![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Chenle dan Karamel memutuskan untuk menginap di hotel dekat bandara semalam karena memang sudah sangat larut saat mereka landing. Selain itu juga Karamel bilang dia lupa alamat rumahnya karena sudah lama dia tidak pulang.
Itu terdengar tidak masuk akal memang, Chenle pikir Karamel mungkin hanya mencari alasan untuk mengulur waktu bertemu dengan papanya. Namun lelaki itu tak ingin terlalu menekannya.
Dia akan membiarkan Karamel menenangkan diri dulu sebelum dia menghadapi tuan besar Suh.
Sejujurnya Chenle juga merasa takut, Ahh... Tidak, lebih tepatnya dia gugup.
Ini wajar karena dia telah meminang seorang gadis tanpa persetujuan orang tuanya. Chenle bahkan sudah menyiapkan dirinya jika nanti tuan Suh akan menempeleng kepalanya dengan teflon dan Chenle akan menerimanya dengan lapang dada.
Pagi ini Chenle bangun lebih dulu, Karamel masih tidur dengan Yue yang ada di pelukannya. Chenle cemberut. Sejujurnya dia merasa iri pada Yue yang bisa memeluk Karamel semalaman sementara dia tidak.
Lelaki itu bergerak dengan perlahan memindahkan Yue ke tepi ranjang sementara dirinya menyusup di tengah. Baru saja dia akan memeluk Karamel, gadis itu langsung membuka mata. Pergerakan di sampingnya sangat tidak wajar hingga membuat Karamel terbangun.
"Kenapa?" Tanya Karamel, suaranya serak dan terdengar seksi.
"Aku juga mau dipeluk." Chenle membuat gestur lucu dengan bibirnya.
"Cih.. ga ingat umur." Karamel merenggangkan tubuhnya lalu beranjak duduk. Gadis itu membenarkan ikatan rambutnya sebelum bergegas ke kamar mandi.
"Tunggu." Kata Chenle. Karamel menoleh.
"Pakai ini sekarang." Chenle memberikan bungkusan plastik pipih dengan logo palang merah di tengahnya.
"Kapan kamu beli ini?"
"Semalam di apotik bandara."
Karamel menerima benda itu dengan enggan.
"Nanti aja yah.."
"Testpack itu bagusnya di pakai saat pagi, hasilnya lebih akurat."
Karamel mengangkat sebelah alisnya.
Bagaimana Chenle tau itu?
Ahh.. iya, dia kan suami 'berpengalaman'.
"Oke." Karamel membawa benda itu ke kamar mandi.
Chenle menunggu di kamar dengan wajah tenang meskipun beberapa kali dia sempat menatap pintu kamar mandi karena tidak sabar.
Sampai saat pintu itu terbuka, Chenle langsung berdiri untuk menghampiri Karamel.
"Bagaimana ?"
Ekspresi Karamel terlihat aneh, gadis itu tampak khawatir dan tidak senang. Chenle mendadak memiliki firasat buruk. Lelaki itu menautkan alisnya saat mengambil testpeck itu dari tangan Karamel.
2 garis merah tertera sangat jelas disana dan itu membuat ekspresi Chenle berubah seketika.
__ADS_1
"Kamu hamil Mel." Chenle tersenyum lembut dan menatap wajah muram Karamel.
"Kenapa? Kamu ga senang?" Seketika senyuman Chenle memudar.
"Bukan begitu. Papaku itu orangnya keras, gimana kalau dia ga merestui kita terus di paksa cerai? Aku ga mau jadi janda anak 1."
Chenle kembali tersenyum kali ini diiringi tatapan sendu yang membuat kekhawatiran Karamel menguap. Chenle merentangkan tangannya, dia menarik tubuh Karamel ke dalam pelukannya dan mencoba meyakinkan gadis itu kalau mereka tidak akan pernah berpisah.
"Papamu ga akan begitu."
"Kamu kan ga kenal papaku, dia itu..."
"Makanya aku mau cepet-cepet ketemu papa kamu biar kenal."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yue sudah memulai drama kehidupannya sejak dia membuka mata. Bocah kecil itu menangis karena semalam dia ketiduran dan tidak jadi beli ice cream. Selain itu dia terus memprotes Chenle yang selalu menempeli ibunya.
