Suamiku Traumaku

Suamiku Traumaku
Bab 29. Akhirnya


__ADS_3

Linda berdiri di depan rumah orang tuanya. Rasanya ragu dan juga malu untuk melangkah masuk ke dalam rumah itu. Jika saja dia mau mengikuti keinginan orang tua dan kakaknya untuk berpisah dari Erik pasti dia tidak akan mengalami nasib buruk seperti ini.


"Runa, sementara kita akan kembali tinggal di rumah kakek. Kamu mau kan?"


Aruna yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk menyetujui ucapan ibunya.


"Apa ibu marah sama ayah?"


"Ibu ada sedikit salah paham dengan ayahmu, tetapi kali ini agak sulit dibicarakan. Runa mengerti kan?"


Aruna kembali mengangguk.


"Ayo kita masuk. Nenek pasti senang melihat kamu datang."


Linda menggandeng tangan Aruna lalu mereka berjalan bersama. Linda berusaha tersenyum dan mengabaikan perasaannya yang hancur lebur atas perbuatan Erik kepadanya.


Linda mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada jawaban.


"Apa mungkin nenek belum pulang dari sawah?"


"Kalau kakekmu mungkin masih di sawah. Tetapi nenek harusnya sudah di rumah, ini sudah sore. Ah ... Mungkin nenek sedang memasak di dapur. Biar ibu coba lagi." Linda kembali mengetuk pintu. Dan kali ini ada balasan dari dalam.


"Tunggu sebentar ... " Terdengar suara dari dalam rumah.


Linda dan Aruna tersenyum. "Tuh ... Benar kan?"


Tak lama kemudian pintu di buka.


"Nenek ... !!!" teriak Aruna.


Bu Yanto langsung menyambut Aruna dengan pelukan hangatnya. Setelah puas memeluk cucunya Bu Yanto kemudian melepaskannya. Dia merasa aneh melihat Aruna menggendong tas sekolahnya sementara Linda juga membawa tas besar dan terlihat berat.


"Apa Runa mau menginap di rumah nenek?"


"Iya ... Ibu bilang sementara kita akan tinggal di rumah nenek. Ibu sudah bawa banyak baju, jadi menginapnya lama seperti waktu itu. Benar kan Bu?" Aruna menatap polos ke arah ibunya.

__ADS_1


Bu Yanto langsung melirik tas besar yang Linda bawa. Mungkin itu berisi pakaian yang Aruna maksud. Tatapan Bu Yanto pindah ke mata Linda. Tanpa Linda bicara, Bu Yanto sudah mengerti situasinya.


"Ayo masuk dulu ... "


Lalu Linda membawa Aruna masuk ke dalam rumah mengikuti ajakan ibunya.


"Sana taruh tas kamu dan tas Aruna di dalam kamarmu lalu istirahatlah. Ibu tahu kamu lelah. Aruna biar sama ibu." Linda mengangguk. Dia tahu ibunya sedang memberinya waktu untuk sendiri.


"Runa, bagaimana kalau kita susul kakekmu di sawah. Runa mau?"


"Mau Nek, Runa mau!" Aruna sangat antusias.


Malam harinya...


Pak Yanto dan Linda sedang duduk di ruang tamu. Sementara Bu Yanto sedang menidurkan Aruna. Anak itu manja sekali kepada neneknya.


"Apa yang terjadi Lin? Kamu sampai pergi dari rumah, apalagi yang Erik lakukan?" Pak Yanto memulai pembicaraan.


"Tidak ada Pak. Aku hanya sudah tidak tahan dengan sikap Mas Erik." Linda tidak mengatakan alasan yang sebenarnya.


"Aku ingin berpisah dari Mas Erik. Keputusanku sudah bulat."


"Bapak akan mendukung apapun keputusanmu. Sejak melihat apa yang telah dia lakukan kepadamu bapak sudah tidak bisa percaya dia lagi. Segera urus surat-suratnya! Bapak tidak mau kamu berubah pikiran lagi."


Linda mengangguk. Kali ini tidak ada air mata di pipinya. Tekad Linda sudah bulat. Laki-laki tidak berguna itu harus segera dia singkirkan dari hidupnya. Hanya satu sesal Linda, kenapa tidak sejak dulu dia melakukannya.


