![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"Jadi... Kamu menikahi putriku karena terpaksa?"
"Iya.. eh.. ma-maksudku tidak." Chenle meringis memikirkan kebodohannya sendiri.
Lelaki itu sebelumnya sudah memantapkan dirinya bahwa dia akan menghadapi papa Karamel dengan jantan. Namun sekarang saat dia melihat langsung betapa mengerikannya pria dihadapannya ini membuat nyali Chenle menciut.
"Jadi laki-laki itu jangan plin-plan. Iya atau tidak?" Johnny meletakkan putung rokoknya yang tersisa sedikit lalu kembali menghadiahi Chenle tatapan tajam.
"Iya. Tapi Chenle benar-benar punya perasaan sama Karamel sekarang."
"Lalu keluargamu? Bukannya kamu bilang mereka menjodohkanmu dengan perempuan lain? Sudah jelas mereka ga suka Karamel kan. " Johnny menyilangkan kakinya. Wajahnya tenang tapi tatapannya sangat mengintimidasi.
"Iya. Tapi Chenle akan berusaha melindungi Karamel pah. Chenle akan lakukan apapun untuk Karamel."
"Mana buktinya ?" Johnny terus memojokkan Chenle dan memberinya pertanyaan-pertanyaan yang mengecoh.
Chenle menarik nafas panjang. Dia menatap ke arah lantai 2 tepatnya ke arah pintu kamar Karamel berharap gadis itu tidak akan mencuri dengar.
"Aku rela melepaskan perusahaan demi Karamel."
Kening Johnny bertaut. Lelaki itu terlihat sangat serius pada awalnya namun tiba-tiba dia tertawa dengan kepala mendongak keatas.
"Bodoh !!" Katanya sarkastik.
"Baru pertama kali aku bertemu dengan manusia bodoh macam dirimu...." Johnny masih tergelak.
"Kalau kau merelakan perusahaannu, lalu mau kau kasih makan apa putriku ? Jangan dikira aku akan merelakan putri kesayanganku untuk hidup bersama pengangguran."
"Y-ya..yaa.... Ga punya perusahaan bukan berarti Chenle miskin pah. "
Johnny berhenti tertawa. Tatapan matanya pada Chenle berubah menilai.
Dari tatapannya saja Johnny bisa tau kalau Chenle tak setenang kelihatannya, dia sedang gusar tapi Chenle menutupinya dengan baik.
"Kalau kau si bungsu dari keluarga Zhong berarti Kinghead adalah perusahaanmu kan? Kudengar perusahaan itu sudah di akuisisi oleh kerabatmu dan ceo-nya diberhentikan paksa. "
Chenle sedikit terkejut, tidak menyangka kalau Johnny tau tentang berita itu. Chenle pikir dengan membawa Karamel ke Chicago maka dia bisa menyimpan pemberhentiannya sebagai rahasia. Namun tampaknya berita pemecatannya itu juga sampai ke media Chicago.
"Harusnya kamu ga mencampur adukkan antara urusan pribadi dengan perusahaan, tapi jika aku jadi kau mungkin aku akan mengambil jalan yang sama. "
Johnny menunduk untuk mengambil cangkir kopi nya yang terabaikan. Lelaki itu menghirup aroma kuat dari hasil gilingan arabica sebelum menyesapnya dengan hati-hati.
"Sayangnya aku bukan kau, aku adalah ayah dari gadis yang kau nikahi. Tentunya aku akan menentang hubungan kalian."
Chenle tertawa kali ini. Bukan tawa yang keras, tawa itu lebih terdengar seperti tawa yang meremehkan.
Baginya Johnny sangat berbelit-belit, dia memutar keadaan dan membuat mood nya naik turun. Johnny sangat pandai bermain kata hingga Chenle merasa takut terjebak dalam kata-kata nya.
"Tapi sayangnya papa harus merelakan putri papa. Aku akan memaksa papa merestui hubungan kami."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena aku sudah menanam saham di perut Karamel. Pemilik perusahaan harusnya bersikap baik pada investor kan..."
Johnny meledak tertawa. Chenle sungguh di luar dugaannya. Bukannya menghindar, Chenle justru meladeni perdebatan yang sengaja Johnny buat, dan Chenle memberinya jawaban yang membuatnya tertarik. Singkat kata Johnny menyukainya. Namun dia menunjukannya dengan cara yang aneh.
"Papaaaaaa....." Chenyue berlari menuruni tangga. Diikuti Wendy yang terus berteriak untuk meminta bocah itu berhati-hati.
"Kenapa sayang?? "
Yue berlari ke arah Chenle dan naik ke pangkuannya.
__ADS_1
"Sebenarnya kakek Yue yang mana sih?? Kok semuanya masih muda?"
Chenle mengalihkan tatapannya ke arah Johnny dan memberikan Yue isyarat mata. Bocah itu terlihat takut saat menatap Johnny.
"Ahh.. akhirnya ada saatnya aku menjadi kakek huh.." gumam Johnny. Lelaki jangkung itu menegakkan tubuhnya dan merentangkan tangan.
"Sini Yue sama kakek, kita beli ice cream."
