Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 36. Tunggu


__ADS_3

"Lin ... baru kemarin kamu pulang ke desa?!"


"Besok pagi-pagi sekali aku akan kembali. Aku tidak akan terlambat bekerja. Aku janji. Tolong ijinkan aku." Linda takut Bima tidak mengijinkannya karena itu akan menghambat pekerjaannya. Mau sedekat apapun hubungan mereka, status Linda tetaplah pegawai Bima.


"Bukan itu masalahnya. Bahkan kamu ijin tidak berangkat pun aku ijinkan. Tetapi apa kamu tidak capek nanti? Pekerjaan kamu sedang banyak-banyaknya. Kamu harus konsentrasi untuk acara pagelaran busana besok hari Minggu."


Pakaian hasil desain Linda akan diikutsertakan dalam lomba pagelaran busana di sebuah pusat perbelanjaan.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Tahanlah sebentar, tunggu setelah acara fashion show itu. Setelah itu kamu mau pulang ke desa atau mau cuti pun akan aku ijinkan."


Linda merenung memikirkan kata-kata Bima. Memang pagelaran busana itu sudah dia incar sejak dia mulai kuliah. Bisa dibilang ini adalah batu loncatan agar karyanya lebih dikenal orang. Linda tidak ingin gagal dalam acara ini.


"Tapi aku tidak bisa biarkan Aruna dekat dengan ayahnya. Aku yang merawat dia selama ini. Aku yang mengurus dan memenuhi semua kebutuhannya. Enak sekali tiba-tiba dia datang dan bersikap manis seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Aku tidak terima!"


"Aku tahu. Aku juga tidak ingin menggangu urusan keluargamu. Tapi fashion show ini adalah sesuatu yang sudah kamu impi-impikan. Jangan sampai gagal karena kemunculan seseorang dari masa lalumu."


Linda sadar Bima tidak tanggung-tanggung dalam membantu Linda mewujudkan impiannya. Bahkan Linda ikut pagelaran busana ini juga karena Bima. Tadinya Linda tidak percaya diri, tetapi karena semangat dan dukungan dari Bima akhirnya dia mau mengikutinya.


"Kamu benar, lebih baik aku fokus pada pekerjaanku. Aku tidak ingin gagal. Ini demi masa depan Aruna."


"Bagus, harus tetap semangat seperti itu." Bima meraih wajah Linda dan menghapus air matanya. "Aku heran, kamu menangis seperti ini saja kenapa tetap terlihat cantik?"


Dalam sekejap wajah sendu Linda berubah menjadi tersenyum, tetapi senyum yang ditahan. Dia segera mendorong tangan Bima menjauh dari wajahnya.


"Senyum saja saja, tidak usah ditahan. Aku tahu kamu suka jika aku merayumu."


"Aku sedang sedih. Apa tidak ada waktu lain untuk merayuku?" kilah Linda sambil menyembunyikan wajahnya.


"Sebaiknya aku melanjutkan pekerjaanku." Linda sudah kembali memegang pensil dan kertas.

__ADS_1


"Tunggu ... Tunggu ... !" cegah Bima.


"Apalagi?"


"Aku membawa makan siang. Aku tahu pasti kamu belum makan. Kita makan dulu setelah itu baru kamu lanjutkan pekerjaanmu."


Linda tersenyum mendengar kata-kata Bima. "Terimakasih Tuan Bima. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan." Bima menekuk wajahnya mendengar Linda menyebutnya Tuan, tetapi Linda justru tertawa melihatnya.


*


*


Pagelaran busana sudah selesai. Linda sukses besar di pagelaran busana yang baru pertama kali dia ikuti ini. Banyak wartawan baik lokal maupun nasional yang meliput acara ini yang membuat nama Linda semakin di kenal banyak orang.


Linda sedang berada di ruangannya membereskan meja kerjanya. Untuk beberapa hari ke depan dia tidak akan menyentuh meja itu karena dia akan mengambil cuti seperti yang Bima janjikan.


"Nanti aku boleh mengunjungi kamu kan?" Bima terus mengekor Linda di belakangnya. Dia mengikuti kemanapun Linda melangkah seperti anak ayam mengikuti induknya.


"Mau apa mengunjungiku di desa? Hampir setiap hari kita bertemu apa kamu tidak bosan?"


