
Linda akan kembali ke kota. Sebelumnya dia berpesan kepada bapaknya agar tidak mengijinkan Aruna pergi bersama Erik tetapi tetap mengijinkan jika Erik ingin mengunjunginya.
"Kamu sudah memberitahu Aruna soal keputusanmu ini? Dia sedang sangat bahagia bisa dekat dengan ayahnya."
"Aku sudah memberitahu dia Pak, dan dia mengerti."
"Apa Erik membuat masalah lagi Lin?"
Linda diam. Meskipun dia tidak menjelaskan alasannya, dia yakin bapaknya itu mengerti. Dia tidak akan bersikap seperti ini kalau memang Erik tidak melakukan apa-apa.
Linda bergidik membayangkan bagaimana jadinya jika siang tadi dia tidak berhasil Lolos dari Erik. Entah bagaimana nasibnya sekarang.
"Dia masih sama Pak, tidak akan berubah. Sikap baiknya itu hanya di depan saja. Di belakang dia tetaplah Erik yang dulu. Bapak jangan sampai terkecoh kalau nantinya dia datang lagi ke sini. Dia boleh mengunjungi Aruna, tetapi tidak boleh mengajaknya keluar."
Linda harus waspada. Dia tidak ingin memberi Erik kesempatan untuk membawa kabur Aruna lalu menjadikannya alat untuk menjebaknya lagi.
"Baiklah ... Bapak mengerti. Erik pasti sudah melakukan sesuatu kan Lin?"
Linda kembali diam tidak menjawab. Lalu suasana hening dalam sekejap. Pak Yanto menerka-nerka apa yang sudah Erik lakukan hingga Linda mencabut ijin Erik untuk mengajak Aruna keluar.
"Lin ... Bagaimana hubunganmu dengan Bima?" Linda tertegun mendengar pertanyaan Pak Yanto. Kenapa juga bapaknya tiba-tiba menanyakan Bima.
"Maksud Bapak?"
"Bapak tidak tahu bagaimana pergaulanmu di kota. Kamu bukan gadis lagi, bapak harap kamu bisa menjaga diri dan nama baik kamu."
"Aku tidak mengerti maksud Bapak." Linda masih belum Mengerti maksud bapaknya.
"Maksud Bapak, kalau kamu dekat dengan Bima dan kalian sama-sama serius lebih baik hubungan kalian segera di resmikan. Bapak tidak mau ada kabar tidak baik tentang kamu kembali beredar di kampung. Ingat kan bagaimana dulu orang-orang membicarakan kamu?"
Tentu saja Linda ingat bagaimana tetangga-tetangganya membicarakan dia, menganggap dia sebagai istri yang tidak baik karena telah kabur dengan laki-laki lain. Hingga membuat Linda memutuskan untuk pindah ke kota karena sudah tidak kuat mendengar cibiran tetangga-tetangganya. Linda tidak ingin itu terjadi lagi.
"Serius dengan Bima? Diresmikan? Apa ini artinya bapak memintaku segera menikah dengan Bima? Apa aku sudah siap?" Begitu banyak tanya di benak Linda. Belum selesai dia memikirkan masalah Erik, kini sang bapak menambahinya dengan masalah Bima.
__ADS_1
"Siapa pun orang yang dekat denganmu sekarang lebih baik segera kamu resmikan. Dan satu yang pasti, kalau kamu sudah punya pasangan tentu Erik tidak akan mengganggu kamu lagi. Jadi Bapak bisa lebih tenang." Pak Yanto bicara seolah-olah dia tahu apa yang Linda alami tadi siang bersama Erik.
"Akan aku pikirkan dulu Pak. Aku tidak ingin terburu-buru seperti dulu buru-buru menerima lamaran Mas Erik. Aku tidak ingin itu terulang lagi."
Giliran Pak Yanto terdiam.
"Maafkan Bapak Lin, itu salah Bapak," ucap Pak Yanto setelah beberapa saat.
"Tidak Pak, itu bukan salah bapak. Dari awal aku sudah menyukai Mas Erik. Seandainya dulu aku tidak mau pasti bapak juga tidak akan menerima lamarannya. Jangan menyalahkan diri bapak."
