa menangis sendirian di ruang kerjanya. Sampai akhirnya Bima datang untuk menenangkannya.


"Lin ... Yakinlah Aruna tidak apa-apa. Erik tidak mungkin sekejam itu pada anaknya sendiri. Apalagi dia sedang berusaha memperbaiki diri."


"Tapi aku tidak bisa percaya padanya begitu saja. Orang-orang tidak tahu ketakutan dan kekhawatiranku karena mereka tidak mengalaminya." Linda hampir berteriak.


"Sssttt ... Tenanglah. Nanti kalau jam sembilan Aruna belum diantar pulang kira cari dia bersama."

__ADS_1


__ADS_2