Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 20. Salah Sangka


__ADS_3

Hari ini ulang tahun Aruna. Linda akan pergi ke kota untuk membeli keperluan menjahit sekaligus membelikan kue ulang tahun untuk Aruna. Belum pernah sekalipun Aruna dibelikan kue ulang tahun, apalagi mendapatkan kado.


Sekarang Linda mempunyai sedikit tabungan karena Erik sudah tidak pernah meminta uang untuk membayar cicilan mobil. Dengan uang itu Linda berencana untuk membelikan Aruna kue ulang tahun dan juga kado.


Sebelumnya Linda sudah memberitahu Mbak Sari dan kedua orang tuanya agar nanti malam datang ke rumah untuk memberi kejutan Aruna. Linda ingin Aruna bahagia seperti anak-anak lainnya, tanpa memikirkan kondisi orang tuanya.


Pagi-pagi sekali Linda sudah menyiapkan semuanya. Sarapan dan membereskan rumah sudah dia lakukan. Dia juga sudah memberitahu Aruna untuk pulang ke rumah Sella jika nanti pulang sekolah dirinya belum sampai rumah.


Tepat setelah Aruna berangkat sekolah Linda juga berangkat ke kota. Linda semangat mengayuh sepedanya.


Sepanjang jalan Linda tersenyum membayangkan bagaimana nanti wajah Aruna mendapatkan kejutan kue ulang tahun yang belum pernah dia dapatkan seumur hidupnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya Linda sampai di kota. Dia langsung menuju toko tekstil langganannya. Baru setelah itu dia akan membeli kado dan kue untuk Aruna.


Selesai dari toko tekstil, Linda langsung menuju toko pakaian. Dia ingin membelikan pakaian yang bagus untuk Aruna. Linda sibuk memilih pakaian hingga tidak terasa sudah hampir jam dua belas siang. Linda harus bergegas agar nanti pulangnya tidak kesorean.


Linda mengambil satu potong pakaian lalu ingin membawanya ke kasir.


"Linda?"


Linda menoleh mendengar ada suara yang memanggilnya.


"Eh ... Tuan Bima." Linda menunduk sopan. Dia langsung ingat siapa orang yang berdiri di hadapannya.


"Panggil Bima saja."


"Iya ... "


"Apa kamu mau menemani aku makan siang?" tanya Bima tanpa basa-basi.


"Maaf, aku bawa bekal tadi dari rumah," jawab Linda tanpa malu. "Lagi pula aku harus pulang cepat karena nanti malam ada acara keluarga di rumah."


"Oh begitu. Sebenarnya aku ingin bicara sesuatu sama kamu."


Linda mengerutkan keningnya. Dia tidak merasa ada sesuatu yang perlu dibicarakan dengan laki-laki baru dikenalnya itu.


"Bicara apa?"


"Sebenarnya lebih enak sambil makan siang, tetapi berhubung kamu sedang tidak ada waktu jadi aku bicara di sini saja. Aku ingin minta maaf karena waktu itu sudah mengira kamu ... " Bima menggantungkan kalimatnya.


"Kamu apa?" Linda penasaran.


"Waktu itu aku mengira kamu orang gila."


Linda tertawa mendengar kalimat Bima.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa? Aku merasa bersalah setelah kejadian itu dan terus ingat kamu."


"Aku sudah tahu itu. Aku sadar penampilanku seperti apa, jadi aku tidak menyalakan kamu kalau kamu menganggap aku orang gila."


"Aku benar-benar minta maaf."


"Tidak, tidak apa-apa. Yang penting aku tidak gila." Bima tersenyum mendengar jawaban Linda. "Aku permisi dulu. Aku harus membayar ini ke kasir." Linda menunjukkan baju yang sudah dia pilih untuk Aruna.


"Tidak usah bayar, anggap saja sebagai permintaan maafku."


"Tidak usah ... terimakasih. Aku tetap harus bayar. Ini adalah kado untuk anakku jadi aku ingin membelikannya dengan uangku."


"Oh ... Begitu." Bima menghargai keinginan Linda. "Bolehkah aku minta nomor teleponmu?"


"Buat apa?"


"Aku bisa memberitahu kamu jika sedang ada diskon di tokoku," jawab Bima asal. Bima tidak tahu kenapa, tetapi ada rasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak mengenai perempuan yang baru dikenalnya ini.


