Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 34. Tidak Ada Maaf


__ADS_3

"Kenapa buru-buru? Apa kamu mau ada acara setelah ini?" tanya Linda karena melihat Bima makan dengan tergesa.


"Aku mau ke toko pakaian. Tadi ada yang menelfon ingin datang ke toko pakaian. Ada yang ingin mengajukan proposal kerja sama. Katanya jam sepuluh, dan sekarang sudah jam ... sembilan." Bima melirik jam tangannya sekilas.


Linda jadi merasa bersalah. Harusnya dari toko tekstil Bima bisa langsung ke toko pakaian karena jaraknya yang dekat. Tetapi karena mengantarkan dia, Bima jadi harus bolak balik ke butik dan ke toko.


"Harusnya tadi kamu bilang padaku Bim. Aku kan bisa ke butik naik ojek jadi kamu tidak harus bolak balik seperti ini."


"Tidak apa-apa. Sudah ku bilang apapun akan aku lakukan untukmu," ucap Bima sambil menikmati sarapannya.


Linda terdiam karena tersentuh mendengar kata-kata Bima. Selama ini Linda tidak pernah serius menanggapi rayuan Bima. Dia hanya anggap itu sebagai candaan tetapi ternyata Bima serius dan membuktikannya.


"Hmm ... masakan ibu memang tidak ada duanya." Bima mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi rasa tidak enak Linda.


"Tidak ada duanya apa sih? Ini kan cuma masakan kampung. Bahan-bahannya juga cuma dipetik dari kebun."


"Karena itulah makanan ini terasa sangat nikmat dan istimewa. Apalagi karena ada kamu yang menemani aku sarapan."


"Kamu kan sedang terburu-buru Bim, makan ya makan saja. Tidak usah cari-cari kesempatan merayuku."


Bima tersenyum mendengar jawaban Linda. Perempuan itu sudah sangat hafal, tidak ada waktu kosong bagi Bima untuk berhenti merayunya.


"Terima kasih Lin, aku harus pergi sekarang." Selesai sarapan Bima langsung pergi meninggalkan butik.


"Harusnya aku yang berterima kasih," gumam Linda setelah Bima tidak terlihat.


Siang harinya...


Tidak terasa sudah hampir jam dua siang. Perut Linda sudah tidak bisa diajak kerjasama. Dia sudah berusaha menahan rasa laparnya tetapi suaranya membuat Linda tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya.

__ADS_1


Akhirnya Linda memutuskan untuk beristirahat dan mencari makan siang. Lalu dia pamit ke salah seorang rekan kerjanya untuk mencari makan siang.


Linda adalah seorang pekerja keras. Tidak ada jam istirahat yang pasti bagi Linda seperti pegawai lainnya. Dia menyempatkan makan kalau benar-benar sudah lapar atau kalau pekerjaannya sudah selesai. Tetapi kalau pekerjaannya sedang banyak dan tidak bisa ditunda, dia memilih untuk tidak istirahat sama sekali.


Linda meninggalkan butik sendirian untuk mencari makan siang. Dia ingin makan soto saja biar cepat dan jaraknya juga tidak jauh dari butik.


Tidak berapa lama Linda sampai di warung soto. Linda tidak memperhatikan pengunjung lain di warung itu. Dia langsung duduk dan memesan satu mangkok soto lalu memakannya. Dia ingin segera menghabiskan soto itu agar bisa segera kembali ke butik. Waktu adalah uang sekarang menjadi semboyan hidup Linda.


"Biasanya sih aku tidak mangkal di tempat ini. Ya coba peruntungan saja bro, siapa tahu di sini bisa lebih banyak narik penumpang."


Tiba-tiba tubuh Linda terasa kaku mendengar suara laki-laki yang duduk dibelakangnya dan juga sedang membelakanginya. Tidak salah lagi. Itu suara Erik.


Belum sampai suapan ke dua, Linda tidak sanggup untuk menelan makanan lagi. Dia menengok ke depan warung dan barulah dia sadar ada mobil Erik terparkir di sana. Tadi Linda terburu-buru masuk sampai tidak memperhatikan mobil yang sedang terparkir di depan warung soto itu.


