
Linda berusaha mengejar Erik. "Apa maksudmu Mas? Aku istrimu?!" teriak Linda. Satpam yang mendengar keributan langsung menghampiri Linda.
"Kalau mau buat keributan keluar dari toko ini!" bentak satpam itu. Linda tidak bisa mengejar Erik karena satpam itu mencegahnya. Linda segera berlari keluar dari toko. Dia menuju tempat parkir mencari keberadaan mobil suaminya, tetapi Linda terlambat.
Erik sudah menghidupkan mesin mobilnya.
"Mas Erik ...!!! Mas ... !!!" teriak Linda. Sekarang dia benar-benar terlihat seperti orang gila karena terus berteriak memanggil Erik sambil berlari mengejar mobil yang sedang melaju. Linda tidak mempedulikan orang-orang yang terus melihatnya, dia hanya ingin penjelasan dari suaminya.
Erik tidak menghentikan mobilnya meski Linda terus berteriak memanggil namanya. Linda terus berusaha mengejar mobil Erik meski akhirnya dia jatuh tersungkur di aspal. Linda hanya bisa menangis menatap kepergian Erik.
"Mas Erik ... Kamu tega Mas!" ucap Linda sambil terisak.
"Ayo bangun, jangan menangis di tengah jalan seperti ini!" Suara asing membuat Linda tersadar dan melihat sekelilingnya. Dia berada di tengah jalan karena tadi mengejar mobil Erik.
Pria mengulurkan tangannya dan membantu Linda berdiri. Linda menatap pria itu dan mengingat sepertinya tidak asing.
"Terima kasih." Linda mengusap air matanya dan hendak segera pergi.
"Tunggu ... "
"Maaf, ada apa?" tanya Linda takut-takut. Meskipun hanya berpakaian biasa tetapi dari tingkah lakunya sepertinya pria ini bukan orang biasa.
"Ayo ikut aku sebentar."
"Tapi ... "
"Sudah, ikut saja. Aku tidak akan macam-macam."
Linda mengangguk. Dia mengikuti pria itu dan berjalan di belakangnya. Pria itu berjalan menuju restoran tidak jauh dari toko tekstil.
"Ayo masuk," pria itu menyuruh Linda masuk karena sejak dia hanya terpaku di depan pintu masuk restoran.
Dengan perlahan Linda melangkahkan kakinya masuk. "Maaf Tuan, tetapi saya tidak punya uang untuk makan di restoran seperti ini," ucap Linda jujur.
"Aku yang akan membayar makanannya, kamu duduk saja pesan yang kamu suka dan temani saya makan!"
"Tuan saja yang pesankan, saya tidak tahu makanan ini!" jawab Linda dengan polosnya. Dia menutup buku menu karena tidak ada nama makanan yang dia kenali. Pria itu pun tersenyum.
"Namaku Bima."
Linda tertegun. Dia mengingat sepertinya pernah mendengar nama itu.
"Oh ... Astaga !!!" Linda menutup mulutnya. Pantas Linda merasa seperti sudah pernah melihatnya.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa." Linda menggelengkan kepalanya.
"Kamu Linda kan?"
Linda mengangguk. "Dari mana Tuan tahu nama saya?"
"Dari salah satu pegawaiku."
Kemudian pelayan datang membawakan makanan. Linda hanya melotot melihat makanan di depannya. Seumur-umur ini pertama kalinya dia melihat makanan yang namanya sushi.
"Silahkan dimakan."
Linda hanya mengangguk tetapi dia sama sekali tidak menyentuh makanan itu.
"Kamu tidak suka makanan seperti ini?"
Linda menggeleng. "Bolehkah bagian untuk saya dibungkus saja? Saya ingin membawanya pulang untuk anak saya di rumah. Dia pasti senang sekali karena belum pernah makan makanan seperti ini." Linda kembali jujur.
Bima tersenyum. "Nanti aku pesankan sendiri untuk anakmu. Sekarang kamu makan saja!"
Linda hanya melongo.
"Kenapa masih tidak makan?"
"Oh ... Ya sudah, pakai tangan saja tidak apa-apa."
Sebenarnya sejak tadi Bima memperhatikan Linda dari cctv di tokonya. Bahkan di toko pakaian pun Bima juga memperhatikan gerak-gerik Linda karena toko pakaian itu juga miliknya. Sejak mengira Linda adalah orang gila, Bima merasa bersalah dan ingin meminta maaf.
