Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Setan Pengganggu


__ADS_3

"Apa kakek ga tau? Bibi Ye berusaha menjebakku." Chenle menatap kakeknya penuh harap. Dia pikir pria tua itu akan mengerti tapi nyatanya dia bertindak acuh tak acuh.


"Kakek tau. Tapi bukankah kehamilan Shuhua bisa jadi alasan yang tepat untukmu menceraikan gadis itu?"


Rahang Chenle mengeras dengan tangan terkepal di atas meja. Sungguh... apa tidak ada satupun anggota keluarga yang berada di pihaknya sekarang?


Kenapa semua orang begitu ingin dirinya menikahi Shuhua?


"Chenle ga akan menceraikan Karamel apapun yang terjadi."


Kakek Chenle tidak tampak terkejut, sepertinya dia memang sudah memprediksi ini. Lelaki tua berambut hampir botak itu duduk tenang dengan seputung rokok yang masih mengepulkan asap.


Dia tidak terburu-buru menjawab, tidak juga terlihat gusar seolah susunan rencana itu sudah berjajar rapi di dalam kepalanya.


"Bibimu itu salah satu anggota dewan paling berpengaruh di China. Bekerjasama dengannya akan jadi poin menguntungkan untuk perusahaan keluarga, baik itu perusahaan kakek ataupun perusahaanmu."


Chenle tertawa meremehkan, lelaki itu menekan pelipisnya selama beberapa saat dan tampak berhati-hati ketika menjawab.


"Kenapa kakek sangat mengkhawatirkan Kinghead? Perusahaanku baik-baik saja tanpa bibi Ye."


"Aku memilihkan jalan terbaik untukmu..."


"Chenle sudah dewasa kek. Chenle yang mendirikan perusahaan itu dan membesarkannya sendiri. Chenle ga butuh pengaruh bibi Ye untuk perusahaan."


Kakek Chenle menegakkan tubuhnya. Urat-urat di pelipisnya terlihat menegang karena emosinya yang mendadak tidak stabil.


"Jangan sombong Zhong Chenle. Kau pikir aku tidak bisa mendepakmu dari perusahaan? "


"Lakukan saja kalau itu memang kemauan kakek. Chenle akan melepaskan perusahaan tapi Chenle ga akan melepas Karamel."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Chenle gusar. Meskipun dia berusaha menenangkan diri tapi tidak bisa di pungkiri jika dirinya sedikit stress karena berbagai tekanan.


Sudah lama sekali sejak terakhir kali Chenle merokok. Dulu Melisa akan selalu mengomel ketika Chenle merokok, namun saat ini dia tidak punya pilihan lain. Chenle stress dan dia butuh sedikit nikotin untuk menenangkan diri.


Dia tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini, dia tidak mau Karamel melihatnya begitu menyedihkan.


"Mau minum?" Yangyang menyenggol lengan Chenle dan menawarinya sekaleng bir dingin, tapi Chenle menolak.


"Aku ga mau pulang dalam keadaan mabuk, bagaimana jika Yue melihatku mabuk?"


"Aahhh..." Yangyang mengerti itu. Lelaki itu duduk di hadapan Chenle dan berbagi sebungkus rokok yang Chenle beli.


"Apa rencana mu?" Yangyang membuka suara. Asap rokok keluar dari mulutnya ketika lelaki itu bicara.


" Ga ada."


"Kau gila? Bagaimana kalau Mosi pemecatanmu benar-benar disetujui?"


Chenle tertawa hambar. Tidak terlihat sama sekali semangat yang tersisa di wajahnya.


"Biarkan saja."


"Zhong Chenle !!"


"Majulah sebagai pengganti ku. Setidaknya jika itu kau aku rela melepas Kinghead."


Yangyang menatap Chenle dengan serius. Meskipun Chenle menawarinya sebuah peluang bagus tapi lelaki itu tidak ingin menusuk saudaranya dari belakang. Lagipula menjadi CEO itu melelahkan bagi Yangyang. Dia tidak terlalu suka pekerjaan yang serius seperti ini.

__ADS_1


"Kau serius?"


Chenle mengangguk.


"Ga perlu banyak rencana, aku membesarkan Kinghead dengan kemampuanku sendiri, jadi... Aku akan melihat apakah mereka bisa membuat Kinghead bertahan atau tidak. "


Chenle tertawa ketika melihat wajah linglung Yangyang. Sepertinya lelaki itu masih belum paham maksud perkataannya. Tapi... Siapa peduli, Chenle tidak mau banyak berpikir untuk sekarang.


"Aku mau pulang." Kata Chenle. Dia beranjak dari kursi outdoor minimarket dan merenggangkan tubuhnya.


"Kenapa buru-buru? Ngobrol dulu lah.."


"Yaa... daripada menemanimu ngobrol aku sih lebih milih pulang terus cuddle sama Karamel. "


"Cih... Dasar bucin."


Chenle terkekeh, lelaki itu memberi Yangyang isyarat mata kalau minimarket yang mereka datangi ini akan segera tutup.


Chenle pergi lebih dulu meninggalkan Yangyang yang belum mau pergi. Lelaki itu tiba di rumah pukul 11 malam. Yue sudah tidur begitu juga dengan Karamel.


Chenle mengambil kesempatan ini untuk mandi dan menghilangkan bau rokok yang mungkin masih menempel di tubuhnya. Namun ketika dia kembali dari kamar mandi, Karamel yang sebelumnya terbaring di ranjang mendadak hilang.


Chenle segera keluar dari kamar untuk mencarinya. Lalu dia tersenyum ketika mendapati Karamel yang tengah memakan sepotong sandwich di depan televisi.


