Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 14. Di Toko Pakaian


__ADS_3

Dua bulan berlalu dengan cepat. Sikap Erik kepada Linda masih menyebalkan tetapi Linda tetap memujanya. Bahkan dia tidak mempermasalahkan Erik yang tidak menambah uang belanjanya padahal Erik sering sekali membeli barang-barang untuk dirinya sendiri.


Linda tidak masalah jika harus menggunakan uang hasil dari menjahit untuk keperluan rumah atau biaya sekolah Aruna. Linda tidak masalah dengan semua itu demi Erik, pria yang sangat dicintainya.


Rasa cintanya kepada Erik telah membuat dirinya menjadi bodoh. Apapun itu akan dia lakukan asal dia tetap menjadi wanita satu-satunya di hidup Erik.


Hari ini rencananya Linda akan ke kota. Dia akan membeli bahan kain dan keperluan menjahit lainnya. Sejak pagi Linda sudah menyiapkan semuanya. Dia sudah memasak sarapan untuk Erik. Aruna juga sudah diberi pesan agar nanti pulang ke rumah Sella seandainya dia belum pulang.


Jam sembilan pagi Linda berangkat sementara Erik belum bangun. Dia sengaja berangkat lebih pagi agar nanti pulang tidak terlalu sore.


Setelah mengayuh sepeda hampir dua jam Linda sampai di toko tekstil langganannya. Linda beristirahat sebentar di emperan toko. Dia meminum air putih yang sengaja dia bawa dari rumah untuk menghemat pengeluarannya. Dia mengelap keringatnya yang bercucuran sambil mengatur nafasnya.


"Mbak ... Lama tidak kelihatan?" sapa salah satu karyawan yang kebetulan melihat Linda.


"Iya ... Sudah hampir dua bulan aku tidak belanja di sini." Karyawan itu bernama Heni, Linda sudah mengenalnya.


Para pegawai yang melihat Linda membiarkannya. Mereka sudah hafal dengan Linda karena dia sudah lama berlangganan di toko ini.


Lalu sebuah sedan mewah masuk ke halaman parkir toko tekstil tersebut. Sedan itu berhenti lalu turunlah seorang pria dari dalam mobil.


Pria itu melihat Linda yang tengah duduk sambil beristirahat lalu memanggil Heni. Dia berbicara sebentar dengan Heni sambil menunjuk ke arah Linda.


Linda yang sejak tadi memperhatikan pria itu pun merasa aneh karena tangan pria itu terus menunjuk-nunjuk ke arahnya.


Setelah beberapa saat bicara pria itu pun masuk ke dalam toko tapi sebelumnya dia mengangguk dan tersenyum kepada Linda.


Linda merasa semakin aneh, tetapi dia berusaha mengabaikannya. Setelah merasa sudah lebih baik Linda segera masuk ke dalam toko. Dia mencari kain untuk bahan kebaya pesanan tetangganya.

__ADS_1


Kebetulan di dalam toko Linda bertemu dengan Heni lagi. Linda meminta Heni membantunya menyiapkan kain pesanannya.


"Heni, laki-laki yang bicara denganmu siapa?" tanya Linda.


"Dia pemilik toko ini, namanya Tuan Bima," jawab Heni sambil berbisik agar tidak terdengar oleh yang punya nama.


Berkali-kali Linda datang ke toko ini baru sekali ini dia bisa melihat pemiliknya.


"Kenapa tadi seperti menunjuk-nunjuk ke arahku? Apa aku melakukan sesuatu?"


"Tidak Mbak, Tadi Tuan Bima pikir mbak Linda ini orang yang maaf, gelandangan atau orang gila. Jadi aku di suruh ngusir mbak Linda," jawab Heni kikuk.


Linda lalu mengamati dirinya sendiri setelah mendengar jawaban dari Heni. Penampilan Linda memang sangat sederhana. Ditambah tubuhnya yang kurus dan rambut berantakan karena terkena angin sewaktu naik sepeda tadi, pantas saja dia dikira orang gila.


"Memangnya aku seperti orang gila ya?"


"Tadi aku sudah jelaskan kepada tuan Bima kalau mbak Linda itu pelanggan setia." Heni tidak menjawab pertanyaan Linda.


