
"Apa pipi ibu merah karena dipukul ayah?"
Sekali lagi Linda tidak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan Aruna. Bekas tamparan Erik pasti membekas di pipinya yang putih. Linda hanya bisa memeluk putrinya semakin erat dan dibalas dengan hangat oleh Aruna.
"Jangan mengatakan ini kepada siapapun ya Runa," ucap Linda di sela tangisnya. "Nanti nenek dan bude Sari akan semakin tidak suka sama ayahmu kalau mereka sampai mengetahuinya."
"Tapi ibu sakit?!"
"Ibu tidak apa-apa." Linda berusaha meyakinkan Aruna. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Aruna untuk menunjukkan jika dia baik-baik saja.
"Janji sama ibu, kamu tidak akan memberitahu siapa-siapa!"
Aruna mengangguk. Anak itu tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi dia tidak ingin ibunya terluka tetapi di sisi lain dia juga tidak ingin ayahnya dibenci oleh keluarga ibunya.
"Anak pintar ... " Linda mengusap pucuk kepala Aruna.
Linda keluar dari kamar Aruna setelah memastikan anak itu tertidur. Setelah itu dia pergi ke kamarnya.
Sampai di dalam kamar dia mengeluarkan uang dari dalam saku pakaiannya dan terus memandangi uang itu.
Sudah lama sekali Linda tidak membeli baju baru. Tentu akan sangat menyenangkan jika Linda menggunakan uang itu untuk membeli barang-barang yang dia inginkan.
Linda membayangkan dia menggunakan uang itu untuk membeli pakaian baru dan merubah penampilannya. Mungkin dengan begitu Erik akan meninggalkan Diana dan kembali padanya.
Tetapi tidak, meskipun miskin Linda punya harga diri. Dia tidak mau menggunakan uang yang diberikan oleh perempuan yang telah merebut suaminya.
Linda menyimpan uang itu di dalam lemarinya. Lalu dia merebahkan dirinya di kasur lantai yang sekarang, dan entah sampai kapan akan menjadi tempat tidurnya. Linda meringis menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya karena perbuatan Erik.
Ini bukan pertama kalinya Erik memukulinya. Pernah sebelumnya Erik salah paham mengira Linda telah bermain api dengan seorang laki-laki, padahal laki-laki itu hanya datang untuk mengambilkan jahitan istrinya.
__ADS_1
Erik marah besar dan tidak bisa mengontrol emosinya. Hasilnya, wajah Linda dipenuhi lebam dan selama hampir dua minggu dia tidak berani keluar rumah.
Tetapi itu tidak membuat Linda sadar, justru cintanya kepada Erik semakin dalam. Dia pikir Erik melakukan itu karena dia sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya.
Rasanya baru beberapa menit Linda memejamkan matanya tetapi hari sudah pagi. Susah payah Linda bangun karena menahan tubuhnya terasa ngilu.
Linda langsung mengerjakan mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, memasak dan membereskan rumah. Setelah itu dia membangunkan Aruna agar bersiap-siap untuk sekolah.
Meskipun sudah diobati tetapi memar di wajah Linda masih terlihat. Dan itu membuat Aruna tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari sang ibu.
"Runa tidak usah berangkat sekolah. Runa mau di rumah saja agar bisa menjaga ibu," ucap Aruna sambil terus memandangi wajah ibunya.
Linda tersenyum. "Ibu tidak apa-apa Runa, Ibu baik-baik saja."
"Tapi bagaimana kalau nanti ayah ... ?" Aruna tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tidak, ayah tidak akan marah lagi."
Tidak berselang lama setelah kepergian Aruna, Erik bangun. Linda heran tetapi juga berdebar-debar. Jarang sekali Erik bangun pagi bahkan hampir tidak pernah.
Linda hanya menunduk sambil membereskan piring bekas sarapan Aruna sementara Erik lewat sambil mengalungkan handuk di lehernya. Ini juga hal yang tidak biasa karena setelah membuka matanya biasanya dia langsung menuju meja makan bukannya mandi.