Lalu keduanya sama-sama diam.
Percakapan Linda dengan Pak Yanto berakhir sampai di situ. Setelah itu Linda pamit untuk kembali ke kota. Dia tidak menginap dan akan kembali malam ini juga karena banyak pekerjaan yang sudah menunggunya.
"Aku berangkat sekarang agar tidak kemalaman sampai di kota."
Satu jam kemudian Linda sudah sampai di kota. Bukannya menuju kosnya, Linda langsung menuju butik. Setelah sampai di kota yang ada di pikirannya hanya pekerjaan dan pekerjaan. Bahkan dia sudah lupa soal Erik dan saran bapaknya untuk segera menikah.
Butik masih buka sampai jam sembilan, dan ini baru jam delapan. Seharusnya tinggal satu jam bagi Linda untuk melanjutkan pekerjaannya sampai butik tutup.
"Lin, sudah malam pulanglah." Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Linda.
"Bima!!! Jangan membuatku kaget seperti itu!!!" pekik Linda.
Bima tertawa melihat Linda pucat karena kaget.
"Itu tidak lucu!" gerutu Linda kemudian. "Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?"
Bima tidak menjawab. Dia hanya menunjuk arah cctv di sudut atas ruangan. Sepertinya Linda lupa jika ruangan ini dilengkapi cctv yang tersambung langsung ke handphone Bima.
"Ini sudah malam Lin, sebaiknya kamu pulang."
"Sebentar, sedikit lagi selesai," jawab Linda sambil terus fokus dengan pekerjaannya. "Kamu juga, kenapa menyusul aku ke sini? Sana pulanglah istirahat."
__ADS_1
"Aku menyusul kamu karena tidak bisa tidur."
Linda menghentikan pekerjaannya mendengar jawaban Bima.
"Kenapa tidak bisa tidur?" tanya Linda serius.
"Karena kamu tidak menemani tidurku!" Bima mode rayuan gombal on.
"Menyesal aku bertanya kepadamu!" Linda tampak menggerutu tetapi hatinya sangat bahagia. Rayuan gombal Erik ini selalu bisa menghiburnya.
Tiba-tiba Linda teringat kata-kata bapaknya tadi sebelum dia berangkat ke kota.
Dulu dia tidak mengenal Erik sama sekali karena itu dia menganggap pernikahannya dan Erik terlalu terburu-buru.
Tetap Bima, setelah dua tahun lebih menemani Linda, mendukung semua yang dilakukannya dan tidak meminta apapun sebagai imbalan apakah tidak terlalu jahat jika masih mempertanyakan keseriusannya? Apa laki-laki seperti Bima ini masih perlu di ragukan ketulusannya? Apakah dua tahun ini masih bisa disebut terburu-buru?
"Apa kamu sangat merindukan aku sampai rela menyusul kesini?"
"Sebenarnya aku ingin menyusul kamu ke desa, tapi takut kamu marah kalau tiba-tiba aku kesana."
Ya, Linda selalu melarang Bima menyusulnya ke desa. Alasannya karena dia tidak ingin menjadikan buah bibir di desanya. Statusnya sebagai janda mudah sekali membuat orang bicara yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Bim ... " Tiba-tiba raut wajah Linda berubah serius lalu dia berjalan mendekati Bima. "Minggu depan, maukah kamu mengantarkan aku pulang ke desa lalu kamu melamarku di depan orang tuaku?" Linda sudah mengambil keputusan.
Bima hampir tidak percaya kata-kata Linda. "Kamu serius? Kamu yakin?!"
Linda mengangguk. "Aku sudah siap! Mungkin aku belum pantas bersanding denganmu tapi aku akan berusaha. Aku tidak akan membuatmu malu."
"Sssttt ... bicara apa kamu?! Kamu tidak akan membuat aku malu. Aku bahkan sangat bangga bila bisa menjadi suamimu."
"Tapi aku udik dan kampungan?" goda Linda di tengah keseriusan mereka.
"Lin ... Jangan sebut itu lagi." Linda tertawa melihat raut wajah Bima.
__ADS_1
"Bim ... Lalu kapan kamu akan memperkenalkan aku kepada keluargamu? Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku dan tidak setuju dengan hubungan kita?"