"Iya, benar juga." Wanita mana yang tidak tergiur dengan diskon? Linda segera menuliskan nomor telefon di kertas yang diberikan oleh Bima.


Bima menemani Linda sampai di kasir dan terus mengajak dia bicara hingga menarik perhatian para karyawannya.


"Jadi waktu itu kamu mengajak aku makan karena merasa bersalah?" tanya Linda.


Linda tersentuh mendengar jawaban Bima. Hanya masalah seperti itu saja dia merasa bersalah dan ingin minta maaf. Padahal Linda bukan siapa-siapa. Sedangkan Erik, suaminya sudah banyak sekali hal menyakitkan yang dia lakukan tetapi tidak sekalipun dia minta maaf.


Linda tersenyum. "Aku memaafkan kamu."


"Terimakasih."


"Aku harus pulang sekarang." Linda melempar senyum dan dibalas senyuman oleh Bima.


Tiba-tiba tangan Linda ditarik dengan kasar oleh seseorang.


"Sedang apa kamu di sini? Siapa dia?!"


"Mas Erik?" Wajah Linda langsung pucat pasi. Pasti Erik salah paham lagi kepadanya.


Linda tidak menyangka Erik akan tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Jawab aku!!! kamu sedang apa sama laki-laki itu?!!"


"Aku tidak berbuat apa-apa Mas. Aku hanya membeli baju untuk Aruna." Linda menunjukkan tas yang berisi baju yang baru saja dia beli.


"Maaf, anda salah sangka ... " Bima berusaha menjelaskan.

__ADS_1


"Diam kamu!!! Ini urusanku dengan istriku!" Erik menyeret Linda keluar dari toko. Dia terlihat sangat marah.


"Mas, ini tidak seperti yang kaku pikirkan." Linda berusaha menjelaskan. "Aku tidak kenal laki-laki itu."


Erik tidak menjawab. Dia melemparkan tubuh Linda ke dalam mobil dan langsung membawanya pulang.


"Erik ... Tunggu ... !!!" Erik bahkan sampai lupa jika dia datang bersama Diana.


Erik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumah.


"Siapa laki-laki itu?!!" Erik sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Bukan siapa-siapa Mas, aku tidak kenal dia." Linda gemetar ketakutan.


"Benarkah?!! Aku lihat kalian tadi ngobrol sangat akrab?! Kamu bahkan bisa tersenyum dan tertawa dengannya?!! Apa kamu sedang menggodanya?!! Aku yakin kamu sudah kenal laki-laki itu sebelumnya!!!"


"Kami bertemu dua kali, itupun tidak sengaja."


"Plakkk!!!"


Linda meringis memegangi pipinya. Erik menamparnya dengan sangat keras.


"Jadi kamu sudah janjian dengan laki-laki itu dua kali?!!"


"Tidak ... Bukan seperti itu ..." Suara Linda terbata. Erik menatapnya dengan tatapan iblis yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.


*


Linda meringkuk sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Erik kalap hingga beberapa kali menampar, mendorong dan juga memukulinya. Suara handphonenya yang terus berdering membuat dia akhirnya berhenti.


Rupanya Diana yang terus menelponnya. Barulah Erik sadar jika dia telah meninggalkan Diana di toko tadi. Erik berhenti melampiaskan kemarahannya kepada Linda dan bergegas pergi untuk menjemput Diana.


Hari sudah menjelang malam. Aruna pulang diantar oleh Sella karena ibunya tidak kunjung menjemputnya.


"Kamu berani di rumah sendirian?" sayup-sayup terdengar suara Sella.


Linda segera bangun dan merapikan pakaiannya. Dia sampai melupakan Aruna yang masih berada di rumah Sella.


Linda ingin segera keluar untuk menyambut Aruna, tetapi ketika melihat wajahnya di cermin lalu mengurungkan niatnya. Akhirnya Linda hanya menunggu di balik pintu sampai Sella pergi. Dia tidak ingin ada orang yang melihat wajahnya penuh memar seperti ini.


"Runa berani Kak."


"Ya sudah, Kakak pulang dulu."


"Terimakasih Kak."

__ADS_1


__ADS_2