Linda sudah tidak ingin makan lagi. Dia ingin segera keluar dari warung itu. Linda mengumpulkan seluruh tenaganya agar bisa berdiri. Kaki dan tangannya terasa lemas. Dia gemetar karena takut Erik akan melihatnya.


Setelah berhasil mengumpulkan tenaganya Linda berjalan mendekati Abang penjual soto. Dia hendak membayar soto yang hampir bisa dibilang masih utuh.


Mata Erik terpana begitu melihat Linda. Dia bergegas menghampiri Linda.


"Lin ... Ini beneran kamu kan? Aku tidak percaya bisa bertemu kamu di sini."


"Ini uangnya Bang, tolong cepat. Saya buru-buru!" ucap Linda kepada abang penjual soto, mengabaikan Erik yang berdiri di sampingnya.


Setelah mendapatkan uang kembalian Linda ingin meninggalkan tempat itu tetapi Erik mencegahnya.


"Tunggu Lin, aku ingin bicara sama kamu." Tiba-tiba Erik menarik tangan Linda.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan Mas, kita sudah tidak ada hubungan!" balas Linda tanpa mau menatap wajah Erik. Dia berusaha melepaskan tangan Erik dari tangannya tetapi tenaga Erik jauh lebih kuat.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku Mas! Aku buru-buru!"


"Lin, kumohon sebentar saja. Aku ingin bicara denganmu. Aku ingin minta maaf kepadamu."


"Lepaskan tanganku atau aku akan berteriak?!"


Akhirnya Erik mengalah dan melepaskan tangan Linda.


"Mungkin lain kali kamu akan memberiku kesempatan. Aku hanya ingin minta maaf."


Linda berjalan menuju motornya tanpa mempedulikan Erik. Dia hanya ingin segera menjauh dari laki-laki itu.


"Kita pasti bertemu lagi Lin. Kalau jodoh, sudah berpisah pun pasti akan kembali lagi," ucap Erik sebelum Linda menjauh.


Linda mengemudikan motornya kembali ke butik. Rasa laparnya sudah hilang meskipun dia belum sempat makan.


Linda mengawasi sekeliling untuk memastikan jika Erik tidak mengikutinya barulah dia masuk ke butik. Sampai di dalam butik Linda disambut dengan wajah keheranan oleh teman kerjanya.


"Cepat banget Mbak perginya? Apa tidak jadi makan?"


"Cuma muter saja tadi, bingung mau makan apa." Linda beralasan. "Aku ke ruanganku dulu." Linda berlalu meninggalkan temannya. Dia tidak ingin berbincang dengan siapapun saat ini.


Di dalam ruangannya Linda tidak kuasa menahan air matanya. Tidak tahu kenapa dia ingin menangis. Padahal kalau dipikir-pikir Erik tidak melakukan apa-apa kepadanya tadi. Tetapi saat melihat laki-laki itu rasa sakit di hatinya kembali menjadi-jadi.


Dulu ketika dia masih menjadi istrinya, Linda selalu berharap Erik mau meminta maaf atas perbuatannya. Tetapi sekarang ketika laki-laki itu meminta maaf, Linda sudah tidak membutuhkan itu.


Minta maaf saja tidak akan cukup untuk mengganti penderitaan yang dia alami ketika masih menjadi istrinya. Mau ribuan permohonan maaf bahkan Erik sampai bersujud di depannya pun Linda tidak akan bisa membuat Linda lupa apa yang sudah dialaminya.


Linda masih tidak bisa mengerti, bagaimana dulu dia bisa dengan mudah memaafkan Erik tanpa dia memintanya, melupakan kesalahannya dan menuruti semua keinginannya bahkan yang membuat dirinya sendiri tersiksa. Bisikan setan macam apa yang membuat dia begitu patuh kepadanya. Sekarang Linda menyesali kebodohannya.

__ADS_1


Linda menghapus air matanya setelah puas mengeluarkan rasa yang mengganjal di dalam dadanya. Saatnya kembali bekerja. Tidak perlu berlama-lama meratapi masa lalunya dalam penyesalan.


__ADS_2