Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Rumor 2


__ADS_3

Rasa nyaman memang sering kali membuat seseorang terbuai. Itulah yang terjadi pada Karamel pagi ini.


Gadis itu merasa terlalu nyaman hingga kedua kelopak matanya enggan terbuka. Entah itu karena ranjang seharga  puluhan juta yang sangat nyaman ini ataukah karena aroma maskulin yang menguar dari tubuh seseorang.


Aroma itu begitu lembut dan memabukkan. Sebuah aroma khusus yang tercium spesial. Karena parfum seharga mobil Porsche itu hanya dimiliki oleh 1 orang saja di dunia ini. Dia adalah Zhong Chenle, pria yang tidur di sampingnya semalaman.


Ingatan akan dirinya yang tidur satu ranjang bersama Chenle membuat Karamel akhirnya membuka mata. Mengerjap beberapa kali sampai kesadarannya terisi penuh.


Zhong Chenle masih berada di sisinya. Lelaki itu tidur tengkurap dengan wajah yang menghadap Karamel.


Dia mengagumkan... Ahh.. tidak !!


Dia menggemaskan !


Bagaimana bisa seorang duda beranak satu memiliki wajah yang masih seperti bocah begini?


Karamel tersenyum lalu menguap satu kali sebelum melirik jam digital raksasa yang menempel di dinding kamar Chenle.


Karamel berkedip sekali... Dua kali... Dan di kedipan ketiga akhirnya gadis itu melotot. Mengingat kembali hal penting yang telah dia lupakan.


"Zhong Chenle... Zhong Chenle..." Karamel menggoyang-goyangkan tubuh Chenle dengan brutal.


"Hentikaaan..." Keluh Chenle.


Lelaki itu berbalik terlentang dengan mata yang masih diliputi kantuk.


"Chenle, kita terlambat." Pekik Karamel.


Gadis itu bangun dengan panik dan mondar-mandir sembari memegangi kepalanya.


"Terlambat kenapa??"


"Hey, jangan bilang kau lupa? Pagi ini ada acara Family gathering perusahaan."


"Hm.. oh iya."


Respon Chenle benar-benar tak sesuai ekspektasinya. Lelaki itu sadar kalau dia terlambat tapi dia masih bisa menguap dengan santainya.


"Ayo cepat siap-siap."


"Santai saja Mel, kau lupa aku bos nya? Mereka tidak akan berani meninggalkan kita. "


Hari ini seluruh karyawan King Head company akan mengadakan Family gathering. Mereka akan melakukan perjalanan ke tempat wisata alam yang terkenal di Shanghai.


"Lagipula kita pakai mobil pribadi kan. Biarkan saja mereka berangkat duluan pakai bus."


Berbeda dengan Karamel yang tetap panik. Chenle melakukan segala sesuatunya dengan lebih santai. Mandi tidak buru-buru, memilih pakaiannya dengan tenang bahkan dia masih sempat menikmati roti lapis yang Karamel siapkan secara dadakan.

__ADS_1


'memangnya tahu bulat saja yang bisa dibuat dadakan.' Begitu katanya.


Sesuai rencana awal Chenle, Karamel dan Chenyue berangkat bersama mobil pribadi Chenle, menyusul rombongan bus yang sudah berjalan lebih dulu sejak satu jam yang lalu.


"Papa apa kita akan pergi honeymoon?"


Karamel terkejut atas pertanyaan kritis dari tuan muda Zhong Junior itu. Gadis itu menoleh ke belakang untuk menatap Yue yang duduk nyaman di carseat nya.


"Darimana Yue dapat kata-kata itu?"


Chenle yang sedang menyetir hanya bisa melirik putranya dari kaca dashboard.


"Uncle Yangyang yang memberitahuku.  "


Oh, Yangyang lagi..


Chenle sudah sering mendapati putranya mengatakan hal aneh karena sering menitipkan Yue pada Yangyang.


"Pa.." panggil Yue lagi.


Chenle hanya bergumam dan menatap putranya dari kaca dashboard.


"Beliin Yue adik dong."


"Yue..." Untuk kedua kalinya Karamel melotot pada Yue.


Berbanding terbalik dengan Karamel, Chenle justru terkekeh mendengar permintaan putranya.


