
"Lin ... Pulang kampungnya nanti malam saja ya, temani aku makan malam dulu. Aku tidak punya teman." Bima belum menyerah. Raut wajahnya berubah serius. Kalau sudah mode serius seperti ini Bima terlihat sangat dewasa dan ketampanannya terpancar paripurna.
"Tapi ... " Linda tidak tega menolak keinginan Bima. "Baiklah ... Aku temani kamu makan malam baru setelah itu aku akan pulang ke desa."
Sejujurnya Linda kasihan kepada Bima. Tidak tahu kenapa laki-laki ini selalu sendirian. Dia hanya sesekali pergi dengan teman-temannya. Dia juga tidak pernah menceritakan keluarganya apalagi orang tuanya.
"Setelah itu pulangnya boleh aku antar?"
"Tidak, aku akan tetap naik motor."
"Lin ... Sudah malam, biar aku antar. Berbahaya perempuan malam-malam naik motor sendirian. Apalagi kampung halamanmu kan jauh?!"
Linda tertawa. "Tidak usah lebay! Rumahku tidak sejauh itu. Kalau aku ngebut, paling satu jam juga sudah sampai rumah!"
"Malah mau ngebut segala, bahaya tahu?! Biar aku antar!" Bima bersikeras.
"Aku tidak ingin merepotkan kamu Bim, kalau kamu mengantarku pulang itu artinya kamu juga harus siap menjemputku."
"Tentu, kapan saja aku siap menjemputmu!"
"Tidak terimakasih! Aku akan pulang sendiri." Linda tetap pada keputusannya.
Linda masih ingat jelas bagaimana Erik marah-marah karena harus menjemput Linda dari rumah orang tuanya waktu itu. Linda takut mengingat kejadian itu. Dia takut Bima juga akan marah-marah seperti itu ketika menjemputnya nanti.
Linda tahu Bima dan Erik adalah pribadi yang sangat berbeda.
Tetapi rasa trauma Linda atas sikap suaminya dulu membuatnya sering ketakutan tanpa alasan. Tidak ada yang benar-benar hilang dari ingatan Linda. Apa yang sudah Erik lakukan kepadanya masih terekam dengan jelas di memorinya.
Linda sering sekali menangis di dalam kamar kosnya jika teringat apa yang sudah dia alami sewaktu masih bersama Erik. Dan semua itu dia simpan rapat-rapat agar tidak ada yang mengetahuinya.
*
Malam harinya...
__ADS_1
"Lin ... Kenapa kamu masih belum bisa menerimaku?" tanya Bima.
Linda terdiam. Sampai sekarang Linda masih belum bisa menjawab pertanyaan Bima yang satu ini.
"Kenapa kamu masih menanyakan itu?" balas Linda sambil mengunyah makan malamnya.
"Aku akan terus menanyakannya sampai aku mendapatkan jawaban. Aku ingin jawaban serius Lin, sudah dua tahun aku menunggumu."
"Aku merasa tidak pantas untukmu. Sudah sering aku katakan padamu, aku seorang janda, miskin dan memiliki seorang anak. Dan satu lagi, aku juga sudah tua!"
"Aku juga sudah sering mengatakan kepadamu, aku tidak peduli statusmu, apalagi umurmu! Seperti selisih usia kita lima belas tahun saja?! Kita ini hanya beda dua atau tiga tahun Linda, jangan berlebihan!" balas Bima cepat.
"Kamu mungkin tidak peduli Bim, tapi aku peduli. Bagaimana nanti keluargamu? Apa mereka akan bisa menerimaku dan anakku? Kamu dari keluarga kaya, keluargamu pasti tidak ingin kamu mendapatkan jodoh perempuan sembarangan dan tidak jelas seperti aku."
"Sekali lagi aku tidak peduli!" Bima tetap teguh pada pendiriannya.
"Kamu bisa mencari perempuan lain yang lebih muda dariku yang seusia denganmu dan tentu saja yang sederajat denganmu."
Jauh di lubuk hati Linda sebenarnya bukan itu alasan kenapa dia masih bisa menerima cinta Bima. Tetapi trauma lah yang membuat dia tidak berani menjalin sebuah hubungan, baik dengan Bima atau dengan laki-laki lain yang berusaha mendekatinya. Linda belum siap. Lagi pula sekarang dia sedang membangun karirnya.