"Lapar tengah malam lagi hm??" Chenle menghampiri Karamel lalu mengikuti gadis itu yang duduk di atas karpet bulunya.


"Iya, aku ga tau kenapa aku lapar terus akhir-akhir ini."


Chenle tersenyum. Dia merapat ke arah Karamel dan meletakkan kepala besarnya di bahu gadis itu. Tangan Chenle terulur untuk mengusap perut Karamel sembari berujar...


"Apa disini ada adiknya Yue ya.. jadinya lapar terus??"


"Kenapa?" Tanyanya.


Karamel hanya bisa menggeleng cepat namun tatapan khawatirnya masih bisa Chenle lihat. Gadis itu seperti mengkhawatirkan sesuatu sekarang.


Chenle bisa mendengar Karamel yang menghela nafas, lalu perlahan mendekatkan tubuhnya ke arah Chenle dan mulai mengendus.


"Kamu ngerokok?"


"Iya."


Karamel tidak marah tapi dia juga tidak terlihat senang. Gadis itu memandangnya dengan alis bertaut.


"Kenapa? Lagi stres yah?"


Chenle tidak bisa lagi berkilah. Sepintar apapun dia menutupinya Karamel akan tetap tau. Gadis itu pintar dan dia mengenalinya dengan baik.


"Masih ga mau cerita?"


Chenle tidak menjawabnya dengan jawaban yang Karamel harapkan. Lelaki itu mengusap kepala Karamel dan tersenyum tipis.


"Maaf." Gumamnya.


Karamel mengerti itu dan dia tidak akan memaksa Chenle untuk bicara.


"Kau tau, ada hal lebih baik yang bisa menghilangkan stres bahkan jauh lebih baik dari satu linting nikotin."


Chenle membalas tatapan Karamel. Gadis itu tidak terlihat sedang kesal tapi nada bicaranya terdengar aneh. Mungkin Chenle harus berhati-hati dalam memilih setiap katanya agar Karamel tidak salah paham.

__ADS_1


"Apa?" Dan memutuskan mengikuti alur obrolan Karamel ternyata menjadi sesuatu yang menarik untuknya.


Entah apa yang sedang Karamel pikirkan, gadis itu bukannya menjawab tapi dia malah bergerak mendekat. Dia menunduk dengan kepala yang sedikit miring. Setelah itu Chenle bisa merasakan sebuah kecupan yang menggelitik di lehernya.


"Mel..."


"Hmm??" Karamel tidak terlihat bersalah sama sekali. Oh.. kemana perginya Karamel yang tersipu dan malu-malu?


"Kamu kan tau pengendalian diriku itu buruk."


"Iya aku tau."


"Kamu coba menggodaku ya?"


"Menurutmu?"


Karamel mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan yang menantang.


Gadis itu meraih kedua pipi Chenle dengan sentuhan jemarinya yang lembut. Lalu mulai mendaratkan sebuah ciuman yang basah di bibir Chenle.


Tangan nakal Karamel bergerak turun dan menggambar sebuah pola abstrak di dada Chenle sebelum benar-benar meloloskan kancing kemejanya.


Chenle melenguh dalam *******-******* yang mulai dia balas. Ujung jemari Karamel terasa menggelitik di dadanya dan membuat permukaan kulitnya meremang.


Chenle menggeram dan meletakkan lengannya di belakang tubuh Karamel. Dalam satu tarikan cepat lelaki itu memindahkan tubuh Karamel ke atas pangkuannya.


Ciuman mereka terlepas namun jeda itu tak membuat gairah mereka surut. Chenle bisa melihat nyala api dalam tatapan Karamel. Dan itu membuat irama jantung Chenle berdetak tidak karuan.


Chenle sepertinya mulai paham, bahwa Karamel yang malu-malu itu hanya permulaannya saja, bahkan di alam bawah sadarnya pun Karamel suka bertindak agresif.


Sekarang dia benar-benar percaya kalau gadis pemalu itu bisa bertindak di luar dugaan. Seperti yang Karamel perbuat sekarang. Dia akan segera melewati batas dengan bergerak gelisah di atas pangkuan Chenle dan membuat lelakinya menggeram karena gesekan di area vitalnya.


Chenle benar-benar di buat gila sekarang. Dengan nafas memburu dan tangan yang tergopoh-gopoh melucuti piyama Karamel hingga membuat beberapa kancingnya lepas dan juga celananya nyaris robek.


Karamel menahan nafas ketika Chenle mulai mengecup sepanjang pundaknya dan merasakan sensasi menyenangkan dari sentuhan jemari Chenle di tubuhnya.


Gadis itu menunduk, membuka Kancing celana Chenle dengan tergesa dan hasrat menggebunya justru membuat itu semakin sulit.


"Chenle.."


Chenle terkekeh pada tatapan frustasi Karamel yang baru pertama kalinya dia lihat. Gadis itu tidak pernah seperti ini sebelumnya bahkan ketika dia diselimuti kabut nafsu sekalipun.


"Behenti tertawa." Protes Karamel.


"Iya-iya."


Chenle membantu Karamel melepas celananya sendiri lalu menuntun gadis itu untuk duduk lebih rendah ke arahnya.


Hal berikutnya yang Karamel tau ketika Chenle mulai menggeram saat berhasil memasukinya. Kemudian.....


"MAMAA!!!! HUAAAAAA!!! "


"OH **** !!"


Chenyue berteriak histeris dari ambang pintu kamar dengan memeluk boneka beruang kesayangannya. Bocah itu pasti terbangun karena suatu hal dan menginginkan Karamel ada di sampingnya sekarang.


Adegan panasnya terpaksa di tunda, dan tubuh tegang Chenle akan segera di campakkan sekarang.


"Aarrghhh sial!! Dasar setan kecil pengganggu."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2