![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"Jadi akan ada pembagian deviden Minggu depan?"
Chenle mengangguk dengan senyuman miring. Menatap penuh rasa percaya diri pada seseorang yang menjadi investornya.
Sementara Karamel duduk di meja lain. Tidak jauh, meja itu terletak di samping meja Chenle. Awalnya Chenle meminta tambahan kursi pada seorang pelayan agar Karamel bisa bergabung di mejanya, tapi gadis itu menolak.
Siang ini Chenle ada janji temu dengan salah satu investornya dan Kun kakaknya di salah satu restaurant China mahal. Ah.. Karamel hampir saja lupa kalau Yangyang juga ikut. Itulah alasan kenapa Karamel menolak bergabung dalam satu meja. Dia terlalu sungkan bertemu kakak laki-laki Chenle.
"Iya, nilai kali ini cukup besar berkat KH1000." Chenle memasang wajah bangga, tidak jauh beda dengan Kun. Sementara Yangyang hanya tersenyum miring tanpa arti.
"Waahh... Ini seperti berkah pengantin baru ya. Kau dan nona Shuhua pasti sangat bahagia. Kalian pasangan yang serasi." Komentar pria tua berperut buncit tersebut.
Jangan dikira Karamel tidak dengar, dengan jarak sedekat ini dia bisa mendengarnya dengan jelas.
Gadis itu hanya bisa diam, dia sempat melirik Chenle yang tidak bereaksi apapun lalu Karamel tersenyum miris dan menunduk.
Tak seharusnya dia berharap sebuah pengakuan kan?
Sekali lagi dia bukan siapa-siapa untuk Chenle.
Tanpa Karamel sadari, Kun sempat melirik ke arah Karamel lalu menyenggol Chenle dengan sikunya. Namun adik laki-lakinya itu sama sekali tidak bereaksi.
"Baiklah kalau sudah tidak ada lagi yang di bicarakan, aku harus segera pergi ke pertemuan selanjutnya." Pamit pria tua itu.
Kun meminta Yangyang untuk mengantar pria itu sampai depan restaurant sementara Kun tetap bersama Chenle.
"Chenle..." Panggil lelaki itu dengan halus.
"Aahh.. ayo main basket." Chenle tidak mau menunggu sampai Kun mengungkapkan isi hatinya.
Lelaki itu bangkit lebih dulu dan pergi ke halaman belakang restaurant dimana ada tempat makan outdoor dan lapangan basket disana.
Kun mengikuti adiknya. Dia sempat tersenyum lembut pada Karamel sebelum dia pergi. Sementara Karamel masih menetap di kursinya. Mengaduk-aduk gelas ice tea pesanannya dan membuat isinya bergerak kacau. Hmm... Sama seperti hatinya kan.
"Chenle..."
"Hmm??" Chenle mengambil salah satu bola di dekat ring basket lalu mulai bermain.
"Kamu ga kasih tau orang-orang kalau pernikahanmu dan Shuhua batal? "
"Enggak." Jawab Chenle singkat. Terlihat tidak berminat pada obrolan itu.
"Kamu ga mikirin perasaan Karamel?"
Chenle melakukan dunk shoot lalu sedikit berlari untuk mengejar bolanya.
"Ini adalah caraku untuk melindunginya. Bayangkan jika semua petinggi perusahaan tau, mereka mungkin akan mengecam Mel."
Kun tersenyum, tampak setuju dengan pendapat adiknya.
__ADS_1
"Kau benar."
2 orang kakak beradik itu mulai berebut bola dan permain bertambah intense dengan kedatangan Yangyang.
...❄️❄️❄️...
Sementara itu di dalam gedung Karamel tampak bosan. Chenle meninggalkannya sendirian selama 1 jam. Lelaki itu memang sering lupa diri kalau sudah bermain basket.
Karamel akhirnya ikut menyusul ke belakang setelah minumannya habis. 3 bersaudara dari keluarga Zhong masih betah bermain di bawah terik matahari rupanya. Dan entah kenapa tatapan mata Karamel tidak bisa lepas dari sosok suaminya.
Zhong Chenle tampak memukau dengan pakaian casual, rambut berantakan dan kacamata hitamnya.
Terik matahari juga membuat kulit Chenle semakin bersinar.
Karamel duduk diam dan tanpa sadar menikmati mahakarya Tuhan yang secara hukum sudah jadi hak miliknya itu. Namun detik berikutnya dia memaksa dirinya untuk sadar lalu mengalihkan pandangannya.
'Cukup Karamel !! Cukup!! Jangan sampai kau jatuh pada pesona nya. '
Karamel membelakangi lapangan basket dengan perasaan frustasi, gadis itu berusaha menyibukkan dirinya dengan ponsel namun matanya terus berkhianat. Ia mendapati matanya melirik ke arah lapangan beberapa kali.
"Harusnya aku menolak ikut tadi." Gumam Karamel.
Gadis itu menoleh ketika mendengar suara Chenle yang memanggil.
Ketiga orang itu berjalan beriringan mendekatinya.
"Karamel, kami pergi duluan ya. Kalau ada waktu mainlah ke rumah." Seperti biasa senyuman Kun sangat mempesona ketika menyapanya. Lelaki itu merangkul pundak Yangyang sebelum pergi.
Sementara Chenle mengambil tempat duduk di sebelah Karamel. Dia menyugar rambutnya kebelakang sebelum melirik Karamel.
"Mau makan??"
Karamel menggeleng. Wajahnya gugup dan Karamel tidak tau apa alasannya.
"Kenapa diam? Kepikiran yang tadi?"
"Enggak." Jawab Karamel cepat.
Chenle menarik bagian atas kaosnya dan mengibas-ngibaskannya karena dia kepanasan.
"Aku pesenin makan yah, kamu belum makan dari tadi."
"Ga usah Chenle."
"Temenin aku makan kalau gitu."
__ADS_1
Yah, Karamel mungkin lupa kalau Chenle itu keras kepala dan tidak bisa di bantah. Gadis itu akhirnya diam dan menurut, membiarkan Chenle memesan beberapa makanan untuk mereka berdua.
Lelaki itu kembali duduk di samping Karamel setelah selesai membayar pesanannya.
Karamel menatapnya, dia baru sadar kalau wajah Chenle berubah menjadi merah karena terbakar matahari.
"Chenle.."
Chenle menatapnya.
"Sama suami manggilnya yang sopan dong. Belajar jangan panggil nama." Protes Chenle.
"Pak.."
"Kalau cuma ada kita berdua jangan panggil pak." Protes Chenle lagi.
"Ya terus manggil apa dong??" Karamel mendengus. Dia bersandar dengan melipat dua tangannya di depan dada.
"Mas."
Karamel langsung melotot. Melihat reaksi Karamel yang berlebihan membuat Chenle kembali bicara.
"Kenapa? Salah?"
"Ga mau ya aku manggil gitu."
"Ini perintah suami loh, dosa kalau ga diikutin."
Karamel berdecak. Dia terlihat kesal tapi tidak berani melawan.
"Ayo cepat." Kata Chenle lagi.
"Cepat apa??"
"Panggil mas." Lelaki itu menyeringai nakal.
"Ga mau ! Jangan maksa ya."
"Panggil Mas atau aku cium di tempat umum."
"CK... Iya.. iya.. " Karamel tampak ragu-ragu. Melihat wajah Chenle yang sangat berharap itu juga membuatnya semakin enggan.
"M-mas.."
"aah ... manis sekali.."
Bersambung...
__ADS_1