Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Hampir Saja


__ADS_3

Karamel baru saja selesai mandi, gadis itu mengenakan piyamanya di kamar mandi karena tidak memungkinkan baginya berganti pakaian di kamar.


Pria bernama Na Jaemin itu tidak menyisakan 1 kamar pribadi untuknya melainkan memberinya kamar honeymoon suit untuk dia dan Chenle.


Sebenarnya Karamel juga tidak keberatan, toh selama ini mereka juga sering tinggal bersama. Hanya saja terkadang dia masih merasa canggung dengan Chenle. Seperti sekarang saat Yue tiba-tiba menghilang dari kamar dan menyisakan dia dan Chenle saja.


"Dimana Yue?" Karamel menggantung bathrobe yang baru saja dia gunakan dan meletakkan benda itu di dekat jendela.


"Dia sedang membeli ice cream dengan Yangyang."


Karamel mengangguk, dia berjalan ke meja riasnya. Chenle memperhatikannya, lelaki itu duduk di sofa dengan kaki bersilang. Melihat cara Karamel mengenakan skincare dan body lotion.


Ketika beberapa kali dia memergoki Karamel mencuri pandang ke arahnya, Chenle jadi tersenyum tipis. Sepertinya dia sadar kalau Karamel tengah menyibukkan diri karena tidak mau terjebak kecanggungan dengannya.


"Mel."


"Hmm??" Gadis itu menoleh satu kali lalu meletakkan body lotionnya kembali ke atas meja.


"Sesekali jangan cuma Yue yang diperhatikan. "


Karamel berkedip-kedip lucu saat dia bingung. Chenle langsung menegakkan tubuhnya dan memperjelas maksud ucapannya.


"Aku kan suamimu, aku juga perlu diperhatikan. "


Karamel sedikit tertegun lalu kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia selalu malu-malu jika Chenle membahas status mereka.


"Duduk..." Chenle menepuk sisi sofa di sampingnya yang kosong.


Karamel tidak membantah kali ini. Gadis itu menghampiri Chenle dan duduk di sebelahnya.


Sofa berwarna raven ini memang tidak terlalu besar. Itu membuat jarak Karamel dan Chenle sangat dekat, bahkan kaki mereka saling bersinggungan.

__ADS_1


Sialnya Chenle tidak mengatakan apapun setelah mengajak Karamel duduk dan malah sibuk melihat pertandingan basket di ponselnya.


"Chenle..." Pada akhirnya Karamel lah yang berusaha mencari topik.


"Hm?"


"Kenapa kau memberitahu hubungan kita pada karyawan kantor?"


Chenle mem-pause siaran di ponselnya lalu menatap Karamel.


"Karena aku tidak mau mereka bicara yang tidak-tidak padamu."


"Aahhh..." Dan hanya itu respon yang bisa Karamel berikan. Gadis itu kembali diam dan canggung.


"Rambutmu bagus." Komentar Chenle. Lelaki itu memutar kepalanya untuk melihat mimik wajah Karamel yang berubah.


"Kamu cantik saat rambutmu di urai."


"Aigoo... Baru di puji gitu aja langsung merah pipinya."


Chenle mencubit pipi Karamel dengan gemas. Dan Karamel tampak tidak terima. Gadis itu menahan tangan Chenle.


"Sakit Chenle."


"Masa sih???" Chenle malah menggunakan 2 tangannya untuk mencubit kedua pipi Karamel lalu dia tertawa.


"Hentikan !! Chenle !!" Karamel mencoba menghindar lalu membalas perbuatan Chenle dengan cara menggelitiknya. Dia tau Chenle itu mudah geli.


"Hey.. curang... Aku kan tidak menggelitik." Kali ini Chenle lah yang menghindar. Dia menahan tangan Karamel dan tanpa sadar menarik tangan gadis itu dan membuat dahi Karamel membentur pipinya.


Jarak mereka yang sangat dekat membuat Chenle bisa mencium wangi shampoo yang Karamel kenakan.

__ADS_1


Karamel mengeluh karena dahinya sakit tapi sebaliknya Chenle justru tertegun menatap betapa cantiknya gadis itu saat di lihat dari dekat.


"Mel.."


Karamel yang menunduk sambil mengusap-usap dahinya langsung mendongak menatapnya.


Mereka terlibat saling tatap selama beberapa saat lalu Chenle mulai bergumam...


"Maaf..."


Belum sempat Karamel menjawab, Chenle langsung menciumnya dengan cepat. Hanya sebuah kecupan singkat di bibirnya yang membuat Karamel langsung membeku.


Ternyata Sebuah kecupan saja tidak cukup bagi Chenle. Lelaki itu memegang pinggang Karamel dengan tangan kanannya lalu menahan tengkuk Karamel dengan tangan kirinya dan dia kembali bergerak mendekat.


Karamel memejamkan matanya ketika ujung hidung mereka bersinggungan. Dan dia menahan nafas ketika Chenle mulai ******* bibirnya dengan sangat pelan.


Chenle memiringkan kepalanya dan ******* bibir Karamel semakin intens meskipun gadis itu hanya diam tak membalas. Lelaki itu sudah kehilangan kendali atas dirinya ketika Karamel mulai membuka mulutnya dan membuat ciuman mereka berubah semakin panas.


Chenle selalu ingin menjadi dominan. Lelaki itu sedikit mendorong tubuh Karamel dan hampir menindih tubuh gadis itu dengan ciuman yang tak terlepas.


Karamel menyadari kemana tujuan lelaki itu. Dan harusnya Karamel mencegah Chenle berbuat lebih tapi nyatanya gadis itu malah semakin terbuai dengan gerakan-gerakan panas yang Chenle lakukan hingga tanpa sadar dia melenguh.


Tok...tok...


Suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan mereka. Chenle membeku di posisinya begitu juga dengan Karamel. Keduanya  membuka mata dan saling menatap dengan bibir yang masih menempel.


Tok..tok...


"Mama..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2