
Sore harinya Pak Yanto sudah bersiap untuk pergi ke rumah Erik. Seperti yang sudah di rencanakan, dia ingin mengambil barang-barang Linda dan Aruna. Pick up yang dia sewa juga sudah datang.
"Pak ... Aku ingin ikut." Linda meminta bapaknya agar mengijinkan dia ikut mengambil barang-barangnya.
"Tidak, kamu di rumah saja. Aku tidak ingin kamu bertemu dengan Erik," jawab Pak Yanto tegas.
"Tapi nanti bapak tidak tahu barang-barangku apa saja dan dimana. Dan juga barang-barang Runa."
"Kalau begitu jelaskan pada bapak, apa saja yang harus bapak ambil dan dimana letaknya."
Linda tidak bisa membodohi bapaknya.
"Ya sudah, terserah bapak saja." Lalu Linda menerangkan semuanya, termasuk dimana dia menyimpan uang dari Erik yang tidak pernah dia gunakan.
Pak Yanto hanya mengangguk. "Ya sudah ... Bapak berangkat sekarang."
"Pak ... " panggil Linda sebelum Pak Yanto sempat melangkahkan kakinya.
"Buku nikah dan surat-surat penting lainnya ada di kamar Mas Erik. Di laci meja," imbuh Linda. Tidak lupa dia menyerahkan kunci rumahnya kepada Pak Yanto.
Pak Yanto kembali mengangguk. Dia mengerti maksud Linda.
Malam harinya Pak Yanto pulang dan membawa barang-barang milik Linda dan Aruna. Dibantu sopir pick up yang disewanya, Pak Yanto memasukkan barang-barang itu ke dalam rumahnya.
Linda nampak tegang melihat kedatangan sang bapak. Dia khawatir tadi Erik dan bapaknya bersitegang sebelum mengambil barang-barang itu.
"Apa tadi Bapak bertemu Mas Erik?" tanya Linda dengan hati-hati.
Pak Yanto sudah selesai membongkar barang-barang yang tadi dia bawa dari rumah Linda. Sekarang Pak Yanto, Bu Yanto dan Linda duduk di ruang tamu sementara Aruna sudah terlelap di dalam kamar. Ruang tamu ini nantinya akan sekaligus menjadi ruangan menjahit Linda.
"Tidak, Bapak masuk seperti maling tadi."
Linda menghembuskan nafas lega. Artinya bapaknya belum membicarakan masalah perceraian dengan Erik.
__ADS_1
"Mungkin Mas Erik sedang menarik orderan."
Linda berharap untuk berbicara dengan Erik terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berpisah dengannya. Linda yakin Erik tidak ingin menceraikan dia.
Meski Erik sudah begitu kejam kepadanya, dia tetap mencintai laki-laki itu. Meskipun dia gemetar ketakutan setiap Erik menaikkan nada bicaranya, atau wajahnya berubah pucat pasi hanya mendengar sekali bentakan dari Erik, Linda tetap tidak ingin berpisah dengannya.
"Tetapi ... "
"Tetapi apa Pak?" tanya Bu Yanto dan Linda bersamaan.
"Bapak tidak menemukan buku nikah kalian."
Linda semakin lega mendengar jawaban bapaknya. Erik pasti sengaja menyembunyikan buku nikah mereka karena dia tidak ingin menceraikan Linda. Erik masih mencintainya, Erik juga tidak ingin berpisah dengannya, pikir Linda.
Dengan pikiran bodoh seperti ini saja hati Linda sudah berbunga-bunga. Dia lupa bagaimana rasa sakitnya ketika Erik memukuli dirinya, bahkan memar di tubuhnya pun belum hilang sampai sekarang.
*
*
"Pak, aku ingin menemui Mas Erik. Aku ingin meminta buku nikahku agar segera bisa mengurus dokumen perceraian," ucap Linda sebelum Pak Yanto berangkat ke sawah. Dengan alasan seperti ini Linda yakin bapaknya mau memberikan ijin agar dia bisa bertemu Erik.
Padahal niat Linda sebenarnya adalah untuk membujuk Erik agar mau datang ke rumah orang tuanya dan meminta maaf kepada mereka. Linda yakin mereka akan memaafkan Erik dan tidak akan menyuruh mereka berpisah.
