![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Karamel sudah di perbolehkan pulang setelah 2 hari di rumah sakit. Gadis itu sudah bisa tersenyum dan mau bicara dengan Chenle. Hanya saja Chenle masih merasa ada yang berbeda, Karamel tidak sebawel biasanya. Dia lebih banyak diam dan jarang mengajak Chenle bicara.
Mendadak Chenle jadi merindukan ketika gadis itu bertingkah manja saat masih hamil. Chenle tertunduk dan tersenyum miris. Saat itu dia benar-benar kesal dan menganggap Karamel bertingkah berlebihan. Namun ketika kondisinya berbanding terbalik seperti ini Chenle justru merindukan saat-saat itu.
"Biar aku aja." Chenle mendekati Karamel yang baru saja memandikan Cherry.
Chenle mengambil popok dan pakaian bayi di rak lalu menghampiri putrinya yang terbaring. Karamel tidak mengatakan apapun, dia membiarkan Chenle melakukan apa yang dia mau sementara dirinya duduk diam dan sedikit melamun.
Chenle sempat meliriknya. Memang benar mereka tidak terlibat adu mulut atau saling mendebat seperti tempo hari. Karamel juga sudah tidak memakai nada ketus padanya, tapi diamnya gadis itu juga membuat Chenle merasa tidak enak. Chenle masih di hantui perasaan bersalahnya.
Lelaki itu menggendong Cherry setelah selesai dia pakaikan baju, lalu meletakkan bayi mungil itu di box nya.
Chenle lalu menghampiri Karamel, dia duduk di samping gadis itu dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Tolong jangan diam seperti ini."
Karamel hanya diam, dia tidak membalas pelukan Chenle.
"Kenapa? Bukannya kamu ga suka aku cerewet? Kamu juga ga suka cewek manja kan. Ga ada yang bisa kulakukan selain diam."
"Maaf." Hanya itu yang bisa Chenle katakan. Entah sudah berapa kali Chenle meminta maaf tapi tampaknya ini masih sulit di terima Karamel.
Lelaki itu kemudian tertawa pelan, menertawai kebodohannya sendiri.
"Aku suami yang buruk ya? Aku sama sekali ga bisa ngertiin kamu. Aku terlalu egois."
"Chenle.."
"Gapapa kamu marah, aku tau kesalahanku sudah keterlaluan. Kamu mau ngomel setiap menit pun bakal aku terima, tapi tolong jangan diemin aku, dan jangan nyuruh aku pergi.. aku ga sanggup Mel." Chenle memeluk Karamel lebih erat dan menciumi kepala Karamel.
Chenle bisa mendengar Karamel mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Kedua tangan Karamel akhirnya bergerak, dia membalas pelukan Chenle dan itu membuat Chenle tersenyum.
"I love you."
"PAAPAA.. MAAMAA...."
Suara melengking seorang bocah menginterupsi 2 orang yang baru saja akur.
Yue masuk dengan sebuah boneka beruang besar yang dia peluk.
"Yue.." wajah Karamel langsung cerah ketika melihat Yue. Dia merentangkan tangannya untuk memeluk Yue.
Sudah beberapa hari gadis itu tidak bertemu jagoan kecilnya dan itu membuatnya sangat rindu.
"Wah..wah.. baru aja punya bayi udah mau pacaran lagi." Irene mengintip dari ambang pintu dengan tangan penuh bingkisan dan hadiah.
"Mama.." Chenle berdiri, sedikit terkejut pada kedatangan Irene. Dia pikir Irene hanya akan menitipkan Yue pada supir untuk di antar pulang ternyata dia yang mengantar cucu nya sendiri.
"Ada papa sama kakek tuh diluar."
Kedua mata Chenle terbelalak, lelaki itu menoleh untuk menatap Karamel dan ternyata gadis itu sama terkejutnya dengannya.
"Ke-kenapa kakek kesini?"
__ADS_1
"Mau lihat cicitnya lah." Irene meletakkan bingkisan-bingkisannya di meja lalu mendekat ke box bayi.
Sebelum itu dia sempat melirik Karamel dan mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu.
"Tenang, kakek sudah jinak sekarang."
"Ayo keluar."
"Papa gendong~" Yue merentangkan tangannya pada Chenle.
Lelaki itu menunduk untuk menggendongnya lalu menggenggam tangan Karamel. Gadis itu tegang, tangannya terasa dingin dan berkeringat. Chenle meliriknya sekali lagi.
"Jangan takut, ada aku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hal mustahil yang bahkan tidak pernah Karamel bayangkan dalam mimpinya sekalipun kini bisa dia lihat di depan matanya.
Keluarganya berkumpul bersama keluarga besar Chenle. Mereka mengobrol dan tertawa seolah mereka adalah keluarga sebelumnya, padahal beberapa bulan yang lalu sempat terjadi ketegangan di antara pihak Karamel dan pihak keluarga besar Chenle.
Karamel tidak tau kapan papa nya tiba di beijing dan tidak pernah ingat kalau pria pimpinan keluarga Suh itu bisa mengobrol begitu akrab dengan papa dan kakek Chenle.
