
Linda menghapus air matanya. Ketakutannya pada Erik membuat dia sampai tidak memperhatikan Aruna yang duduk di kursi belakang. Dia tidak menyadari jika Aruna juga menangis dalam kebisuannya.
Selama perjalanan pulang Linda sama sekali tidak berani membuka suara demikian juga Aruna. Sementara Erik yang terus menunjukkan wajah kesalnya membuat Linda semakin ketakutan. Suasana di dalam mobil terasa dingin dan kaku karena semuanya terdiam. Dan itu membuat perjalanan pulang terasa sangat lama.
Begitu sampai rumah, Erik langsung masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan kasar. Dia tidak menunggu Linda maupun Aruna dan juga tidak ingin repot-repot membawakan barang-barang mereka.
"Cepat masak, aku sudah lapar!" perintah Erik tanpa menunggu Linda meletakkan barang-barang bawaannya. Padahal terlihat jelas Linda kerepotan membawa barang-barang itu.
"Baik Mas." Linda segera menunju dapur, sementara Erik menuju kamarnya.
"Bu, Runa ke kamar dulu ya," pamit Aruna. Anak kecil itu sudah berpikir lebih dewasa daripada anak seusianya karena terbiasa dengan keadaan keluarganya.
Linda segera meletakkan barang-barang bawaannya. Dia bingung akan masak apa karena dia sudah tidak punya bahan makanan lagi. Kulkas sudah tidak ada isinya sementara uang untuk belanja juga dia tidak punya. Tetapi Linda tidak berani meminta uang kepada Erik.
Linda sangat bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Dia juga tidak berani hutang ke tetangganya karena itu akan membuat Erik malu dan nantinya dia lagi yang disalahkan.
Linda berjongkok di balik meja dapur lalu menangis sesenggukan. Dia benar-benar dalam kebuntuan. Lalu tiba-tiba ada tangan kecil memeluknya dari belakang.
"Ibu jangan nangis lagi, nanti ayah dengar," bisik Aruna. Tetapi kata-kata Aruna membuat air mata Linda mengalir semakin deras meski tidak bersuara. Linda tidak menyangka anaknya mengetahui penderitaannya.
"Tadi nenek membungkus nasi dan lauk pauk, jadi ibu tidak perlu memasak." Aruna membuka satu persatu tas plastik yang diberikan oleh neneknya tadi. Aruna ikut mengemasnya jadi dia tahu apa saja isi tas-tas itu.
Aruna mengambil tas plastik yang berisi makanan siap makan lalu memberikannya pada ibunya. "Ini nasi dan lauk."
"Ini isinya sayuran dan bumbu dapur." Aruna membuka tas lain dan menjelaskan kepada ibunya dengan suara yang sangat lirih. "Yang ini beras." Lalu Aruna membuka tas lain lagi. "Dan itu jajanan Runa." Aruna menunjuk kantung plastik terakhir.
Linda hanya bisa menatap Aruna tanpa bisa berkata-kata. Berkali-kali dia mengusap air matanya tetapi sepertinya air matanya tidak mau berhenti mengalir.
Setelah itu Aruna mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku bajunya.
"Ini dikasih bude Sari sama nenek. Uang ini untuk ibu saja," bisik Aruna.
__ADS_1
Linda hanya menggeleng. "Uang ini milik Runa. Mereka memberikannya kepada Runa," balas Linda dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Tetapi sekarang aku berikan kepada ibu. Aku tidak tahu uang ini mau aku gunakan untuk apa. Ibu lebih membutuhkan."
"Runa bisa memasukkan uang itu ke celengan Runa."
Aruna menggeleng dan tetap menyerahkan uang itu kepada ibunya. Linda meraih tubuh Aruna ke dalam pelukannya. Dia tidak perlu menyembunyikan tangisnya karena anaknya sudah melihat semuanya.
"Aku akan kembali ke kamarku," bisik Runa. Lalu Linda melepaskan pelukannya.
"Ibu jangan menangis lagi. Nanti ayah semakin marah." Aruna memberi kode dengan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Linda mengusap air matanya untuk yang kesekian kalinya lalu mengangguk. Dengan langkah pelan Aruna kembali ke kamarnya.
Linda segera menghangatkan makanan dari ibunya lalu menyajikannya dalam wadah. Setelah itu dia memanggil Erik.