Heni mengangguk. "Maaf, tadi Tuan Bima salah sangka."


"Oh ... " Linda menyadari penampilannya memang udik dan lebih mirip gembel. Seandainya tidak tertolong oleh wajah cantiknya pasti dia benar-benar dikira orang gila.


Sebenarnya bukan Linda tidak bisa mendandani dirinya. Dia tahu pakaian bagus, dia juga pintar memadupadankan pakaian. Buktinya tetangga-tetangganya menggunakan jasa menjahit Linda untuk membuat pakaian. Bahkan orang dari luar desa mereka pun datang kepada Linda untuk menjahit pakaian karena Linda pintar membuat desain dan memberi saran model pakaian yang cocok untuk pelanggannya.


Tetapi masalahnya adalah Linda tidak punya pakaian untuk dipadu padankan. Belum tentu setahun sekali dia bisa membeli baju, jadi apa yang mau di mix and match?


Dan untuk wajahnya? Uang hasil menjahitnya cukup untuk makan dan biaya sekolah Aruna saja dia sudah bersyukur. Tidak pernah terpikirkan untuk membeli sesuatu yang bisa dia terapkan di wajahnya agar terlihat glowing mempesona. Linda bersyukur sudah diberi kecantikan dari sananya tanpa repot-repot memikirkan perawatan untuk wajahnya.

__ADS_1


Selesai belanja kebutuhan menjahitnya Linda berniat untuk pergi ke toko pakaian. Dia masih ada uang sisa dan ingin membelikan satu saja baju yang layak untuk Aruna.


Linda bergegas menuju toko pakaian yang masih terletak di satu kawasan dengan toko tekstil langganannya tadi, kebetulan kawasan ini adalah kawasan pusat pertokoan.


Linda meninggalkan sepedanya di toko tekstil lalu berjalan kaki menuju toko pakaian karena letaknya tidak jauh. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya Linda sampai di toko pakaian yang dia maksud.


Linda segera masuk meski satpam yang berjaga di depan pintu terus mengawasinya. Sebenarnya Linda merasa tidak percaya diri, mungkin sekuriti itu mengira dia akan mengutil atau mencuri sesuatu karena penampilannya. Tetapi demi Aruna dia tidak merisaukan hal itu. Dia hanya ingin membeli baju untuk Aruna, itu saja.


Toko ini tidak hanya menjual pakaian anak-anak tetapi juga pakaian dewasa. Linda berjalan menuju tempat pakaian anak-anak. Dia tersenyum melihat baju yang lucu-lucu lalu memilih satu yang sesuai untuk Aruna.


Linda sudah selesai membayar di kasir akan segera meninggalkan toko itu. Tetapi dia melihat satu gaun yang terpasang di manekin yang mencuri perhatiannya. Linda mendekati manekin dan terus memandangi gaun itu sampai dia mendengar suara yang sangat dia kenal berbicara di belakangnya.


"Bagus kok Sayang ... baju itu cocok di tubuh kamu."


"Mas Erik?!" Linda berbalik mendengar suara Erik. Linda melihat sekelilingnya tetapi dia tidak menemukan Erik lalu mata Linda tertuju pada kamar pas di depannya sumber suara berasal. Dia yakin tadi itu suara Erik.


Linda mematung di depan kamar pas. Dia menunggu seseorang keluar dari dalam kamar pas itu untuk memastikan suara yang didengarnya tadi benar-benar suara Erik.


Dan setelah beberapa saat akhirnya pintu kamar pas terbuka. Bukan cuma satu orang, tetapi dua orang keluar dari sana. Erik dan seorang wanita yang waktu itu dia lihat.


"Mas Erik?!" Linda melotot tidak percaya. Erik pun terkejut melihat Linda.


"Siapa dia sayang?" tanya wanita yang sedang bersama Erik.


Erik terlihat kebingungan. Dia melihat Linda dan wanita yang sedang bersamanya secara bergantian.


"Siapa dia Mas?" tanya Linda.

__ADS_1


Erik semakin kebingungan.


"Aku tidak kenal!" jawab Erik sambil tergesa-gesa. Dia menarik tangan wanita itu dan mengajaknya pergi dari hadapan Linda.


__ADS_2