"Mah... Beliin adik ya.."


Karamel menghela nafas lalu menjawab.


"Adik itu tidak bisa di beli Yue."


"Bisanya dibikin." Celetuk Chenle.


Lelaki itu kembali melirik Karamel dengan senyumannya yang menggoda.


"Kalau gitu bikinin Yue adik mah."


Karamel mengigit bibir bawahnya, dengan alis yang menyatu dia menatap Chenle sebal. Sementara lelaki itu justru tertawa.


"Kenapa Yue tuba-tiba mau adik?" Karamel kembali menoleh kebelakang.


"Teman-teman Yue semuanya punya adik. Yue enggak."


Ini yang Karamel tidak suka dari gaya mendidik Chenle. Lelaki itu terbiasa memanjakan putranya, apapun yang teman Yue punya, Yue juga harus punya. Ini akhirnya menjadi kebiasaan buruk untuk bocah itu.

__ADS_1


"Yue..." Karamel berkata lembut.


"Kita ga bisa cuma asal mau ikut-ikutan seperti itu. Yue harus punya tanggung jawab yang besar kalau mau punya adik hmm... Dan juga... Kasih sayang Mama sama papa pasti akan terbagi, Yue mau begitu?"


Bocah itu langsung menggeleng, Chenle bisa melihatnya dari pantulan kaca.


Dia sangat paham alasannya, sejak bayi Yue hanya mendapat kasih sayangnya dan tanpa kasih sayang seorang ibu. Itu tidak akan cukup bagi balita sepertinya.


Dan sekarang saat dia baru mendapat kasih sayang seorang ibu, Yue harus berbagi???


Oh.. rasanya masuk akal jika dia menolak.


...🌱🌱🌱...


Perjalanan yang panjang dan melelahkan itu akhirnya terbayar ketika mereka sampai di resort besar di atas danau dan dihimpit tebing yang curam. Ini sungguh menakjubkan, terutama eskalator berbentuk naga yang memudahkan wisatawan menaiki tebing.


Saat Chenle datang, semua karyawan kantor sudah menunggunya di lobby. Itu membuat Chenle dan Karamel menjadi pusat perhatian.


Beberapa Karyawan bahkan terlihat berbisik-bisik ketika tau Karamel akrab dengan putra Presdir mereka. Kehebohan itu juga semakin menjadi ketika Yue merengek dan memanggilnya mama di depan umum.


Okey, untuk beberapa pegawai yang bekerja satu lantai dengan Karamel hal ini mungkin sudah biasa, tapi bagi karyawan yang tingkatannya lebih rendah, mereka jelas tidak tau.


Semua orang mengira Chenle menikahi Shuhua dan Karamel adalah selingkuhannya. Ini tuduhan yang tak berdasar.


"Oy... Na Jaemin." Chenle menyapa seorang temannya yang merupakan pemilik resort tersebut.


Mereka berjabat tangan dan saling menyapa satu sama lain.


"Semua sudah siap ? " Tanya Chenle.


"Ya, semua kamarnya sudah siap, resort sisi barat juga sudah di kosongkan dari pengunjung lain." Kata Jaemin. Lelaki itu sempat melirik Karamel sebentar lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Cantik ya dia." Lelaki itu juga memainkan alisnya untuk menggoda Karamel hingga membuat Chenle menatapnya tajam.


"Aku sudah menyiapkan kamar khusus  untuk kalian. Jangan lupa produksi adiknya Yue ya.." Jaemin kembali menatap menggoda.


"Pabriknya belum siap buat di pakai produksi." Chenle sedikit tertawa dan membuat Karamel mencubit pinggangnya.


Chenle dan Jaemin sempat mengobrol cukup lama saat pegawai resepsionis menyiapkan kunci kamar. Dan Karamel sangat tidak mau tau tentang apa yang mereka obrolkan.


Gadis itu memilih berjalan menjauh bersama Yue. Mereka menyusuri pagar di tepi danau dan melihat-lihat sekitar. Sampai pada suatu ketika....


"Kakak???"


"Loh.. Lee Haechan.. ?"


"Mama siapa dia ???"

__ADS_1


"MAMA??? Sejak kapan kau punya anak????"


Bersambung....


__ADS_2