
Linda sudah bisa menerima kenyataan. Dia terlihat lebih tenang sekarang. Bima mengajaknya makan, masih di dalam kamar hotel untuk menghabiskan waktu sampai saatnya dia mengembalikan Linda kepada suaminya.
"Aku ingin kamu merahasiakan apa yang terjadi diantara aku, kamu dan suamimu."
"Maksudnya?"
"Jangan sampai orang tahu yang terjadi diantara kita, aku dan Erik. Apalagi sampai melaporkannya ke pihak berwajib."
"Kenapa?"
"Karena bukan Erik saja yang ditangkap, tetapi aku juga."
"Ya ... Aku mengerti." Linda menganggukkan kepalanya.
Kemudian keduanya sama-sama diam menikmati makanan masing-masing.
"Aku ingin melakukan sesuatu untuk mengerjai suamimu. Apa kamu mau melakukannya?"
"Apa itu?"
"Aku ingin membuat tanda merah di lehermu. Kita lihat bagaimana nanti reaksi suamimu. Apa kamu bersedia?"
"Jangan macam-macam!"
"Aku tidak macam-macam, hanya membuat tanda itu saja. Aku ingin suamimu berpikir jika kita benar-benar melakukan ... Kamu tahu kan maksudku?"
"Melakukan apa?"
"Melakukan hubungan badan! Apa lagi memangnya?"
Mata Linda melotot. "Tidak! Aku tidak mau!"
"Kamu tidak ingin melihat bagaimana reaksi suamimu mengetahui istrinya dijamah laki-laki lain?"
"Tapi ... "
"Kamu ingin membalas yang dia lakukan kepadamu bukan?"
Pertanyaan Bima membuat Linda teringat Diana. Bagaimana sakitnya melihat Erik bermesraan di depannya.
"Ya, aku mau melakukannya. Tapi hanya satu tanda saja!"
__ADS_1
Bima mengangguk. Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Linda lalu merapatkan bibirnya ke leher Linda. Linda memejamkan matanya. Dia merasa risih karena dia tidak pernah disentuh laki-laki lain selain suaminya.
Akhirnya satu kecupan mendarat dengan mulus di leher Linda. Kecupan yang dalam dan lama hinga satu tanda merah tercetak sempurna di sana. Linda segera mendorong tubuh Bima setelah dia selesai membuat tanda merah itu.
Linda menjadi kikuk karena ulah Bima sementara Bima mengulum senyum melihat hasil karyanya di leher Linda.
Sejujurnya Bima sudah tertarik kepada Linda sejak dia mereka makan sushi waktu itu. Rasa penasaran Bima terhadap sosok Linda begitu dalam. Perempuan yang tadinya dia pikir orang gila itu telah mencuri perhatiannya. Bahkan dia sampai mencari-cari tahu tentang Linda dari pegawainya.
Tujuan utamanya datang ke rumah Linda bukanlah untuk mengantarkan sepeda melainkan melihat wajah Linda. Bima terus terbayang wajah Linda yang cantik dan lugu dan juga menyimpan sejuta tanya.
Bagaimana mungkin perempuan secantik itu mau memakai pakaian compang camping dan naik sepeda butut? Bagaimana bisa dia mengacuhkan mata orang-orang yang menatapnya dengan tatapan meremehkan? Dan bagaimana bisa dia menerima keadaan seperti itu sementara suaminya mengendarai mobil mewah kemana-mana?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat Bima semakin penasaran dengan sosok Linda. Dan akhirnya hari ini dia bisa berbicara berdua dengan Linda, mendengarkan seluruh kisah hidupnya. Rasa penasaran Bima hilang berganti dengan rasa kagum yang luar biasa.
Kini yang ingin dia lakukan adalah melindungi Linda, menyelamatkannya dari laki bejat yang berstatus sebagai suaminya.
Bima melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku pikir waktuku bersamamu sudah habis. Aku akan mengantarkan kamu pulang sekarang."
Bima mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Linda.
"Untuk apa uang ini Bim?"
Bima tertegun mendengar pertanyaan Linda. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba memberi Linda uang.
"Maaf ... "
*
Linda mematung di dalam mobil Bima. Dari dalam sini dia bisa melihat mobil Erik di halaman rumah. Itu artinya Erik ada di rumah.
