![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
...ฅ^•ﻌ•^ฅฅ^•ﻌ•^ฅฅ^•ﻌ•^ฅ...
"Mel.."
Karamel sedikit terusik dalam tidurnya akibat rintihan Chenle dan suara parau yang memanggilnya secara berulang.
"Mel.."
Karamel akhirnya terjaga, melirik Chenle yang ternyata masih tidur. Apa dia mengigau?
Kenapa Chenle terus memanggil namanya?
"Mel... Melisa.."
Tunggu. Bukan Karamel yang Chenle panggil. Tapi... Melisa ?
Siapa itu Melisa?
"Chenle." Karamel mengulurkan tangannya, menyentuh dahi Chenle yang panas. Lelaki itu demam dan pasti tidak sadar tengah mengigau.
Karamel menyibakkan selimutnya, dan beranjak duduk.
"Melisa..." Panggil Chenle sekali lagi.
Karamel sedikit tertegun.
'Melisa? Apa itu nama mendiang istrinya?'
Itu hanya dugaan Karamel saja karena selama Karamel bekerja dengan Chenle, tidak sekalipun Chenle dekat dengan wanita lain selain dirinya.
"Melisa..."
"Chenle." Karamel mau tidak mau harus membangunkan Chenle karena dia terus mengigau.
Chenle akhirnya membuka mata, dan merintih ketika pening dikepalanya semakin menjadi.
"Kau demam. Apa kau menyimpan ibuprofen?" Kata Karamel.
"Di laci walk in closet." Gumam Chenle. Lelaki itu beranjak duduk dan menunggu Karamel mengambilkannya obat.
Karamel tidak pernah masuk ke walk in closet Chenle sebelumnya. Meskipun statusnya sudah menjadi nyonya Zhong, tapi Karamel masih belum berani memasuki area pribadi Chenle.
Gadis itu membuka salah satu laci di dekat tempat Chenle meletakkan koleksi jam tangannya. Beberapa obat tergeletak berantakan di sana, sejujurnya Karamel sedikit kesulitan mencari ibuprofen atau parasetamol karena banyaknya obat yang Chenle simpan. Dan bukannya menemukan obat, Karamel justru menemukan selembar foto yang sangat menarik.
Itu adalah foto pernikahan Chenle dengan mendiang istrinya. Dalam foto itu juga tertera tulisan 'Chenle & Melisa' yang di tulis dalam huruf latin.
Benar kan dugaan Karamel, nama Melisa yang disebut Chenle saat mengigau adalah nama mendiang istrinya yang sangat Chenle cintai.
Gadis itu menghela nafas, dengan tatapan yang sulit di artikan saat menatap foto tersebut.
"Chenle pasti sangat merindukanmu... Melisa."
__ADS_1
Jika dipikir-pikir Melisa memiliki panggilan yang sama dengannya. Chenle memanggil Melisa dengan sebutan 'Mel' dan panggilan itu juga yang Chenle berikan padanya saat Karamel mulai bekerja 2 tahun lalu.
Selain itu, Melisa juga memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Karamel terutama bibir tipisnya dan juga bentuk wajahnya. Hanya hidung mereka saja yang sedikit berbeda karena Karamel adalah keturunan orang Amerika. Ini adalah pertama kalinya Karamel melihat rupa dari mantan istri Chenle, dan... yah.. dia cukup terkejut karena kemiripan mereka.
"Jadi.. apa karena itu kau memanggilku dengan sebutan 'Mel' ? Apa aku mengingatkanmu dengan mendiang istrimu? "
Wajah Karamel berubah sedikit kecewa. Sejenak dia mulai memikirkan pengakuan cinta Chenle saat mereka di Shanghai Minggu lalu. Apa Chenle benar-benar mencintainya? Ataukah ini karena Karamel mirip dengan mendiang istrinya?
"Mel..." Chenle memanggilnya Karena Karamel terlalu lama di walk in closet.
Gadis itu akhirnya keluar dengan membawa 1 dosis parasetamol.
"Makan sedikit sebelum minum obat ya?"
Chenle mengangguk. Karamel keluar kamar sebentar lalu kembali dengan sepotong roti dan segelas air.
"Kenapa wajahmu begitu?" Tanya Chenle setelah menghabiskan rotinya dan meminum obat.
"Wajahku kenapa?"
"Aneh." Ungkap Chenle. Dia menatap intens mimik aneh yang coba Karamel tutupi dengan senyumannya yang dipaksakan.