Linda tidak berani menegur Erik. Dia hanya diam karena takut membuat kesalahan dan membuat mood Erik menjadi buruk.
"Tidak perlu menyiapkan makanan untukku. Aku mau menemani Diana jadi nanti aku makan di luar," ujar Erik tanpa merasa berdosa. Dia hanya melihat Linda sekilas tanpa meminta maaf ataupun menanyakan memar di wajahnya akibat ulahnya semalam.
Tubuh Linda membeku mendengar kalimat Erik. Mana ada istri yang rela suaminya pamit pergi bersama selingkuhannya.
"Mas, apa kamu tidak memikirkan perasaanku sedikit saja? Aku mohon tinggalkan dia. Aku ini istrimu!" Linda mengutarakan isi hatinya. Tubuh dan hati Linda sudah terlanjur sakit, dia tidak peduli jika pertanyaannya memancing emosi Erik dan membuat dia dipukuli lagi. Dia hanya ingin suami yang sangat dicintainya tetap menjadi miliknya seorang.
__ADS_1
"Heh!!! Pagi-pagi tidak usah mengajak ribut! Kamu tahu kan aku melakukan ini karena apa? Karena aku butuh uang!"
"Tapi kamu bisa mendapatkan uang dengan cara lain."
"Cara apa? Bekerja?!"
"Mas, kamu masih muda dan tubuhmu sehat. Kamu bisa mencari pekerjaan," jawab Linda dengan suara sehalus mungkin agar tidak memancing kemarahan Erik.
Erik tersenyum sinis mendengar perkataan Linda. Bukan sekali dua kali Linda berkata seperti itu kepadanya. Tetapi Erik tidak pernah punya keinginan untuk mencari pekerjaan. Dia hanya ingin hidup enak tanpa perlu bekerja, titik.
"Kamu itu cukup diam dan nikmati saja yang aku berikan!" Erik berlalu meninggalkan Linda.
*
Sebulan berlalu. Erik jarang di rumah. Dia semakin sering menghabiskan waktu di luar bersama Diana. Kadang dia pulang hanya untuk memberi uang Linda atau menaruh barang-barang belanjaannya setelah itu pergi lagi.
Membayangkan Erik menikmati malam bersama Diana sering membuat Linda menangis. Kalau di suruh memilih, dia lebih memilih hidup pas-pasan daripada harus membagi suaminya dengan perempuan lain. Sejak kecil dia terbiasa hidup sederhana jadi dia tidak masalah dengan itu.
Erik semakin dekat dengan Diana. Bahkan perempuan itu semakin sering datang ke rumah Linda dan Erik, tanpa rasa sungkan.
"Bukankah aku memberimu uang untuk membeli pakaian? Kenapa penampilanmu masih begitu juga?" tanya Diana.
"Aku tidak masalah dengan penampilanku!" jawab Linda dingin. Dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Diana di rumahnya.
"Erik bisa benar-benar meninggalkan kamu jika kamu tetap seperti itu," sindir Diana.
"Kamu tahu suamiku tidak pernah mencintai kamu. Dia mendekatimu hanya karena uangmu?!"
Diana terkekeh mendengar balasan Linda. "Aku tidak peduli. Uang bukan masalah buatku! Berapa pun yang Erik minta akan aku berikan asal aku senang."
__ADS_1
Mungkin benar yang dikatakan Diana. Dia memberi banyak uang kepada Erik. Buktinya bulan ini saja Erik sudah memberinya uang hampir tujuh juta, itu jumlah yang sangat banyak untuk Linda. Tetapi Linda tidak pernah menggunakan uang itu jadi wajar jika Diana mempertanyakan penampilan Linda yang masih seperti itu-itu saja. Kalaupun Linda ingin membeli sesuatu, dia bisa menggunakan uang hasil menjahit miliknya.
Linda menyimpan uang itu dengan rapi dan entah kapan akan menggunakannya. Linda yakin hubungan Erik dan Diana tidak akan berjalan mulus selamanya.