"Iya, kamu benar. Besok Bapak akan temani kamu untuk menemui dia."
"Tidak perlu Pak, aku akan berangkat sekarang sekalian mengantarkan Aruna sekolah."
Pak Yanto tampak ragu. Dia ingat bagaimana keadaan Linda saat terakhir kali Erik memukulinya. Mungkin saja Erik melakukannya lagi.
"Tidak apa-apa Pak." Linda berusaha meyakinkan Pak Yanto.
Akhirnya dengan berat hati Pak Yanto mengijinkan Linda pergi bersama Aruna.
__ADS_1
"Berjanjilah kamu akan pulang kembali ke rumah ini." Linda mengangguk. Linda sengaja memilih pagi hari untuk menemui Erik karena dia tahu Erik pasti di rumah saat pagi hari.
Dengan mengendarai sepeda motor bapaknya, Linda berangkat mengantar Aruna sekolah. Setelah itu Linda segera menuju rumah suaminya. Jarak sekolah dan rumah Erik tidaklah jauh. Tidak sampai lima menit dia pun sampai. Linda memandangi rumah itu, rumah yang sudah delapan tahun menjadi tempat tinggalnya. Suasana tampak sepi dari luar. Erik pasti belum bangun.
Perlahan Linda melangkahkan kakinya memasuki halaman. Tetapi begitu sampai di teras dan hampir menyentuh pintu tubuhnya terasa kaku. Linda hanya mematung. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, jantungnya berdebar tidak karuan dan badannya pun gemetar. Bayangan Erik memukul dan membentak dirinya kembali berkelebat di benaknya.
Linda menarik kembali tangannya yang akan meraih gagang pintu.
Padahal selama seminggu tinggal di rumah orang tuanya, Linda selalu memikirkan Erik. Dia sangat merindukan suaminya itu hingga lupa alasan kenapa dia sampai tinggal di rumah di sana.
Tetapi sekarang begitu menginjakkan kaki di rumah Erik, rasa rindu itu hilang berubah dengan rasa takut yang luar biasa. Bahkan untuk sekedar membuka pintu saja Linda merasa tidak berdaya.
Ingin sekali Linda berbalik dan mengurungkan niatnya menemui Erik tetapi tubuhnya yang masih gemetar membuat kakinya seperti lemas tidak bertenaga. Dia berpegangan pada tembok dan menghirup nafas dalam-dalam untuk mengusir ketakutannya. Setelah mengulangi itu beberapa kali akhirnya Linda merasa lebih tenang.
Linda kembali mendapatkan tenaganya. Dia tidak ingin menemui Erik. Dia ingin segera pergi dari tempat itu.
Tepat ketika Linda ingin memutar motornya, ada mobil masuk ke halaman sehingga motor Linda tidak bisa keluar.
Diana nampak keluar dari mobil begitu mobil itu berhenti. Mulut Linda menganga tidak percaya.
"Kamu? Bukankah kamu sudah minggat dari rumah ini? Kenapa kembali lagi?" tanya Diana begitu mereka berdua berhadapan.
"Bukan urusanmu!" ketus Linda. Dia berani melawan Diana tetapi begitu ada Erik pasti hilang semua keberaniannya, menguap entah kemana.
Diana tersenyum sinis mendengar jawaban Linda. "Permisi, aku ada perlu dengan Erik." Diana berjalan melewati Linda dan langsung masuk ke dalam rumah Erik. Rupanya dia sudah memiliki kunci cadangan rumah ini.
Linda tidak bisa kemana-mana karena motornya tidak bisa keluar terhalang oleh mobil Diana. Linda hanya bisa pasrah tetapi dia juga tidak ingin mengikuti Diana masuk ke dalam rumah.
Tak berselang lama Erik keluar. Sepertinya Diana sudah memberitahu Erik mengenai kedatangan Linda ke rumah ini.
Erik menatap Linda tajam. Linda menunduk, menyembunyikan wajahnya sudah pucat pasi.
"Masuk!!!" ucap Erik pelan tapi penuh penekanan.
__ADS_1
Linda tidak bergerak, dia sangat ketakutan.
"Apa kamu ingin membuatku malu dan menjadi bahan gunjingan orang-orang?!! Cepat masuk!!"