Gadis itu tidak bisa berbaur karena terlalu bingung dengan apa yang terjadi. Dia hanya bisa membuat kontak mata dengan Johnny lalu pria itu mengedipkan sebelah mata padanya.
"Aku ketinggalan apa?" Karamel bertanya dengan wajah datar.
Dia masih menatap tidak percaya pada sekumpulan orang yang menggelar makan bersama di ruang tamu apartemen Chenle.
"Papa membeli saham perusahaan keluarga Zhong." Kata Haechan. Karamel langsung menatapnya.
"Beberapa bulan lalu, dia mendekati musuhnya dengan sangat baik dan akhirnya bisa menjadikannya sekutu." Haechan menatap Karamel lalu tersenyum.
"Beginilah cara papa melindungi putrinya, dia rela terlibat hutang besar untuk kerja sama ini."
"Apa? Hutang?" Karamel melotot.
Seorang Johnny Suh punya hutang? Okey memang benar Johnny hanya seorang pengacara, tapi dia tidak semiskin itu sampai rela berhutang. Berapa banyak saham yang dia beli dari keluarga Zhong sampai-sampai dia harus berhutang?
"Iya, suamimu kan kaya, jadi bisalah sedikit-sedikit bayar hutang keluarga kita." Haechan memainkan alisnya dan tersenyum jahil.
Laki-laki itu lalu pergi mendekati meja makan, dia juga mengobrol dengan Yangyang seolah mereka itu teman lama padahal baru kenal.
"Karamel ayo makan." Ajak Irene. Karamel hanya mengangguk dan tersenyum sebagai balasan. Gadis itu tetap duduk di sisi ruang tamu dan belum bisa berbaur. Shuhua tiba-tiba menghampirinya.
"Bisa kita bicara?" Dia bertanya dalam nada lembut dan senyuman. Karamel mengangguk menyanggupinya.
"Sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengganggu rumah tanggamu.... " Shuhua memulai kalimatnya. Karamel hanya diam dan mendengarkan.
".... Malam itu aku pendarahan dan panik, aku tidak bisa berpikir dan hanya Chenle orang pertama yang ada di daftar kontakku jadi aku meneleponnya untuk minta tolong. Aku tidak tau kalau kau juga akan melahirkan jadi..."
"Iya, aku mengerti." Karamel memotongnya. Dia tidak ingin membahas ini lebih detail lagi.
"Kau memaafkan ku kan?"
__ADS_1
Tidak ada ekspresi yang tergambar jelas dari wajah Karamel. Gadis itu hanya menatap datar dan tenang seperti air.
"Enggak."
Shuhua langsung menoleh menatapnya. Dia terkejut tapi tidak marah. Dia akan berusaha menerima apapun keputusan Karamel.
"Oke aku mengerti. Kalau aku di posisimu mungkin aku juga akan kesal." Gadis itu kembali menatap kedepan. Melihat dengan fokus pada Yangyang yang sedang menggendong bayinya.
"Shuhua, dia menangis." Yangyang mendekat dan memberikan bayinya pada Shuhua.
Chenle yang juga sedang menggendong bayi berjalan mendekat.
"Kalian keliatan cocok." Kata Chenle.
Entah dia hanya sekedar menggoda atau mau mengejek yang jelas wajah Yangyang memerah mendengar itu.
"Benarkah? Gimana kalau kita nikah aja besok?" Shuhua menanggapinya. Dia tersenyum dan menatap Yangyang.
"Jangan bercanda!"
Entah kenapa respon Yangyang sangat lucu. Karamel jadi menertawainya.
"Mel.." panggil Chenle.
"Hm?"
"Cherry haus."
Karamel melihat putrinya lalu berdiri untuk mengambil alih. Dia berjalan ke kamar untuk menyusui.
"Kenapa malah ikut?" Karamel menatap sinis pada Chenle yang mengikutinya.
"Kan aku suka melihatmu menyusui."
"Dasar mesum."
Chenle terkekeh. Dia mendekat dan duduk di samping Karamel. Kedua tangannya terulur untuk memeluk Karamel dari samping. Chenle berbisik...
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena sudah mau melahirkan putri kita, karena sudah mau menjaga dan merawat Yue, karena sudah mau bertahan dengan laki-laki menyebalkan sepertiku. "
Karamel tersenyum, ini adalah kata-kata termanis yang sangat jarang Chenle ucapkan. Gadis itu menoleh menatap 2 mata Chenle yang berbinar.
"Iya."
Chenle mendekat untuk memberi Karamel sebuah kecupan.
Menatap gadis itu membuat hatinya terasa hangat. Chenle sudah bisa mengenali perasaannya bahwa rasa itu memang nyata untuk Karamel bukan karena gadis itu berperan sebagai pengganti Melisa.
Chenle memang pernah merasa kehilangan satu kali dan Karamel telah mengisi hatinya yang kosong sebagai sosoknya sendiri. Seperti sebuah potongan puzzle yang cocok berada di tempatnya.
__ADS_1
Chenle merasa lengkap memiliki Karamel. Dan tanpa dia sadari Karamel adalah segalanya bagi Chenle.