Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Zhong Newborn


__ADS_3

"Aku merelakan kakakku bersamamu, aku pikir kau akan benar-benar menjaganya tapi ternyata aku salah."


Mark bersandar pada kursi tunggu. Dia bicara dengan tenang meskipun nada bicaranya sangat menusuk.


"Aku minta maaf, aku ga akan membela diri karena aku tau aku salah." Chenle menunduk dalam. Wajah penyesalannya begitu mendominasi.


Dia juga sudah sadar betapa bodohnya dia yang meninggalkan istrinya seorang diri dalam keadaan hamil tua dan malah memilih menemani wanita lain. Lebih bodohnya lagi kesalahan ini sudah pernah dia lakukan di masa lalu.


Harusnya dia bisa belajar dari kesalahannya dan bukannya malah mengulangi kesalahan yang sama.


"Sudahlah, aku juga ga tau rasanya di posisimu. Lebih baik kau urus kesalahanmu, aku ga mau kakakku sedih."


Karamel sudah dipindah ke ruang rawat inap VVIP, Chenle lah yang memesan ruang terbaik di rumah sakit ini. Gadis itu masih tidur sekarang, Karamel pasti sangat kelelahan.


Seorang perawat datang dengan menggendong seorang bayi. Chenle langsung berdiri untuk melihat bayinya.


"Tuan Zhong??" Tanya perawat itu. Chenle mengangguk.


"Anda bisa membangunkan ibunya untuk memberi asi." Kata perawat itu.


"Ehh.. mm.. apa bisa di beri susu formula dulu? Ibunya masih tidur karena kelelahan."


Perawat itu tersenyum dan mengangguk. Dia menyerahkan bayinya kepada Chenle selagi dia mengambil susu di ruang bayi.


"Wah.. dia mirip Yue." Mark ikut mendekat dan melihat wajah keponakannya.


"Iya. Sangat mirip." Chenle tersenyum, menatap wajah malaikat kecilnya yang sedang tertidur.


Chenle membawa bayinya ke dalam ruangan setelah dia mendapatkan sebotol kecil susu formula. Mark juga berpamitan pulang karena dia mengantuk setelah tidak tidur sampai dini hari.


Chenle akhirnya mulai kualahan ketika putrinya terus menangis dan menolak susu formula. Bayi kecil itu menginginkan ibunya tapi Chenle tidak tega harus membangunkan Karamel.


"Mama masih tidur, kamu minum ini dulu ya sayang." Lelaki itu dengan sangat sabar menimang putrinya.


Sesekali dia menoleh pada Karamel karena takut gadis itu terbangun.


"Sssst... Jangan keras-keras nangisnya nanti mama bangun." Chenle menggoyang-goyangkan tubuhnya agar bayinya tenang tapi usahanya sia-sia.


"Sayang jangan nangis dong, papa jadi bingung ini.."


Tangisan melengking itu membuat Karamel terbangun.  Gadis itu menatap Chenle yang menggendong putrinya lalu wajahnya kembali masam.


"Berikan putriku. " Kata Karamel dengan nada lemah.


Bibir Chenle langsung terkatup. Rautnya berubah sedih mendengar Karamel bicara begitu.


"Putri kita." Sanggah Chenle.


"Enggak, dia putriku, aku ibunya. "


Chenle menghela nafas dan menidurkan bayinya di samping Karamel. Gadis itu masih marah rupanya. Chenle tidak akan memprotes itu karena yang Chenle lakukan memang sudah keterlaluan.


"Mel.. aku minta maaf."


"Pergilah, jaga saja anakmu yang lain." 


"Mel..."


Ucapan Karamel benar-benar menghunusnya, menancap langsung di jantung Chenle yang sedang rapuh. Dia tidak tau harus melakukan apalagi untuk menebus kesalahannya.


"Aku harus apa biar kamu maafin aku?"

__ADS_1


Karamel tidak memperdulikannya dan fokus menyusui bayinya. Hatinya seolah sudah menjadi batu yang penuh dengan amarah. Karamel bahkan tidak tau bagaimana cara dia bisa memaafkan Chenle. Hatinya sudah terlalu sakit mengingat kelakuan Chenle.


Chenle akhirnya hanya diam, memandang Karamel yang sedang menyusui putrinya. Gadis itu juga terpejam beberapa kali karena masih terlalu lelah.


Lalu bayinya itu mulai menangis karena buang air dan Chenle dengan sigap memindahkannya.


"Biar aku saja, dulu aku merawat Yue saat bayi sendirian, aku sudah biasa dengan ini."


Karamel tidak mencegahnya, pertama karena tubuhnya masih lemas dan yang kedua jahitan di vaginanya terasa nyeri saat dia bergerak.


Karamel terbaring miring memperhatikan bagaimana Chenle dengan telaten mengganti popok bayinya lalu dia ikut tersenyum saat Chenle menggoda putrinya dan menciumi pipinya.


Bukankah ini pemandangan yang sangat manis?


Karamel hampir saja luluh tapi mengingat rasa sakit hatinya membuat dia kembali murung.


