![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Chenle meletakkan bolpoinnya ketika dia bersandar dan menatap serius pada sosok wanita berpakaian serba tertutup yang berdiri di hadapannya.
Dia adalah Yeh Shuhua, sosok yang kemarin membuat keributan di keluarganya. Gadis itu baru muncul setelah menghilang di hari pernikahannya.
"Aku minta maaf."
Chenle mengangguk, kemudian bangkit dari kursinya dan berdiri di hadapan Shuhua. Lelaki itu juga sedikit bersandar di meja kerjanya.
"Aku mengerti. Syukurlah kita tidak jadi menikah."
Shuhua menatap Chenle lalu tersenyum.
"Aku dengar kau menikahi sekertarismu?"
Chenle kembali mengangguk. Dia melipat tangannya di dada dan menatap keluar jendela.
"Ya, Yue sangat menyukai Karamel."
"Syukurlah kalau kau bisa menemukan perempuan yang baik."
Chenle kembali menatap Shuhua. Sebenarnya hubungan mereka itu tidak buruk. Shuhua adalah sepupu jauhnya dan mereka sering main bersama saat kecil.
Namun perasaan itu jelas berbeda kan? Chenle menyayangi Shuhua hanya sebagai adik sepupunya, tidak lebih. Dan Shuhua pun begitu. Dia sudah memiliki kekasih yang membuatnya nekat kabur di hari pernikahan.
"Apa kamu datang cuma mau minta maaf?"
"Ehh.. sebenarnya enggak. " Shuhua tampak sungkan mau meminta sesuatu dari Chenle. Tapi gadis itu terpaksa melakukan ini.
"Katakan saja. "
"Aku di usir dari rumah. Ibuku menjual apartemenku selain itu dia juga membekukan ATM ku. Dan juga.. aku harus membayar ganti rugi karena membatalkan kontrak iklan secara sepihak."
"Lalu?"
"Bisakah kau meminjamiku.... umm... Sedikit uang?"
"Bisa. Katakan saja jumlahnya nanti aku transfer. " Chenle berkata sangat enteng. Uang memang bukan apa-apa untuknya.
"Terimakasih, kau memang saudaraku yang paling pengertian." Shuhua tersenyum, lalu dia memeluk Chenle dengan erat.
"Katakan saja kalau kau kesulitan, aku akan membantumu." Chenle membalas pelukan itu. Sebenarnya tidak bisa di katakan membalas karena yang Chenle lakukan hanya mengusap punggung Shuhua.
Tapi sialnya disaat adegan itu berlangsung, Karamel dan Chenyue tiba-tiba masuk. Mereka berdua baru pulang dari acara di sekolah Yue dan kini tampak terkejut melihat adegan itu.
"Mel.." Chenle buru-buru melepaskan pelukan Shuhua.
"Oh.. maaf saya tidak bermaksud mengganggu." Tatapan Karamel tidak fokus. Dia menatap Chenle sesaat lalu menatap Shuhua.
"Saya akan mengantar Yue pulang." Katanya lagi. Karamel langsung keluar sambil menggandeng Yue.
"Mel..."
"Karamel.."
...💮💮💮💮...
"Mama marah?"
Yue menghampiri Karamel yang sedari tadi menemaninya bermain. Karamel memasang rel lokomotif untuk kereta mainan Yue.
Karamel beberapa kali mencoba untuk tersenyum, tapi tampaknya itu tak bisa menutupi kepekaan Yue akan rautnya yang terlihat murung.
"Enggak, kenapa mama marah?"
"Soalnya papa peluk-peluk bibi Shuhua. "
__ADS_1
"Enggak, mama ga marah sayang."
"Bohong." Yue meletakkan kereta mainannya. Menatap Karamel dengan pipinya yang menggembung.
"Kalau mama marah pukul saja dia."
Dua alis Karamel saling bertaut.
"Siapa maksudmu?"
"Papa."
Karamel terkekeh, dia mengusap kepala Yue dengan gemas.
"Mana bisa mama pukul papa Yue. Ga boleh begitu. "
"Ya habisnya papa nakal."
Bibir Karamel melengkung kebawah dan dia mengangguk. Dia setuju pada Yue. Chenle memang nakal. Bisa-bisanya sudah punya istri malah memeluk wanita lain.
Selain itu wanita yang dia peluk itu adalah calon istrinya yang sebenarnya. Apa mungkin Chenle menyesal tidak jadi menikah dengan Shuhua?
'kalau tau gitu kenapa nyuruh aku gantiin Yeh Shuhua di pernikahan? Cih!!'
"Papa pulang."
Suara di pintu masuk membuat Yue dan Karamel menoleh ke pintu. Chenle menghampiri mereka dengan menenteng jas kerjanya.
"Kenapa tadi langsung pulang ?" Pertanyaan itu dia tujukan untuk Karamel. Terlihat dari bagaimana lelaki itu menatap Karamel dengan serius.
"Ga tau pengen bolos kerja. Potong aja gajiku sehari." Jawab Karamel acuh tak acuh. Gadis itu bahkan tidak mau menatap Chenle.