"Aku cuma ngantuk. Ayo tidur lagi, ini masih jam 3 pagi." Karamel mengambil gelas kosong dari tangan Chenle, lalu meletakkannya di nakas samping tempat tidur.
Gadis itu lalu kembali berbaring menghadap Chenle dan mengeratkan selimutnya. Chenle pun demikian, dia berbaring menatap Karamel lalu menangkup pipi gadis itu.
"Aku bermimpi aneh. Apa aku mengigau tadi? Dan kenapa wajahmu tampak sedih? Apa aku menyebut sesuatu yang membuatmu tersinggung?"
"Tidurlah. Jangan banyak berpikir saat demam."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Demam Chenle sudah turun, tapi Karamel melarang Chenle untuk pergi bekerja. Chenle juga merasa bosan karena harus berada di ranjang seharian. Lelaki itu akhirnya keluar kamar dan menghampiri Karamel di dapur.
"Mel.."
"Kenapa malah keluar? Aku bilang kan tunggu di kamar saja nanti makanannya aku bawa ke kamar. "
"Aku bosan Mel."
Chenle duduk di salah satu kursi meja makan dan menunggui Karamel yang sedang menata makanan. Gadis itu melepas apronnya saat semua sudah siap tersaji di hadapan Chenle.
"Aku akan menjemput Yue di sekolah. "
Chenle melirik jam digital yang tergantung di dindingnya.
"Dia pulang masih 1 jam lagi."
"Y-yaa.. aku.. mm.. mau sekalian belanja."
"Mel.." nada suara Chenle sedikit meninggi dan membuat Karamel terkejut.
__ADS_1
"Aku sedang sakit, ga bisa ya kamu di rumah saja dan menemaniku?"
Karamel menghela nafas. Gadis itu menarik kursi di hadapan Chenle lalu duduk dihadapan lelaki itu.
"Cepat dimakan nanti keburu dingin." Dia juga berusaha mengalihkan topik.
"Mel, aku ada salah ya? Kenapa hari ini sikapmu aneh?"
"Ga ada." Jawab Karamel cepat, namun kejanggalan itu tak bisa dia tutupi dari Chenle. Karamel dengan jelas menghindari tatapan Chenle dan lebih banyak menunduk sejak tadi.
"Mel.."
"Chenle.." Karamel menyela Chenle yang hendak bicara.
"Bisakah kau menyebut namaku dengan lengkap?"
Chenle mengerutkan dahinya, dia menatap Karamel heran.
"Kenapa? Bukankah aku memanggilmu begitu sejak 2 tahun lalu dan ga ada masalah?"
Karamel mengangguk, dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Gadis itu lalu mengedikkan bahu.
"Ya..yah.. akhir-akhir ini aku hanya merasa kurang nyaman dengan panggilan itu."
Chenle diam, dia hanya bisa menatap Karamel dengan wajah bertanya. Apa yang membuat sikap gadis itu berubah hari ini? Apa yang membuat tatapan Karamel terlihat sedih?
Apakah dia membuat kesalahan yang tidak dia sadari?
"Apa aku menyebut nama Melisa saat aku mengigau?"
Bingo. Tebakan Chenle tepat sasaran. Karamel langsung menegakkan tubuhnya begitu Chenle menyebut nama mendiang istrinya. Rautnya tak bisa berbohong, Chenle menyadari itu.
"Mel... Aku..."
"Tidak apa-apa... Aku mengerti.." Karamel mengulas senyuman palsunya.
Ya benar, dia akan mengerti meskipun sulit tapi dia harus berusaha untuk mengerti. Tidak ada yang bisa menggantikan Melisa dalam hati Chenle dan Karamel akan menerima fakta itu.
Hanya saja.... Karamel merasa perasaannya sedikit bereaksi berlebihan. Emosinya labil dan membuatnya menjadi wanita yang cengeng.
"Aku mengingatkanmu pada mendiang istrimu kan?
Chenle hanya bisa diam sambil menatap dalam manik mata Karamel.
Hati Karamel sedikit terasa perih ketika Chenle mengangguk dengan lemah.
"Aku mengerti."
Chenle tau dia mungkin telah menyakiti wanitanya. Meskipun Karamel berusaha tersenyum tapi hati Chenle terasa aneh ketika gadis itu meninggalkan meja makan.
Karamel bilang dia akan menjemput Yue, tapi entah kenapa Chenle merasa sangat takut. Takut kalau gadis itu tak akan pernah kembali lagi.
__ADS_1
Bersambung...