"Jangan lebay deh Bim." Linda tertawa mendengar pertanyaan Bima.
"Ayolah Linda ... Beri aku kesempatan." Bima terus memohon.
Tanpa Linda sadari ada seorang laki-laki yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Linda dan memandangnya dengan tatapan terpesona. Dan laki-laki itu perlahan mendekat.
"Lin ... "
Linda mendengar suara yang memanggil namanya. Tiba-tiba saja jantung Linda berdebar hebat dan wajahnya terlihat pucat. Linda tidak berani menoleh ke sumber suara. Dia sangat hafal dengan suara ini.
"Linda ... Kamu tidak apa-apa?" Bima menyadari perubahan pada diri Linda. Dia meraih tangan Linda lalu menggenggamnya. Bima hanya memperhatikan Linda hingga dia tidak sadar ada seorang laki-laki mendekati meja mereka.
"Kamu kenapa?" tanya Bima lagi.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang Bim," jawab Linda lirih. Dia berharap ini hanya halusinasinya saja. Tidak mungkin Erik ada di tempat ini. Sudah dua tahun dia dan Erik tidak bertemu. Linda tidak berharap tiba-tiba Erik muncul dan secara kebetulan bertemu di tempat ini.
Linda segera berdiri demikian juga Bima. Tetapi ketika Linda hendak melangkahkan kakinya ada seorang menghalangi langkahnya.
"Linda ...?! Ini benar kamu Sayang?!" Erik benar-benar berdiri di depan Linda. Dia tidak sedang berhalusinasi.
Linda menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap Erik. Tanpa berkata apa-apa Bima langsung mendorong Erik menjauh dari Linda.
"Mau apa kamu?!" Bima menatap Erik tajam dan siap menerkam.
"Minggir jangan halangi! Aku ingin melihat Linda." Erik berusaha menghalau Bima. "Linda Sayang ... Aku sampai tidak mengenalimu. Bisa kira bicara berdua?"
"Menjauh dari Linda!" geram Bima. Dia kembali mendorong Erik. Dia tidak akan membiarkan Erik mendekati Linda meskipun satu meter saja.
"Bim ... Aku ingin pulang sekarang," Suara Linda lirih. Tidak ingin berlama-lama berurusan dengan Erik, Bima segera menarik tangan Linda dan membawanya keluar dari tempat itu.
"Tidak apa-apa, ada aku. Akan mengantarkan kamu." Bima berusaha menenangkan Linda. "Motormu di tinggal di sini saja. Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya."
Linda mengangguk menuruti kata-kata Bima.
Bima mengantarkan Linda ke tempat kos nya untuk mengambil barang-barangnya. Setelah dia mengantarkan Linda pulang ke rumah orang tuanya.
Bima senang akhirnya dia bisa mengantarkan Linda pulang ke rumah orang tuanya meskipun dia tidak mengharapkan kejadian tadi.
Selama perjalanan pulang Linda hanya diam. Dia tidak habis pikir, setelah dua tahun tidak ada kabar bagaimana bisa Erik tiba-tiba muncul di depannya seperti tadi.
"Kamu tidak apa-apa Lin?" tanya Bima setelah melihat Wajah Linda tidak sepucat sebelumnya.
"Kemana dia selama ini Bim? Kenapa sekarang saat hidupku sudah mulai mapan dan bahagia dia kembali muncul di depanku?!" Bukan hanya Linda, Bima sendiri tidak habis pikir kemana Erik selama ini hingga tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Kamu masih takut padanya?"
"Aku tidak tahu. Aku selalu merasa terintimidasi saat mendengar suaranya."
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan pergi sendirian. Minta seseorang untuk menemanimu. Bisa aku, bapak, ibu atau Mbak Sari siapa saja. Pokoknya jangan pergi sendirian, entah kemanapun itu!" Bima sudah menganggap Erik sebagai psikopat yang harus dihindari oleh Linda.
"Bim ... Tolong jangan beri tahu Bapak dan ibu kalau tadi aku bertemu Mas Erik. Nanti mereka bisa khawatir." Bima mengangguk. Dia mengerti kekhawatiran Linda juga kekhawatiran orang tua Linda.