"Harusnya aku cuti seminggu. Tetapi tidak kamu ijinkan, cuma dikasih empat hari. Masa sekarang cuma di suruh cuti dua hari?! Curang kamu Bim!"


"Ya sekarang kan lagi banyak pekerjaan Lin. Nih, banyak sekali orderan masuk meminta dibuatkan pakaian oleh kamu. Sekarang kamu desainer kondang 'Linda Juwita'! Semua orang di kota ini sedang membicarakan kamu." Bima menunjukkan catatannya, beberapa orang memang menghubunginya untuk meminta didesainkan pakaian oleh Linda. Dia sudah seperti manajer bagi Linda.


Tadinya Linda ingin mengambil cuti seminggu tetapi Bima tidak mengijinkannya dengan alasan pekerjaan yang menumpuk. Padahal sebenarnya karena dia tidak bisa lama-lama tidak melihat wajah Linda.


"Empat hari tetap empat hari, tidak boleh kurang!"


"Tapi nanti kalau ada sesuatu yang mendesak aku boleh menyusulmu ke desa kan?"


"Sudah aku bilang buat apa? Kamu tinggal telpon saja kalau ada sesuatu yang mendesak?! Tidak usah menyusulku ke sana?!" Linda masih tidak habis pikir kenapa Bima bersikeras ingin menyusulnya ke desa.

__ADS_1


"Ah ... Benar juga," gumam Bima. Sulit sekali bagi Bima untuk mendapatkan alasan yang tepat agar nanti bisa mengunjungi Linda di rumah orang tuanya.


"Kalau aku kangen bagaimana?" Akhirnya Bima jujur.


"Aku cuma cuti empat hari tapi kamu bertingkah seperti aku akan pergi selama tujuh purnama. Lagian, pakai kangen-kangenan segala, seperti orang pacaran saja!"


Bima tersenyum mendengar kata-kata Linda. Empat hari akan terasa sangat lama bagi Bima tanpa Linda.


"Kamu kan memang pacarku Lin."


Linda memutar bola matanya mendengar jawaban Bima.


Bima memang menganggap Linda kekasihnya meskipun Linda selalu menolak cintanya. Bahkan dia juga memperlakukan Linda selayaknya seorang kekasih.


Linda membiarkannya. Dia tidak keberatan dengan itu. Lagi pula itu juga tidak merugikannya, justru itu sebuah keuntungan. Laki-laki lain yang mencoba mendekatinya akan mundur sendiri karena mengira Bima adalah kekasih Linda.


Linda masih dalam keputusannya tidak akan menjalin hubungan dengan laki-laki manapun saat ini, termasuk Bima.


Tanpa Linda duga Bima memeluk tubuhnya dari belakang.


"Aku ingin menjadi kekasihmu Lin? Sampai kapan kamu akan mempermainkan perasaanku seperti ini?" bisik Bima dengan tubuh yang menempel di tubuh Linda.


Jantung Linda berdebar tidak karuan. Bukan karena kata-kata yang Bima ucapkan melainkan karena tubuh bagian belakangnya yang menempel pada tubuh bagian depan Bima.


Tangan Bima yang melingkar di pinggangnya membuat Linda seakan merasakan getaran eneh. Sudah lama Linda tidak merasakan sentuhan lembut seorang laki-laki seperti ini. Erik tidak pernah memperlakukannya dengan lembut.


"Setelah semua yang aku lakukan, apakah kamu masih meragukan ketulusanku? Kamu menolak cintaku tapi tidak menolak perhatian dan juga perlakuanku padamu. Kamu sungguh tidak adil padaku."


Linda terdiam. Tiba-tiba saja Linda merasa gugup di depan Bima. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku serius Linda, aku sudah jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali melihatmu. Jadilah kekasihku, jadilah istriku." Bima terus berbisik di telinga Linda dan membuatnya terbuai. Bima tidak pernah terlihat serius ini sebelumnya.

__ADS_1


Perlahan Linda melepaskan tangan Bima dari pinggangnya lalu berbalik hingga posisi mereka sekarang saling berhadapan.


"Aku belum siap. Tunggulah sampai aku bisa menyembuhkan lukaku dan memantaskan diriku untuk menjadi pendampingmu," ucap Linda.


__ADS_2