"Minggir.. " protesnya. Yue sekuat tenaga melepas genggaman tangan Chenle di tangan Karamel.
"Jangan pegang-pegang mama Yue."
"Yue.. papa harus jagain mama sama adik di perut mama." Chenle berjalan ke sisi lain untuk meraih tangan Karamel lagi. Tapi Yue kembali mendorongnya.
"Biar Yue aja yang jagain Mama. Mama Mel itu cuma punya Yue." Ketus Yue. Suaranya melengking dan sangat nyaring.
"Eh enggak ya, Mamamu itu udah sah jadi punya papa, ada tanda tangan kontrak sehidup sematinya di atas materai." Chenle tidak mau kalah.
"Punya papa!!"
"Punya Yue!!"
"Punya papa!!!"
"Hentikan. "
Karamel benar-benar jengah. Ayah dan anak itu sama-sama keras kepala dan membuatnya pusing.
"Ga perlu di gandeng, mama bisa jalan sendiri." Ketus Karamel. Dia berjalan mendahului 2 manusia Zhong itu.
"Tapikan kamu pakai high heels, udah aku suruh ganti tapi kamu ga mau nurut." Chenle mengejar Karamel, diikuti Yue yang mengekorinya.
"Aku sudah pro pakai high heels." Jawab Karamel enteng.
"Kali ini aku maklumi, tapi lain kali ga boleh."
Mereka akhirnya sampai di depan rumah keluarga Suh setelah mengendarai taksi selama setengah Jam dan berjalan beberapa langkah dari gerbang perumahan. Karamel sempat berhenti cukup lama di halaman karena keraguannya kembali muncul.
"Ini rumah siapa sih?" Tanya Yue.
"Itu rumah kakek baru, papanya mama Mel." Jawab Chenle.
__ADS_1
"Apa..? kakek baru?? Waah keren.. nanti Yue bakal dapat angpao lagi dong?"
"Dasar bocah matre." Gerutu Chenle.
"Yue mau minta ice cream sama kakek." Bocah itu berlari dengan semangat mendekati pintu, lalu mengetuknya dengan keras.
"Kakeeek.... Kakek... Yue datang."
"Ayo Mel... " Chenle menggandeng tangan Karemel. Laki-laki itu sengaja menggenggamnya lebih erat untuk membuat Karamel tenang.
Pintu kayu dengan plat nama keluarga Suh itu terbuka, menampakkan sosok bule oriental yang Karamel kenal.
"Mark."
"Kakak..???"
Mark menatap Karamel sebentar lalu beralih menatap Chenle dan akhirnya menunduk melihat Yue.
"Uncle ???" Yue terlihat ragu ketika menyebutnya 'uncle'.
"Uncle ????" Mark balik bertanya, dia menautkan alisnya dan kembali menatap Karamel.
"Siapa yang datang??" Lee Haechan ikut menghampiri
"Loh... Kakak ipar?" Haechan mengarahkan telunjuknya ke arah Chenle.
"Hah? Kakak ipar?" Mark menatap Haechan tidak mengerti.
"Siapa yang datang Mark?"
Tubuh Karamel langsung menegang ketika mendengar suara berat dan tegas yang ada di dalam rumah.
Johnny keluar dengan mata elangnya yang menakutkan, diikuti Wendy yang sekarang sudah menjadi istrinya. Wendy adalah ibu kandung Haechan dan ibu tiri Karamel juga Mark.
"P-pah..."
" Siapa ya? Saya tidak kenal orang macam kamu." Johnny memasang wajah acuh lalu berbalik masuk ke dalam rumah. Waah... Haechan pasti membocorkan rahasianya pada Johnny. Dasar cecunguk bermulut ember.
"Astaga drama banget nih Si Johnny." Celetuk Haechan.
"SEO HAECHAN !!"
"Maaf pah.. bercanda hehe..." Haechan menoleh pada Chenle dan mengisyaratkan mereka untuk masuk.
"Karamel.. ayo masuk." Kata Wendy. Wanita itu sempat melirik Chenle dan tersenyum untuk basa-basi.
Karamel menarik nafas panjang. Rasanya benar-benar menegangkan. Seperti baru saja bertemu dengan malaikat maut dan sekarang harus berhadapan dengan raja iblis.
"Oke... Ayo masuk..."
__ADS_1
BERSAMBUNG....