Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Bermain Licik


__ADS_3

"Ini Winwin, ahli IT terbaik papa." Suho menautkan jari-jemarinya dan menatap putranya dengan tenang.


"Oke."


"Kamu yakin cuma butuh ini? "


"Iya pah."


Suho diam. Dia menarik nafas dalam lalu menatap putra bungsunya.


"Kakakmu bisa membantumu mengajukan gugatan."


Kali ini giliran Chenle yang menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Wajahnya tampak lelah namun pikirannya jauh lebih lelah.


Tanpa Chenle tau keadaan di Beijing berubah sangat runyam ketika Chenle pergi ke Chicago. Tidak hanya perusahaannya saja yang kacau tapi reputasinya juga hancur.


Bibi Ye menyebarkan rumor palsu tentang Chenle yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Shuhua dan malah menikahi gadis lain.


Rumor itulah yang bibi Ye pakai untuk menggiring opini publik dan mengemis empati dari para investor. Pada akhirnya bibi Ye bisa meyakinkan para investor untuk mengajukan penggantian CEO.


Posisinya bertambah kuat dengan dukungan kakek Chenle sebagai dasar pondasi kelicikannya.


"Percuma saja, kakek akan mempengaruhi para investor. Sebagian besar investor ada di pihak kakek."


"Kau takut mengajukan gugatan? Apa kau benar-benar putraku???"


Suho menegakkan tubuhnya lalu bersandar dengan lebih santai pada sandaran sofa.


"Perasahaan itu milikmu, kau foundernya dan kau juga yang membesarkannya. Tidak ada seorang pun yang pantas merebut itu darimu." Suho menatap wajah putranya. Masih tampak keraguan dari wajah Chenle.


"Papa akan urus gugatannya, kamu urus masalah Shuhua dan Karamel. "


"Papa merestui hubunganku dengan Karamel?" Tatapan Chenle tampak kosong. Terlalu banyak masalah dalam kepalanya hingga membuatnya merasa pening.

__ADS_1


"Baik Shuhua maupun Karamel aku menyukai keduanya, hanya saja... Untuk bersama Chenyue aku lebih percaya pada Karamel."


Senyuman Chenle perlahan terbit meskipun itu sangat tipis. Setidaknya di antara semua masalah yang menimpanya, Chenle masih punya orang yang berdiri di sisinya.


"Aku akan menemui Chenyue." Chenle berdiri dari kursinya dan memberi salam pada Suho sebelum dia pergi.


Lelaki itu berjalan perlahan menyusuri koridor lantai 7 kantor milik papanya. Dinding-dinding kaca yang Chenle lalui membuat lelaki itu memperlambat langkahnya. Chenle menatap keluar ke arah jalanan kota yang terlihat kecil di bawah sana.


Chenle berhenti dan melamun, memikirkan jantungnya yang terasa nyeri setiap kali dia merindukan Karamel.


Mengenai permintaan Karamel tentang perceraian itu, Chenle benar-benar tidak sanggup melakukannya. Lelaki itu terlalu rapuh pada rasa kehilangan dan terlalu takut memikirkan dia akan kehilangan.


Chenle terkekeh pelan, memikirkan kalimat terakhir yang Karamel ucapkan padanya di malam mereka bertengkar.


"Bodoh ! Gimana bisa dia nyuruh suaminya nikahin cewek lain."


Chenle kembali menghela nafas lalu melanjutkan perjalanannya, namun baru beberapa langkah dia berjalan, ponselnya berdering sangat nyaring. Lelaki itu mengeluarkan benda itu dari saku celananya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kun benar-benar mengajukan gugatan atas di berhentikannya CEO Kinghead. Meskipun pemberhentian ini berdasarkan voting para investor namun tetap saja Kun bisa mencium segala kecurangan dalam pengambilan suara saat rapat umum.


Alasan pemecatan CEO terlalu mengada-ngada dan tidak masuk akal.


Selain itu pasca berhentinya Chenle dari kursi CEO, saham Kinghead langsung anjlok. Para investor pun ramai-ramai mengajukan protes.


"Bibi Ye tidak bisa melakukan apa-apa karena pemilik saham tertinggi tetaplah Zhong Chenle. Dan pemilik kedua tertinggi ada di tangan Yangyang." Kun menatap Chenle dengan dahi berkerut, sorot matanya tampak ragu, dia kembali bertanya,


"Yangyang di pihak kita kan?"


"Ya, sampai saat ini dia masih orangku." Kata Chenle.


"Bagus, kita bisa membuat gugatan untuk melakukan rapat ulang, pengaruhi dewan direksi untuk membuat penolakan pergantian CEO." Johnny membuka suara.

__ADS_1


"Dalam sebuah perusahaan harusnya tidak sah memberhentikan CEO tanpa persetujuan pemilik saham terbesar. Dan kau..." Johnny menunjuk Chenle.


"Kau tidak hadir saat rapat direksi."


Ini adalah rencana tak terduga yang akhirnya Chenle ambil untuk melakukan serangan balasan. Yaitu dengan masuknya Johnny sebagai tim pengacaranya. Lelaki bermarga Suh itu adalah pengacara hebat yang sangat terkenal di Eropa dan Chenle baru tau itu.


"Kurasa peluang kita untuk menenangkan gugatan cukup besar."


"Jadi kita sepakat tuan Suh?" Kun tersenyum saat menatap Johnny.


"Aku setuju, tapi bayaranku tidak murah." Johnny memasang wajah angkuh khasnya.


Chenle pun angkat bicara,


"Aku akan membayar berapapun yang papa minta."


"Sayangnya bukan uang yang ku mau." Jawab Johnny. Tatapan tajamnya tak terlepas dari Chenle.


"Aku mau kau menjaga putriku dan tidak meninggalkannya. Kurasa itu bayaran yang setimpal."


Chenle tersenyum tipis, lalu mengangguk lemah.


"Kita akan sedikit bermain licik untuk mempengaruhi pilihan suara investor lain dalam voting.  Mungkin ini akan menyakiti Shuhua, tapi kita tidak punya pilihan lain, pihak Shuhua yang lebih dulu menghancurkan nama baikmu. Balas dendam rasanya cukup adil. " Jelas Kun. Lelaki itu memanggil Winwin melalui pesan singkat.


Winwin datang 5 menit kemudian dengan sebuah flashdisk yang dia letakkan di atas meja.


"Nona Shuhua benar-benar tidur dengan kekasihnya malam itu. Anak yang dia kandung bisa di pastikan hasil dari hubungan mereka."


Johnny tersenyum licik,


"Ini akan jauh lebih mudah dari perkiraanku. Kita akan menang telak dalam gugatan besok. Ahh...  iya.. Chenle. Bawa Mark bersamamu, dia akan banyak membantu."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2