"Makannya sudah siap Mas." Erik bergegas bangun dan menuju ruang makan. Tanpa basa basi dia langsung makan bahkan tidak menawari Linda.
"Aku ingin tidur, jangan bangunkan aku kalau tidak ada yang penting!" titah Erik setelah selesai makan.
*
*
Linda bekerja lebih giat. Dia menyelesaikan banyak jahitan dalam waktu singkat. Kadang dia tidur sampai jam dua pagi karena kejar setoran. Dia ingin mengumpulkan uang untuk jaga-jaga jika nanti Erik memintanya.
Meskipun uang yang dia kumpulkan tidak banyak tetapi itu nanti akan sangat membantu jika uang Erik tidak cukup seperti biasanya. Linda sudah tidak ingin menjadi beban orang tuanya lagi karena itu dia berusaha sekuat tenaganya.
"Lin, kamu ada uang tidak? Uangku kurang satu juta buat bayar cicilan mobil." Erik mendatangi Linda yang tengah menjahit.
"Aku tidak punya uang Mas." Sebenarnya Linda sudah mengumpulkan lima ratus ribu. Tetapi dia sengaja bohong agar Erik mau berusaha lebih keras lagi.
"Tolong kamu carikan ya ... Jatuh temponya sih masih dua hari lagi. Tetapi aku memberi tahu kamu sekarang biar kamu ada waktu buat mendapatkan uang itu." Erik sudah membebankan satu juta kepada Linda.
__ADS_1
"Tetapi aku dapat uang dari mana Mas?"
"Ya kamu bisa minta lagi ke bapak ibu," jawab Erik tanpa merasa bersalah. Tanpa menunggu jawaban dari Linda , Erik langsung pergi.
Sudah berulang kali Linda berusaha menjelaskan kepada Erik jika mereka bukan minta uang itu, tetapi mereka pinjam. Dan mereka harus mengembalikan jika mereka sudah ada uang. Tetapi Erik tidak mau tahu.
Linda sedikit lega karena dia sudah punya lima ratus ribu, tinggal mencari lima ratus ribu lagi untuk menutup kekurangannya. Kalau dalam dua hari dia bisa menyelesaikan enam potong pakaian maka dia bisa mendapatkan uang lima ratus ribu itu bahkan masih ada sisa. Linda semakin semangat menjahit.
"Tante ... Aruna jatuh dari sepeda!" ucap Sella dengan nafas ngos-ngosan dan wajah pucat. Sella tiba-tiba sudah muncul di belakang Linda.
"Aruna jatuh dari sepeda?!" ulang Sella. Melihat wajah Sella yang panik pasti kondisi Runa cukup buruk.
Linda segera berlari ke tempat Aruna berada. Memang sejak tadi dia bermain sepeda di halaman rumah.
Linda menemukan Aruna duduk di tanah dan kakinya berlumuran darah.
"Runa, kamu tidak apa-apa? Kenapa sampai begini?" tanya Linda panik.
Aruna sama sekali tidak menangis. Dia justru menatap ibunya dengan rasa bersalah.
"Maafkan Runa Bu," ucap gadis kecil itu.
Linda segera menghubungi Erik agar dia bisa mengantar Aruna ke rumah sakit. Tetapi meski berkali-kali dihubungi Erik tidak mau menjawab panggilan telepon dari Linda.
Akhirnya Linda membawa Aruna ke rumah sakit dengan sepeda motornya. Sampai di rumah sakit Aruna segera ditangani.
Kondisi luka di kaki Aruna tidak begitu parah, hanya saja diperlukan enam jahitan agar lukanya berhenti mengeluarkan darah.
"Semuanya tiga ratus lima puluh ribu," ucap petugas bagian administrasi rumah sakit. Linda mengeluarkan uang dari dalam tasnya. Uang lima ratus ribu yang sudah dia kumpulkan kini tinggal seratus lima puluh ribu karena kejadian tidak terduga ini.
Sampai dokter selesai menangani Aruna, Erik tidak juga muncul. Padahal Linda sudah mengirim pesan dan memintanya untuk menyusul ke rumah sakit. Linda ingin Erik membawa Aruna pulang menaiki mobil agar Aruna merasa lebih nyaman.
__ADS_1
Tetapi setelah menunggu beberapa saat Erik tidak juga menyusul. Akhirnya Linda membawa Aruna pulang setelah dia menyelesaikan administrasi.