Keesokan harinya Linda berangkat ke kantor perangkat desa untuk mengurus perceraiannya. Sari dengan setia menemani Linda karena dia senang akhirnya mata adiknya terbuka lebar.


"Apa yang membuatmu akhirnya mau bercerai dari laki-laki pemalas dan tidak berguna itu?"


Dulu Linda marah jika Sari menyebut Erik sebagai laki-laki tidak berguna. Rasanya tidak terima ada orang yang mencela suaminya. Tetapi sekarang Linda sadar sebutan itu memang pas untuk Erik.


"Tidak tahu. Aku hanya sudah tidak tahan saja." Linda memegang teguh kesepakatannya dengan Bima, bahwa tidak akan ada yang tahu alasan sebenarnya kenapa dia mau bercerai dari Erik.


Sari mendengus mendengar jawaban Linda. "Dulu kamu dihajar sampai babak belur saja masih bertahan, tidak mau cerai. Sekarang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba memutuskan bercerai. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu!"

__ADS_1


Sari dan Linda ini memang kakak beradik tetapi kepribadian mereka sangat bertolak belakang.


"Tapi aku senang akhirnya kamu lepas dari laki-laki parasit itu."


Linda tersenyum mendengar kata-kata Sari. "Aku sendiri masih belum mengerti, kenapa aku sampai tergila-gila dengan Mas Erik."


"Sudahlah ... Yang penting sekarang kamu sudah sadar. Kamu bisa memulai hidup baru setelah terlepas dari Erik sialan itu!"


Memulai hidup baru? Linda tertegun mendengar kata-kata ini. Dia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Bagaimana dia akan memulai hidup baru jika sumber kehidupannya sudah di jual oleh Erik. Bagaimana dia akan menghidupi Aruna tanpa mesin jahit? Tidak mungkin dia menggantungkan hidupnya kepada orang tuanya. Linda tidak mau menjadi beban mereka.


*


Pak Yanto baru saja yang menemui Erik untuk meminta dia menandatangani surat perceraian. Sebelumnya Pak Yanto tidak mengijinkan Linda untuk menemui Erik karena takut dia akan termakan bujuk rayu Erik dan merubah keputusannya lagi.


Tetapi sampai di rumah wajah Pak Yanto terlihat muram. Dan itu membuat Linda berpikiran yang tidak-tidak.


"Apa Mas Erik mau menandatangani surat perceraiannya?"


"Bapak ingin bicara denganmu Linda! Kamu harus menjelaskan sesuatu kepada Bapak!" ucap Pak Yanto dingin. Linda merasa ada kemarahan dalam nada bicara bapaknya.


"Ada apa Pak?"


"Erik bilang kamu kabur bersama seorang laki-laki. Kamu bahkan menghabiskan waktu di hotel bersama laki-laki itu. Apa itu benar?!"


Linda terkejut mendengar pertanyaan bapaknya. "Apa maksud bapak?"


"Jawab saja pertanyaan Bapak! Apa benar yang Erik katakan?!" Pak Yanto masih terlihat tenang meskipun kemarahannya tidak bisa dia sembunyikan.


"Tidak Pak, itu tidak benar!"


"Jangan bohong Linda! Jika Erik sendiri yang menceritakan itu pada Bapak, pasti bapak tidak akan percaya. Tetapi tadi ada tetanggamu juga yang menjadi saksi. Mereka mengatakan kalau melihat kamu pergi bersama seorang laki-laki. Bahkan mereka juga melihat kamu dan Erik ribut lalu kamu meninggalkan rumah bersama laki-laki itu. Apa itu benar?!"


Linda tidak tahu harus menjawab apa. Yang dikatakan bapaknya ini semua benar.


Sebelum keluar dari rumah Erik, Linda memang ribut dengan Erik bahkan Erik sampai mengejarnya ke tempat dimana mobil Bima menunggu. Saat itu Erik juga hampir berkelahi dengan Bima dan terkesan mereka sedang memperebutkan Linda. Dan memang ada beberapa orang tetangganya yang melihat kejadian itu.

__ADS_1


Linda mengangguk lemah. "Itu memang benar, tetapi bukan seperti itu ceritanya Pak."


__ADS_2