"Mel.." Suara Chenle melemah. Dia duduk di sofa dan tatapannya berubah Sayu.
"Mama marah karena papa nakal." Celetuk Yue.
Entah kenapa Chenle malah tersenyum tipis lalu mengusap kepala Yue.
" Yue nonton tv di kamar dulu ya, papa sama Mama mau ngobrol sebentar."
"Apa papa mau marahin mama?"
"Enggak. "
"Janji ya? Kalau sampai papa bikin mama nangis, papa berurusan sama Yue."
Chenle terkekeh melihat tingkah jagoan kecilnya. Lelaki itu mengangkat jari kelingkingnya sebagai simbol janjinya.
"Oke." Yue langsung berlari ke kamarnya.
"Mel..."
Karamel tak mengindahkan panggilan itu. Sebenarnya Karamel ingin bertingkah biasa saja di hadapan Chenle, tapi entah kenapa dia malah semakin kesal melihat lelaki itu sekarang.
Gadis itu memilih menyibukkan dirinya mengemasi mainan Yue dan memasukkannya ke kotak mainan.
"Kamu cemburu?"
Pertanyaan Chenle terdengar seperti tuduhan di telinga Karamel. Gadis itu langsung menatapnya tidak senang.
"Enggak, buat apa cemburu, aku kan bukan siapa-siapa."
"Kamu istriku sekarang."
"Istrimu yang sebenarnya kan memang Shuhua. Aku bukan siapa-siapa."
__ADS_1
"Mel..."
Karamel kembali mengacuhkannya dan sibuk membersihkan mainan Yue. Tapi wajah ketus gadis itu sudah cukup menjelaskan pada Chenle jika wanitanya itu memang cemburu.
"Kamu pikir aku nikahin kamu cuma main-main?"
Karamel menghela nafas. Dia akhirnya menghentikan kegiatannya dan menatap Chenle lagi.
"Bukannya memang gitu ya? Kamu aja ngajakin nikah kayak ngajak main gundu."
Chenle terkekeh. Entahlah, wajah kesal Karamel begitu menghiburnya sekarang.
Karamel hendak beranjak tapi Chenle menarik lengannya hingga gadis itu terduduk di sofa.
"Mau kemana? Kita perlu bicara."
"Aku mau mandi. " Ketusnya.
"Nanti aja mandinya bareng aku."
Karamel langsung menatapnya tajam dan membuat Chenle kembali terkekeh.
"Mel, aku memang kayak ga serius pas nyuruh kamu gantiin Shuhua, tapi bukankah aku jalanin pernikahan ini dengan serius?"
"Apa bedanya? Bukannya sama aja sebelum dan setelah menikah? Itu cuma status kan? Pada dasarnya kamu cuma butuh orang buat jagain Yue."
Kali ini Chenle menatapnya dengan sangat serius. Dia bisa menangkap kekecewaan itu dari wajah istrinya.
"Kamu pikir begitu?"
"Kelihatannya emang gitu kan."
"Kamu salah."
Karamel hanya bisa diam. Dia bingung harus bagaimana lagi mengutarakan kekesalannya pada Chenle.
Bukankah argumennya ini masuk akal?
Chenle hanya membutuhkannya untuk mengurusi Yue. Bahkan Karamel sudah membantu lelaki itu mengurus Yue sebelum pernikahan ini terjadi. Dan yah... Tidak ada bedanya.
"Kamu tanya apa bedanya? Kamu mau tau? Atau kamu berharap aku memperlakukanmu dengan berbeda?"
Tatapan sinis Karamel seolah tidak terima dengan kalimat Chenle baru saja. Bisa-bisanya lelaki itu bicara seolah Karamel berharap diperlakukan lebih.
'emangnya aku ini cewek apaan.'
"Oke. Aku akan memperlakukanmu dengan berbeda sekarang. Tapi berjanjilah kamu ga akan marah setelah itu. "
Chenle melihat Karamel masih berusaha mencerna kata-katanya. Tapi lelaki itu tak akan menunggu sampai Karamel paham.
Chenle menarik pinggang Karamel merapat lalu meraih dagu gadis itu agar menghadapnya.
Chenle mendekat, membuat kening mereka saling bertubrukan dan ujung hidung yang saling bersentuhan membuat Karamel panik seketika.
"Ma-mau apa kau??"
"Kenapa panik? Bukannya ini yang biasa dilakukan pasangan suami istri?"
"Jangan sembarangan ya Zhong Chenle."
"Kamu bilang mau tau bedanya? Dulu kamu cuma ngurusin kebutuhan Yue, sekarang kamu juga harus ngurusin kebutuhanku dong, termasuk kebutuhan 'itu'." Chenle menyeringai. Rupa nya seperti iblis jahat yang tengah mengincar manusia lemah.
"Jangan seenaknya ya, ZHONG CHENLE !!!"
"ZHONG CHENLE !!!!"
__ADS_1
Bersambung....