Bima ingin menemui Linda di toko pakaian untuk meminta maaf, tetapi dia justru melihat Linda sedang berlari mengejar sebuah mobil. Bima merasa kasihan melihat Linda yang terjatuh lalu dia menolongnya karena orang-orang di sana hanya menjadikan Linda sebagai tontonan.
"Siapa orang yang di dalam mobil tadi? Kenapa kamu sampai berteriak-teriak dan mengejarnya?" tanya Bima.
Linda terdiam. Sakit rasanya mengingat Erik pura-pura tidak mengenalnya.
"Tidak apa-apa kalau tidak mau jawab," ucap Bima lagi.
"Dia suamiku," balas Linda pada akhirnya.
Sejujurnya Bima sedikit tidak percaya jika suami Linda naik mobil sementara penampilan Linda seperti ini. Maksudnya, jika suaminya mampu membeli mobil kenapa dia tidak mampu membelikan Linda pakaian yang layak?
"Dia tadi bersama seorang wanita lalu tidak mengakui aku sebagai istrinya. Apa aku benar-benar terlihat seperti orang gila hingga suamiku sendiri tidak mau mengakui aku?"
__ADS_1
Bima tersedak mendengar pertanyaan Linda. Sebenarnya itulah yang membuat dia merasa bersalah lalu mengajak Linda makan, karena Bima sempat mengira jika dia adalah seorang gelandangan atau orang gila.
Rasanya Linda ingin menangis jika teringat Erik. Tetapi dia masih bisa menahan perasaannya karena ini di sebuah restoran dan di depannya ada orang asing.
"Maaf, kenapa Tuan mengajak saya makan? Kita kan tidak kenal?"
Bima kembali tersedak makanannya. Pertanyaan-pertanyaan jujur dari Linda membuat dia tidak punya jawaban.
Bima memperhatikan wajah Linda. Sebenarnya dia cantik, bahkan dengan pakaian yang Bima anggap compang camping pun Linda masih terlihat menarik.
"Lalu kenapa kamu mau saya ajak makan kalau tidak kenal?"
"Kan Tuan yang meminta saya ikut? Tuan bilang tidak akan macam-macam ya saya ikut saja. Lagian saya mau berterima kasih kepada Tuan Bima tidak tahu caranya."
"Berterima kasih?" Bima tidak mengerti.
"Tadi sudah membantu saya waktu saya jatuh di tengah di jalan."
"Jadi kita impas ya?"
"Impas? Maksudnya?" Linda gantian tidak mengerti maksud Bima.
"Oh ... Kamu kan pelanggan setia di tokoku. Jadi aku juga ingin berterima kasih kepadamu," jawab Bima asal. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia merasa bersalah karena sudah mengira Linda adalah orang gila dan sudah menyuruh karyawannya untuk mengusirnya.
"Apa sekarang saya boleh pulang Tuan?"
"Boleh, tunggu sebentar ... " Bima memanggil pelayan dan meminta makanan yang mau dibawa pulang oleh Linda.
"Ini buat anak kamu."
"Wah ... terima kasih Tuan," balas Linda dengan mata yang melotot ke boks makanan dengan penuh kekaguman. "Aruna pasti sangat suka ini. Aku harus menjahit dua potong pakaian agar bisa membeli makanan ini," ucap Linda tanpa malu-malu.
Sekali lagi Bima dibuat tersenyum dengan tingkah Linda yang tidak jaim dan apa adanya.
"Saya permisi Tuan Bima," Linda pamit.
"Tunggu ... " cegah Bima.
"Ada apa lagi Tuan?"
"Lain kali kalau kita bertemu panggil aku Bima, jangan Tuan!"
"Baik ... " Linda menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Linda pergi meninggalkan restoran dan menuju parkiran toko tekstil untuk mengambil sepedanya. Linda tersenyum melihat barang-barang bawaannya. Ada pakaian untuk Aruna, benang-benang jahit segala warna dan juga makanan yang disebut "sushi" yang belum pernah Aruna makan seumur hidupnya. Untuk sesaat Linda lupa apa yang tadi di lihatnya di toko pakaian.
Setelah mengayuh sepeda selama hampir dua jam akhirnya Linda sampai di rumah. Tadinya dia berangkat lebih pagi agar pulang tidak terlalu sore. Tetapi karena kejadian tidak terduga tadi akhirnya dia sampai rumah malam hari.