Tatapan Yue langsung berubah. Bocah itu mendadak bersemangat dan berlari menghampiri Johnny.
"Ayo kek.. Yue mau beli 3 ya..."
"Kita beli sama kulkasnya sekalian yaa..."
Johnny menggendong Yue di lehernya. Kakek dan cucu yang terlihat tidak singkron itu akhirnya pergi keluar.
Wendy masih disana, dia tersenyum dan menatap Chenle.
"Karamel hamil ya ? "
Chenle mengangguk. Dia terlihat sungkan berhadapan dengan Wendy yang lemah lembut.
"Kau harus jaga dia hmm.. dia itu putri kesayangan tuan Suh."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karamel sedang menonton tv saat Chenle masuk ke kamar. Ini adalah pertama kalinya bagi Chenle masuk ke kamar Karamel.
"Habis di interogasi papa???" Karamel menoleh pada Chenle.
Lelaki itu terlihat mencari-cari ponselnya di dalam tas.
"Iya. Papamu menakutkan."
Chenle balas menatap Karamel dengan wajah datarnya.
"Oh pantesan."
"Oh ya, Kakakmu menelepon."
Karamel tidak tau kenapa Chenle terlihat sangat terkejut dan sedikit panik. Lelaki itu langsung buru-buru mengecek ponselnya.
"Kamu angkat???"
Karamel menggeleng.
"Mana berani aku angkat telepon dari keluargamu. " Karamel menatap Chenle lagi. Laki-laki bermarga Zhong itu terlihat sangat serius saat memeriksa ponselnya.
"Ada masalah ya?" Tebak Karamel.
Chenle langsung menggeleng. Dia mematikan ponselnya dan berjalan menaiki ranjang.
"Ga ada. Oh ya, besok kita periksa ke rumah sakit yah."
"Buat apa?"
Karamel menggeser tubuhnya agar Chenle bisa berbaring di sebelahnya. Lelaki itu memeluk Karamel dari samping sang mengelus perutnya.
"Mau lihat adiknya Yue lah.."
Karamel baru saja akan menjawab ketika ponselnya yang dia letakkan di bawah bantal berdengung. Karamel melihatnya dan membaca nama orang yang melakukan panggilan telepon dengannya.
__ADS_1
"Pak Yangyang? Tumben telepon kesini."
Chenle melotot. Dia langsung merebut ponsel itu dari tangan Karamel. Chenle buru-buru bangun, tatapannya tidak fokus, bola matanya mengarah ke segala arah seperti seseorang yang sedang panik.
"E-ehh... Aku ada perlu sama Yangyang sebentar. "
Tanpa menunggu jawaban Karamel, lelaki itu keluar kamar. Chenle membawa ponsel Karamel sejauh mungkin dari rumah agar tidak ada seorang pun yang mencuri dengar.
Lelaki itu berhenti ketika dia sudah mencapai halaman belakang rumah keluarga Suh.
"Kenapa telepon terus sih???" Chenle menyambut Yangyang dengan gerutuannya. Namun bukan suara Yangyang yang dia dapati melainkan suara Suho- papanya.
"Zhong Chenle..."
Yang Chenle tau papanya adalah sosok yang lembut dan jarang marah, namun mendengar suara tegas pria itu sekarang membuat Chenle bisa membaca kalau Suho tidak dalam mood yang baik.
"Aku tidak akan ikut campur dalam urusan perusahaanmu karena memang itu sesuatu yang kau bangun sendiri, tapi aku kecewa...."
Suho memberi jeda namun Chenle tidak ingin menyela. Dia akan mendengarkan papanya sampai akhir.
"Bisa-bisanya kau menyerah begitu saja dan kabur."
"Chenle ga kabur pah." Elaknya. Lelaki itu menghela nafas gusar.
"Chenle cuma mau ngamanin Karamel. Lagipula Chenle juga punya rencana. "
Helaan nafas Suho terdengar seperti
Hembusan angin yang berbisik di seberang telepon.
"Kamu dimana sekarang ?"
"Chicago."
"Di rumah orang tua Karamel?"
"Iya."
Suho diam selama beberapa saat. Mungkin dia sedang berpikir, karena Chenle tak lagi mendengar nafas gusarnya.
"Kamu punya uang?"
"Punya." Jawab Chenle cepat. Namun detik berikutnya dia meralat jawabannya.
"Sedikit." Tambah Chenle.
"Itu anak orang mau kamu kasih makan apa hmm??? Papa transfer uang ya.."
Chenle langsung buru-buru menjawab.
"Ga usah pah.. uang ini cukup. Lagian Chenle mau nyoba cosplay jadi orang miskin sesekali."
"Haaaahhhh.... Punya anak bungsu kok agak ga waras gini sih. Yasudah, jaga istrimu baik-baik, telepon papa kalau butuh bantuan."
Suho memberi isyarat kalau dia akan menutup sambungan teleponnya namun Chenle menahannya.
"Tunggu... Sebenernya ada satu sih yang mau Chenle minta dari papa... "
"Katakan."
"Itu......"
__ADS_1
BERSAMBUNG.....