"Kamu ingat kata-kataku tadi kan? Ambil yang penting-penting saja lalu segera keluar dari rumah itu. Aku akan menunggumu di sini." Mobil Bima terparkir tidak jauh dari rumah Erik.
Linda segera turun dan berjalan ke rumahnya. Dia langsung masuk ke kamar Aruna.
"Ibu ... Ibu dari mana?" tanya Aruna yang berdiam di dalam kamar. Ini sudah hampir jam dua siang jadi dia sudah pulang sekolah.
"Runa, masukkan semua buku-bukumu ke dalam tasmu lalu keluar dan tunggu di samping mobil di dekat rumah kak Sella. Kamu mengerti kan nak?" ucap Linda tanpa jeda. Lalu dengan terburu-buru dia menghampiri lemari pakaian Aruna dan memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas.
"Tetapi kenapa Bu?"
"Nanti ibu jelaskan di jalan. Runa lakukan saja. Kalau sudah selesai tunggu ibu di luar seperti yang tadi ibu katakan! Ibu akan mengambil barang-barang ibu dulu!"
__ADS_1
Setelah selesai dengan barang-barang Runa, Linda segera menuju ke kamarnya.
"Lin ... Kamu sudah pulang?" Erik yang sedang tidur terperanjat melihat Linda tiba-tiba berdiri di hadapannya.
Linda tidak menjawab pertanyaan Erik. Dia hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan. Mengambil barang-barang penting miliknya lalu keluar dari rumah itu secepatnya.
"Lin ... Kenapa kamu diam? Kamu marah padaku?" Linda tidak mempedulikan pertanyaan Erik. Dia sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Linda ... Mau kemana kamu Sayang? Kenapa kamu memasukkan pakaianmu ke dalam tas? Aku tahu kamu marah tapi kita bisa bicarakan ini dulu. Aku bisa menjelaskannya kepadamu."
Linda menatap Erik tajam. Tidak ada lagi tatapan terpesona dari sosok Linda kepada suaminya seperti biasanya. Sekarang hanya ada tatapan muak kepada laki-laki bejat di depannya ini. Akhirnya mata Linda benar-benar terbuka dan melihat dengan jelas sifat buruk suaminya.
"Apa yang mau kamu bicarakan Mas? Kamu tega menjualku kepada laki-laki lain! Apa yang ingin kamu jelaskan?!" teriak Linda. Ini pertama kalinya dia berani berteriak kepada Erik.
"Lin ... Aku melakukannya demi kita. Kita sama-sama butuh uang."
"Dengan cara menjualku?!!"
"Aku tidak berniat melakukannya. Sejak awal aku tahu dia menyukaimu."
"Benarkah? Bukankah itu hanya alasanmu saja?!!"
"Linda dengarkan aku. Sebagai sesama laki-laki aku tahu dari cara memandangnya dia menyukaimu. Aku hanya memanfaatkan kesempatan itu. Dia tidak melakukan apa-apa kepadamu kan?"
Linda menyibakkan rambut yang menutupi lehernya dan memperlihatkan tanda merah yang tadi sengaja Bima buat di sana.
"Kamu lihat ini?!" Linda benar-benar mengikuti saran Bima untuk membalas perbuatan Erik. Kekecewaannya kepada Erik membuatnya mempunyai keberanian untuk melawan.
"Lin ... Apa itu?" Erik meraih leher Linda dan meraba tanda merah itu.
"Katakan apa ini? Apa yang kalian lakukan?!" bentak Erik.
"Kamu menjualku, jadi apa yang mungkin dia lakukan kepadaku?!!"
"Brengsek!!! Ba*ingan!!! Aku akan menghajar laki-laki itu!!!"
"Kenapa kamu marah Mas?!! Seharusnya kamu tahu itu akan dia lakukan kepadaku!!!"
"Bukan seperti itu!!! Aku pikir dia tidak akan berani menyentuhmu!!! Kurang ajar!!! Aku akan menghajar laki-laki itu!!!" Erik seperti orang kesetanan.
"Tidak!!! Tidak seperti itu Linda!!! Perjanjiannya dia hanya mengajak kamu keluar, tidak lebih!!!"
__ADS_1
Linda tersenyum sinis. "Bagiku tidak ada bedanya!!!"