"Kamu mau coba duduk?"  Chenle menatapnya, dia tau Karamel lelah karena terus berbaring. Jahitan itu pasti membuatnya tidak nyaman.


"Sebenarnya aku mau ke kamar mandi." Kata Karamel pada akhirnya. Dia menyerah mengacuhkan lelaki itu. Seberapa besarpun rasa sakit hatinya pada Chenle, gadis itu nyatanya tetap membutuhkan Chenle.


"Ayo aku antar." Chenle meletakkan bayinya di box bayi lalu menghampiri Karamel. Gadis itu menggeleng, dengan wajah khawatir yang sangat kentara.


"Aku takut."


Chenle mengerutkan keningnya, awalnya dia tidak mengerti lalu saat dia ingat jahitan di **** * karamel dia jadi paham.


"Mau di coba dulu? Gigit aku kalau kamu kesakitan."


Karamel berpikir sesaat lalu mengangguk, itu membuat Chenle tersenyum. Akhirnya gadis itu membutuhkannya lagi.


Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya kali ini.


Chenle tidak tega melihat Karamel berjalan tertatih. Lelaki itu akhirnya menggendong Karamel sampai ke kamar mandi. Namun begitu telah sampai di dalam Karamel menolak saat Chenle hendak membuka celananya.


Karamel terlihat ragu saat akan menjawab. Dia menggigit bibir bawahnya dan bicara sedikit terbata.


"Mm.. d-dokter meninggalkan kain kasa di dalam." Katanya.


Chenle tidak mengerti.


"Di dalam mana?"


"Ms.V, itu untuk menghentikan perdarahan."


"Aaa...." Chenle mengangguk-angguk.


Lelaki itu mulai berjongkok di depan Karamel dan membantu melepaskan celananya. Karamel sedikit meringis ketika Chenle menarik gulungan kasanya yang penuh darah. Gadis itu bernafas lega kemudian.


"Sakit hmm..? "


Karamel enggan mengakui itu. Rasa sakit hatinya yang tersisa membuat gengsinya melambung tinggi. Karamel membuang wajahnya dan berjalan perlahan ke closet.


"Tunggu di luar ! "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Karamel tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Menatap Chenle yang menggendong putrinya dan mengajaknya ngobrol.


Perlahan-lahan gadis itu mulai luluh.

__ADS_1


Setidaknya Chenle sudah meminta maaf meskipun itu tidak sepenuhnya menghapus rasa sakit hati yang Karamel rasakan. 


Gadis itu mulai berpikir haruskah Karamel memberikan kesempatan lagi untuk Chenle?


Karamel pun tidak pernah memikirkan untuk bercerai sebesar apapun luka di hatinya, karena dia lebih tidak sanggup lagi jika berpisah dengan Chenle.


Karamel sudah jatuh cinta sangat dalam dengan suaminya itu.


"Mau di beri nama siapa Mel? " Chenle meliriknya.


Gadis itu mengedikkan bahu.


"Kamu kan papa nya, kamu aja yang kasih nama."


Chenle tersenyum, binar di matanya kembali terang dengan genangan kecil air mata yang mengitari bola matanya. Chenle senang akhirnya dia kembali mengakui Chenle sebagai papa dari putrinya. Tidak seperti kemarin.


"Bagaimana kalau... Cherry? Zhong Cherry ?"


Karamel tersenyum simpul saat menagguk.


"Aku suka."


Seolah merespon obrolan orang tuanya, bayi mungil dalam gendongan Chenle itu terbangun dan menangis. Chenle sedikit kuwalahan ketika Cherry menggesek-gesekkan kepalanya ke dada Chenle, bayi itu sedang mencari sumber kehidupannya rupanya.


"Anak papa haus hmm?? Ayo.. ayoo papa antar ke mama yaa.."


Karamel tersenyum, dia bergerak secara perlahan untuk duduk lalu mengulurkan tangannya untuk menggendong Cherry.


Chenle duduk di samping Karamel, melihat cara gadis itu menyusui bayinya, dia tersenyum.


"Yue pasti senang punya adik cewek."


"Dia ga datang kesini?"


Chenle menggeleng.


"Mungkin besok mama bakal antar Yue pulang."


Chenle mendekatkan kepalanya ke arah Karamel. Lelaki itu mencuri sebuah kecupan di pipi Karamel lalu mulai berbisik dalam nada rendah.


"Maafkan aku Mel, harusnya aku ada buat kamu, harusnya aku ga usah pergi."


"Sudahlah." Karamel tidak mau membahas ini lagi.


Gadis itu berusaha melupakan kesalahan Chenle tapi bukan berarti luka di hatinya hilang. Karamel tetap merasakan nyeri di dadanya saat Chenle kembali menyinggung kesalahannya.


"Kamu maafin aku kan??"


"Enggak." Karamel berkata dengan nada ketus.


"Aah... Meeel... " Chenle membalasnya dengan nada manja.


Kedua tangannya melingkar di pinggang Karamel sementara dagunya dia letakkan di pundak Karamel.


"Chenle aku sedang menyusui."


Karamel menggerak-gerakkan bahunya  agar Chenle melepaskannya.


"Aku juga mau dong di susuin."


"Zhong Chenle genit !"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2